Belajar dari Piala Dunia

TEROPONG – Mingguan Hidup, Juli 2006

Yanuar Nugroho

Menyisakan kontroversi dugaan perilaku rasis salah seorang pemain Italia pada pemain Perancis di pertandingan final, Piala Dunia memang selalu menarik dibicarakan. Di sebuah koran utama di Inggris, The Guardian (9/6/06), Sekjen PBB Kofi Annan menulis betapa cemburunya PBB dengan Piala Dunia. Mengapa? Menurutnya Piala Dunia adalah satu-satunya ajang dunia dimana semua negara, ras dan agama bertemu untuk bertanding dengan fair: sesuatu yang bahkan tidak bisa dicapai oleh organisasi seperti PBB. “Dunia harus belajar dari Piala Dunia”, ujarnya. Dan meski saya bukan penggemar bola, saya setuju dengannya. Setidaknya, dalam beberapa hal berikut.

Satu – kita tahu sepakbola adalah olahraga paling populer di planet ini. Karena itu kita juga tahu, setiap kali Piala Dunia berlangsung, kafe-kafe dan tempat nonton bola selalu dibanjiri para maniak bola yang antusias. Sering kita lihat banyaknya “analis bola dadakan” yang tiba-tiba muncul. Dan analisis mereka ini kerapkali malah lebih tajam dari yang disajikan tabloid olahraga. Tetapi apakah hal ini juga akan terjadi saat membicarakan soal-soal penting bagi bumi dan penduduknya? Apakah banyak orang akan tertarik duduk bersama, memperbincangkan dan menganalisis bagaimana Indonesia bisa lebih baik dalam membangun masyarakatnya? Misalnya mencapai indikator Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)? Atau mengurangi polusi udara dan emisi karbon di kota-kota besar seperti Jakarta? Atau mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS?

Dua – dalam sepakbola, khususnya di Piala Dunia, orang melihat dengan nyata bagaimana sebuah tujuan bisa dicapai bersama-sama. Dan ‘tujuan’ itu tak hanya soal menyarangkan bola ke gawang, tetapi juga proses itu sendiri: bermain, menjadi supporter, ada disana dan menjadi bagian dari kerja-bersama banyak orang. Sayangnya, semboyan “bersama kita bisa” yang didengungkan pemerintah saat ini rasanya masih sekedar semboyan. Kita perlu bekerja keras bersama-sama sebagai bangsa untuk memperbaiki negara ini. Dan untuk itu memang perlu berbagi peran. Seperti bola, tak semua menjadi kiper dan tak semua menjadi striker. Kata kuncinya? Harus mau percaya dan saling memberi peluang.

Tiga – Piala Dunia dan sepakbola adalah contoh universalitas. Federasi sepakbola internasional (FIFA) beranggotakan 207 negara, sementara PBB hanya 191. Dalam universalitas itu, semua berkompetisi dengan jantan. Laporan Badan Pembangunan untuk PBB (UNDP) terbaru menyebutkan masih tingginya jumlah anak-anak putus sekolah dan mereka yang terpaksa tidur dalam keadaan haus, lapar dan sakit karena belum tersedianya prasarana hidup layak. Mengapa bangsa-bangsa di dunia ini tidak berkompetisi untuk mengambil tanggungjawab meringankan beban si miskin?
Terakhir – Piala Dunia sering disebut-sebut sebagai ajang pertarungan yang fair karena semua negara punya kesempatan bertanding yang sama. Yang dilihat hanya dua: permainan dan kerjasama tim. Dunia ini, sayangnya, tidak demikian.

Pertukaran barang dan jasa lewat perdagangan internasional tidak berjalan dengan adil. Selalu saja ada hambatan berupa subsidi atau tarif yang membatasi, sehingga negara miskin tetap miskin dan tidak bisa menarik manfaat dari perdagangan internasional. Lihatlah perundingan WTO baru lalu yang gagal. Sebabnya? Karena yang lebih maju, besar dan berkuasa, tak mau memberi kesempatan pada yang lebih miskin, kecil, lemah dan tertindas.

Nah, kini perlu juga kita sedikit kritis atas hal terakhir di atas. Kawan saya, seorang maniak bola, mengingatkan bahwa di Piala Dunia dan dunia sepakbola juga ada ketimpangan yang jarang disadari. Pemain seperti Beckham, Del Piero, Lampard, atau Zidane dibayar lebih dari 30 ribu poundsterling (460 juta rupiah) per minggu. Sementara pemain dari Togo atau Ghana, harus dengan susah payah meraih penghasilan seperempatratusnya di negara asalnya. Selain itu, menarik juga membaca alasan mengapa Brasil kalah kemarin. Media-massa bilang karena Brasil tidak punya pemain gelandang tengah yang baik. Mengapa? Tak ada yang mengupasnya. Tetapi cerita mahasiswa saya asal Brasil mungkin bisa menjelaskan.

Katanya, anak-anak muda di sana sudah sejak beberapa tahun terakhir ini tergila-gila dan terobsesi menjadi seperti Ronaldo atau Ronaldinho yang kaya dan hidup mewah. Jadi, tak ada lagi minat –atau dalam logika pasar: tak ada lagi permintaan—untuk menjadi pemain tengah. Semua ingin menjadi penyerang dan segera kaya. Akibatnya? Kekalahan.

Akhirnya, mari kembali ke kenyataan. Sesudah sebulan dihibur oleh Piala Dunia lewat layar kaca, hidup menunggu untuk dibenahi: kemiskinan yang akut, upah rendah para buruh, beras impor yang mengancam petani, pembangunan yang menggusur kaum miskin urban, janji surga bagi para pengungsi korban bencana, sulitnya hidup bermajemuk, remuknya landasan bagi komunitas basis, dan masih banyak lagi dalam daftar ini. Kofi Annan benar, sepakbola dan Piala Dunia memang selalu menarik. Tetapi jangan berhenti dalam perayaan itu: mari belajar dari Piala Dunia untuk membangun dunia. (*)

Yanuar Nugroho – bukan penggemar bola. Kandidat doktor dan peneliti di Universitas Manchester, Inggris.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: