Agenda Kita

Saturday, 30 October 2004 Leave a comment Go to comments

TEROPONG – Mingguan Hidup, Oktober 2004

Yanuar Nugroho

Langkah SBY-JK dengan membentuk “Kabinet Indonesia Bersatu” (Kabintu) tak semulus yang diperkirakan. Baru bertahta beberapa hari memimpin negeri, sudah banyak kerikil tajam merintangi. Jutaan rakyat memelototi koran dan tivi, memburu tiap langkah para menteri, menanti janji yang mungkin akan sulit dipenuhi. Mungkin terlalu dini untuk menilai, tetapi nampaknya ada tanda tanya besar menghantui. Yang jelas, sosok presiden yang digandrungi ibu-ibu pecandu sinetron ini dianggap gagal memilih para menteri. Kabinetnya dinilai kabinet hasil “dagang sapi” (Kompas, 23-26/10/04, Bisnis Indonesia 22/10/04, Sinar Harapan, 23/10/04).

Sebenarnya apa inti semua ini?

Orang bilang, dalam politik tak ada kawan dan musuh sejati. Yang ada hanyalah kepentingan sejati. Adanya kepentingan tentu tak bisa disalahkan. Tapi menjadi mendesak bagi kita hari-hari ini membicarakan kepentingan itu ditujukan untuk agenda apa. Mengapa? Karena ia menyangkut hidup-mati kita dalam tata hidup bersama kita.

Sementara tidaklah salah menganggap struktur politik demikian menentukan agenda itu, sebaiknya kita juga tak lengah karena kita bukan demikian tak punya daya mempengaruhinya. Dari sekian banyak agenda penting, tiga berikut ini mungkin lebih berpengaruh atas banyak yang lain: pembangunan, tatakelola kebijakan dan hak-hak asasi.

Dalam agenda pembangunan, nampaknya ekonomi menjadi fokus utama SBY-JK. Negeri ini memang masih didera derita setelah krisis ekonomi menerpa. Namun, menjadikan indikator ekonomi sebagai indikator pembangunan, dan mengukur keberhasilan pembangunan melalui keberhasilan pencapaian target ekonomi, adalah sebentuk kenaifan. Tak ada warga Indonesia yang waras yang tak mau kalau, misalnya, angka GDP meningkat. Tapi apa artinya kalau ia tak dibarengi dengan naiknya kualitas hidup, partisipasi pembangunan, kesetimbangan jender, perlindungan lingkungan, akses terhadap jasa publik, dan lain-lain?

Sayang, kebanyakan kita masih enggan melihat apa yang ada di balik statistik ekonomi itu. Kalau dalam laporan penelitian The Business Watch Indonesia (2004) tentang kinerja perbankan dinyatakan bahwa setelah skema penyehatan bank-bank pasca krisis Bank Rakyat Indonesia memberikan lebih dari 70% kreditnya pada usaha skala besar dan kurang dari 25% pada usaha skala kecil, apa artinya? Apa artinya jika dinyatakan juga bahwa kini, dari besaran uang yang diputar industri finansial kita, lebih dari 75%nya dipakai untuk konsumsi dan kurang dari 25% untuk investasi (BWI, 2004)? Yang picik akan melihat bahwa konsumsi memutar roda ekonomi dan pembangunan. Namun jangan lupa, memuja aktivitas konsumsi adalah memuja kinerja jangka pendek. Maka, semoga agenda pembangunan kedepan ini tidak direduksi dalam pembangunan ekonomi. Dan semoga kinerja ekonomi juga tidak sekadar diukur dari angka konsumsi.

Dalam agenda tatakelola kebijakan di manapun, tentu ada keberpihakan. Kemarin pengusaha besar (yang kebanyakan keturunan Tionghoa) merasa ‘didiskriminasi’ oleh Jusuf Kalla yang menyatakan membuat pemihakan pada pengusaha kecil. Seandainya tidak ada bumbu nuansa diskriminasi primordial, kebijakan itu dalam hemat saya, berada pada orientasi yang benar. Struktur sosial negara ini sungguh timpang dan perlu upaya radikal menatanya. Sudah saatnya kita berhenti berpura-pura. Kita harus realistis bahwa ‘kemauan baik memberikan kesempatan pada yang kecil’ kalau tidak ditata –atau didesakkan—tidak akan berjalan. Ini berlaku tak hanya pada tata-kelola kebijakan usaha, namun lebih luas lagi: tata kelola hidup bersama. Mengapa?

Sudah terlalu banyak ruang hidup bersama ini diremuk berbagai kekuatan yang tidak punya akuntabilitas dalam praktiknya. Penggusuran tak berhenti, hutan lindung tetap ditebangi, banyak orang mati karena tak mampu berobat dan kesulitan sanitasi, sumber air dijual, sekolah dan kuliah makin tak terjangkau … Daftar ini masih akan sangat panjang. Tapi intinya, kalau tatakelola kebijakan kita tak berpihak pada yang kecil, lemah dan terpinggir, tak ada artinya keberadaan badan-badan publik macam parlemen, negara dan pemerintah. Badan-badan publik ini mestinya melindungi kepentingan publik, bukan malah meremuknya, entah dengan pembenaran apapun – kontrak IMF, syarat pinjaman Bank Dunia, jaminan investasi asing, dan sebagainya. Tentu melahirkan kebijakan mengisolasi diri dari tata internasional (bahkan termasuk WTO sekalipun) adalah hasil dari pemerintah yang naif. Tapi sama naifnya jika ia menindas rakyat sendiri atas nama berbagai tata internasional itu.

Dalam agenda hak asasi, tak banyak yang bisa dibicarakan kecuali bahwa masalahnya masih (dan akan terus) menumpuk. Sementara sebagian besar orang di negeri ini sudah bosan melihat sederetan angka pelanggaran hak asasi –mulai dari persoalan agama, orientasi seksual, hingga ideologi—tak juga ada perbaikan yang sungguh berarti. Nampaknya hakikat perlindungan hak-hak asasi dilupakan: bahwa setiap orang berhak untuk berbeda dari yang lain. Angkatan Laut Inggris baru-baru ini mengijinkan salah seorang prajuritnya yang adalah pengikut gereja setan menjalankan ibadahnya, pemujaan setan, di kapal perang AL Inggris sama seperti yang Islam boleh sholat atau yang Kristen beribadat (Metro, 27/10/04).

Kita di Indonesia? Tanyakan pada rumput yang bergoyang …

Maka, kita jangan hanya menggantungkan harapan besar akan perubahan yang berarti pada pemerintahan SBY-JK ini. Harapan itu harus diwujudkan. Agenda-agenda itu harus disuarakan dan didesakkan. Kalau tidak, kita akan ‘patah hati’ karena tanpa perhatian akan ketiga agenda itu, harapan hanya akan jadi ilusi dan sekadar mimpi-mimpi.

Penulis adalah kandidat doktoral di PREST (Institute for Policy Research in Engineering Science & Technology), The University of Manchester, Inggeris

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: