Archive

Archive for the ‘political economy’ Category

menjadi editor tamu di Internetworking Indonesia Journal

Tuesday, 20 December 2011 Leave a comment

Kira-kira pertengahan tahun lalu (2010), Chief Editor jurnal khusus Indonesia “Internetworking Indonesia Journal” (IIJ), pak Thomas Hardjono menghubungi saya. Beliau meminta saya menjadi anggota Technical Editorial Board. Sebuah undangan yang langsung saya sambut dengan antusias (selama ini menjadi reviewer di jurnal lain – mengapa tidak untuk jurnal berorientasi Indonesia? :) ). Lantas tak lama, pak Thomas mengusulkan agar saya dan kolega baik saya, teh Merlyna Lim menjadi editor tamu untuk special issue di IIJ. Sebuah permintaan yang juga langsung saya dan Mer sanggupi.

Read more…

Masalah kota, masalah kita – rusuh kota, rusuh kita

Wednesday, 24 August 2011 6 comments

Menanggapi kerusuhan di Inggris -yang juga melanda kota dimana kami tinggal di Manchester- saya menulis catatan di bawah ini sebagai reaksi atas berbagai analisis yang gencar muncul di media. Catatan ini saya kirim ke harian Kompas 11 Agustus dan, setelah diedit sana-sini, dimuat tanggal 22 Agustus 2011 (silakan baca di sini). Sebelumnya, juga saya ‘kicau’kan di Twitter, yang diarsip rekan saya mas Suryaden di blognya (di sini).

Selamat menikmati catatan (yang lebih lengkap) ini – semoga berguna.

Read more…

menembus jurnal bintang empat: Research Policy! :)

Friday, 3 June 2011 1 comment

Bagi para skolar inovasi dan kebijakan, salah satu mimpi tertinggi adalah mempublikasikan tulisan di jurnal paling bergengsi di area ini di dunia: Research Policy. Dan syukur kepada Allah, alhamdulillah, halleluya :) tulisan saya akhirnya nongol di jurnal ini. Yeay!!! :) *lebay* Dan tentu saja, ini menerbitkan di RP ini bukan jalan yang gampang dilalui bagi saya yang masih harus belajar banyak ini. Mau tahu ceritanya?

Read more…

Social media in civil society— citizens in @ction

Saturday, 30 April 2011 1 comment

The Jakarta Post - OPINION, 30 April 2011
Yanuar Nugroho – MIOIR, Manchester
Shita Laksmi – HIVOS, Jakarta

Among many recent trends specifically in technology and civic engagement in Indonesia, two are highly salient.

One, statistics show convincingly that globally Indonesia ranks highly in terms of social media use, as home to the second-largest number of Facebook users (35.2 million) and as number four in terms of Twitter users (4.9 million). Undoubtedly, social media has become an inseparable part of life for many Indonesians.

Two, the blossoming of civic activism goes beyond the confinement of formal organizations that are organized around common interests and concerns, aiming at transforming some aspects of social life. This ranges from activism, as in the case of hundreds of thousands of people who backed Prita Mulyasari in her legal fight against Omni International Hospital, to the “Bike2Work” movement in many cities in Indonesia aiming at promoting healthier lifestyle whilst combating pollution.

Read more…

Report: Social media & civil society in Indonesia (updated)

Sunday, 3 April 2011 11 comments

DIPERBARUI/UPDATED 7/5/2011

(English version below)

Beberapa saat yang lalu saya dan mbak Shita Laksmi mempost di blog ini sebuah permintaan tolong untuk berpartisipasi dalam sebuah studi yang dilakukan bersama oleh Manchester Institute of Innovation Research (MIOIR), Universitas  of Manchester UK dan  HIVOS Netherlands Regional Office Southeast Asia mengenai media sosial dan peranserta sipil di Indonesia. Studi ini telah berakhir dan laporan lengkap bisa didownload di sini.  Laporan dalam Bahasa Inggris akan sudah dirilis di MIOIR pada hari Senin 4 April 2011 3-5 sore (silakan daftar lewat email saya) dan di Universitas Salfor hari Rabu jam 2.30-4.30 sore (silakan daftar di sini). Dalam acara rilis laporan tersebut juga akan telah dilakukan pemutaran film dokumenter  tentang media sosial dan gerakan sosial di Indoensia, @linimas(s)a, yang juga didanai sebagian oleh HIVOS. Cuplikan film tersebut bisa disaksikan di sini.

Laporan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh mas Aresto Yudo Sujono (@arestoyudo) dan diedit oleh mas BlontankPoer (@blontankpoer). Rencananya, laporan versi Bahasa Indonesia ini akan dirilis -bersamaan dengan pemutaran penuh film @linimas(s)– di Jakarta, 12 Mei 2011 dalam sebuah acara yang diselenggarakan bersama-sama oleh Internetsehat, ICTWatch, WatchDOC, AkademiBerbagi dan HIVOS di Goethe Institute jam 6-9 malam (konferensi pers jam 3-5 sore). Silakan hadir. Versi Bahasa Indonesia laporan Citizens in @ction / @ksi Warga bisa diunduh di sini.

Read more…

The return of Big Brother to Indonesia?

Saturday, 2 April 2011 1 comment

The Jakarta Post – Opinion, 30 March 2011
Yanuar Nugroho
Manchester, United Kingdom

Advances in Internet technology have changed the way people live. For many it has brought the appealing promises of global community, democracy and openness.

Many others fear technological threats such as alienated individuals, anarchy, surveillance and repression. The House of Representatives’ proposed intelligence bill is a clear example of the latter.

The bill, if enacted into law, would give the authorities a free pass to monitor conversations and exchanges on the Internet.

Even worse, the bill would give legal justification to the National Intelligence Agency (BIN) to detain anyone suspected of threatening public security based on exchanges on social networking sites such as Twitter or Facebook.

While the very same social media have given birth of a new type of civic engagement globally, in Indonesia, in the eyes of the bill’s drafters, technology is a threat.

Read more…

Localising the global, globalising the local: The role of the internet in shaping globalisation discourse in Indonesian NGOs

Friday, 30 July 2010 Leave a comment

Journal of International Development, Early-cite, DOI: 10.1002/jid.1733

Yanuar Nugroho

Abstract

Globalisation arguably brings about socio-economic development but the distribution of these benefits is unequal. Non-governmental organisations (NGOs), whose growth has often been closely linked with globalisation, have been outspoken regarding this inequality. Despite clear linkages between NGOs and globalisation, there has been little research aiming at understanding how NGOs engage with the issue of globalisation itself. Using the case of Indonesia, this study aims to uncover how NGOs utilise the Internet to respond to globalisation-related issues. NGOs should understand global issues in their local contexts and rearticulate more saliently for their beneficiaries. Technology can serve this purpose when used strategically. Copyright © 2010 John Wiley & Sons, Ltd.

Corporate governance: Towards bonum commune?

Thursday, 19 June 2008 3 comments

Perspective is about bringing together things that seem to have no relation to each other so that they could be more easily understood in a context. It sounds simple. But it helps scrutinising the relationship between noble idea of good governance and hullabaloo of corporate responsibility. Why these two? Firstly, because discourse about good governance today cannot but touch upon the issue of corporate governance. And secondly, because corporate responsibility has become the issue of corporate governance.

It has been admitted that corporations are playing vital role in developments as they create employment, produce goods and services, bring investments and thus economic growth. As no one would disagree that good governance is necessary for development, neither do they contradict the idea that good governance should be applied to corporate world. Even, it flowers a thought that business should be allowed to regulate themselves.

Read more…

Martabat buruh, kinerja modal dan penyelenggaraan publik

Sunday, 13 January 2008 Leave a comment

Oleh Yanuar Nugroho
CSR Review 13 Januari 2008

“Globalisasi produksi kini tengah membentuk kembali lansekap ekonomi internasional. Dengan itu, pengetahuan lama yang mengatakan bahwa negara maju adalah eksportir modal dan teknologi dan negara berkembang sebagai importirnya pelan-pelan harus minggir dan memberikan tempat bagi relasi keduanya yang lebih kompleks… Tren saat ini mempunyai implikasi yang penting bagi pembagian kerja di dunia. Pandangan tradisional bahwa aktivitas produksi yang lebih kompleks dilakukan di Utara dan yang sederhana di Selatan makin tidak mencerminkan realitas. Perusahaan kini melihat bahwa negara berkembang menjadi penting bukan hanya karena buruh murah, tetapi terutama pertumbuhan, ketrampilan dan teknologi.”

Setelah demo masif para buruh menolak revisi UU No. 13/2003 yang sarat dengan pengabaian hak-hak pekerja, pemerintah akhirnya mengambil sikap untuk mengevaluasi pelaksanaan UU tersebut sebelum merevisinya.  Tentu sikap ini disambut baik oleh buruh. Namun, pengusaha menunjukkan gelagat lain: mereka ngotot minta revisi segera dilakukan dengan tetap menggunakan draft yang sudah ditolak tersebut. Alasannya, revisi itu perlu untuk memikat investasi.  Jika saja kita mau sedikit lebih jeli melihat problematika ketenagakerjaan itu, disana ada tegangan mendasar: martabat manusia dan kuasa modal.
Read more…

FSPI: Stand by your people, G33 Ministers!

Tuesday, 20 March 2007 2 comments

Earlier today, 20 March 2007, the G33 Meeting was kicked-off in Jakarta. Various Indonesian civil society groups worry that the meeting will be intervened by other interests, especially WTO — indicated by the (unnecessary) presence of Pascal Lamy –and some other developed countries’ representatives– at the meeting. FSPI, one of the civil society coalitions organised a rally to ‘welcome’ the meeting today. Mohammed Ikhwan of FSPI reported below.

Read more…

Belajar dari Piala Dunia

Wednesday, 12 July 2006 Leave a comment

TEROPONG – Mingguan Hidup, Juli 2006

Yanuar Nugroho

Menyisakan kontroversi dugaan perilaku rasis salah seorang pemain Italia pada pemain Perancis di pertandingan final, Piala Dunia memang selalu menarik dibicarakan. Di sebuah koran utama di Inggris, The Guardian (9/6/06), Sekjen PBB Kofi Annan menulis betapa cemburunya PBB dengan Piala Dunia. Mengapa? Menurutnya Piala Dunia adalah satu-satunya ajang dunia dimana semua negara, ras dan agama bertemu untuk bertanding dengan fair: sesuatu yang bahkan tidak bisa dicapai oleh organisasi seperti PBB. “Dunia harus belajar dari Piala Dunia”, ujarnya. Dan meski saya bukan penggemar bola, saya setuju dengannya. Setidaknya, dalam beberapa hal berikut.

Read more…

Mencerna Kondisi Sosial Dunia

Thursday, 15 September 2005 1 comment

Media Indonesia – OPINI – 15 September 2005

Yanuar Nugroho

MUNGKIN karena riuh rendah persoalan ekonomi, politik, dan sosial di Tanah Air hari-hari ini, banyak dari kita tak tahu saat PBB merilis laporannya 25 Agustus lalu.

Padahal, laporan berjudul The World Social Situation: Inequality Predicament (‘Situasi Sosial Dunia: Parahnya Ketimpangan’) ini amat penting untuk diketahui. Mengapa?

Read more…

Dilema Tanggung Jawab Korporasi

Tuesday, 23 August 2005 1 comment

Media Indonesia – OPINI – 23 Agustus 2005

Yanuar Nugroho

SESUDAH berbagai gebrakan melawan korupsi, kabinet SBY-JK tampaknya kini mencecar tanggung jawab korporasi. Menindaklanjuti hasil Program Penilaian Peringkat Perusahaan (Proper) 2005 yang dilansir awal bulan ini, KLH sudah mengeluarkan ancaman dini. Ia akan menggugat perusahaan berperingkat hitam dengan dakwaan pencemaran lingkungan (Media Indonesia, 9/8). Read more…

Wajah Ganda Pembangunan

Tuesday, 23 November 2004 Leave a comment

Media Indonesia – OPINI – 23 Nopember 2004

Yanuar Nugroho

MINGGU lalu, Bank Dunia baru saja merilis laporan tahunan tentang status pembangunan dunia tahun 2005 yang berjudul A Better Investment Climate for Everyone (Iklim Investasi yang Lebih Baik bagi Semua) (World Development Report 2005). Apa isi laporan ini? Ringkasnya, sektor bisnis swasta baik skala kecil, menengah, ataupun besar, memegang peranan penting dalam pembangunan saat ini karena ia mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemiskinan.

Read more…

Akuntabilitas

Friday, 5 November 2004 Leave a comment

TEROPONG – Mingguan Hidup, November 2004

Yanuar Nugroho

Sampai hari ini, masih ramai soal Teluk Buyat. Konon kabarnya, dari tambang emas yang dikelola oleh PT. Newmont Minahasa Raya itu, dibuang ke laut lebih dari 2.000 ton tailing atau limbah tambang yang mengandung logam berat setiap harinya. Akibatnya, lebih dari 100 warga Buyat, Ratatotok, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, menderita penyakit Minamata, yaitu kerusakan saraf. Mereka menderita gatal-gatal dan kejang pada tubuh, kemudian muncul benjolan. Benjolan yang muncul dalam banyak varian pada sejumlah penderita, yakni di tangan, kaki, tengkuk, pantat, kepala atau payudara ini diduga sebagai akibat kontaminasi logam berat arsen dan merkuri yang mencemari Teluk Buyat dari PT NMR .

Read more…

Agenda Kita

Saturday, 30 October 2004 Leave a comment

TEROPONG – Mingguan Hidup, Oktober 2004

Yanuar Nugroho

Langkah SBY-JK dengan membentuk “Kabinet Indonesia Bersatu” (Kabintu) tak semulus yang diperkirakan. Baru bertahta beberapa hari memimpin negeri, sudah banyak kerikil tajam merintangi. Jutaan rakyat memelototi koran dan tivi, memburu tiap langkah para menteri, menanti janji yang mungkin akan sulit dipenuhi. Mungkin terlalu dini untuk menilai, tetapi nampaknya ada tanda tanya besar menghantui. Yang jelas, sosok presiden yang digandrungi ibu-ibu pecandu sinetron ini dianggap gagal memilih para menteri. Kabinetnya dinilai kabinet hasil “dagang sapi” (Kompas, 23-26/10/04, Bisnis Indonesia 22/10/04, Sinar Harapan, 23/10/04).

Read more…

Hight time to reform IMF and World Bank

Thursday, 22 April 2004 Leave a comment

Opinion and Editorial, The Jakarta Post, Thursday, 22 April 2004
by Yanuar Nugroho

Ten years ago, many international NGOs launched the legendary “50 Years is Enough!” campaign to highlight the negative roles of the World Bank and the International Monetary Fund. Now, ten years later, they have decided to launch the International Days of Action Against the IMF and the WB on from April 16 to April 25 to expose — this time more extensively — the WB and IMF’s failures.

Read more…

Rethinking Globalization: Nirvana or Armageddon?

Monday, 5 January 2004 2 comments

Opinion & Editorial, The Jakarta Post, Monday, January 05, 2004
by Yanuar Nugroho,

Globalization remains a paradox up to today in our world. It brings about dramatic economic growth and advancement of technology, but at the same time also causes unprecedented human and ecological problems. Anthony Giddens (1999) describes this situation as being like a runaway “juggernaut” with all of us being trapped in it — neither able to control the course nor to stop it. We may become wealthier and have a better life, but we also suffer from the “manufactured risks” like new diseases, computer viruses, etc.

Read more…

Social economic rights need more understanding

Thursday, 4 December 2003 Leave a comment

Headlines – The Jakarta Post, Thursday, December 04, 2003

Yanuar Nugroho

Look at this time-series data on evictions in Jakarta, compiled and processed by the Jakarta Social Institute (ISJ) and the Jakarta Residents’ Forum (Fakta). First, during 2001, the Jakarta municipality, in the name of law and order, evicted the urban poor 99 times.

Read more…

Fear and loathing of agrarian modernization

Monday, 27 October 2003 Leave a comment

The Jakarta Post, 27 October 2003 : opinion & editorial

Yanuar Nugroho

During the international trade talks last month in Cancun, Mexico, South Korean leader of its farmers’ and fishers’ union, Lee Kyung-hae, 54, stabbed himself at a violent protest. The former lawmaker, who later died, had earlier climbed a high security fence and waved a banner that read “WTO kills farmers”.

With regard to the controversy upon his death, he may have been correct in addressing that concern.

Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers