Wajah Ganda Pembangunan

Tuesday, 23 November 2004 Leave a comment Go to comments

Media Indonesia – OPINI – 23 Nopember 2004

Yanuar Nugroho

MINGGU lalu, Bank Dunia baru saja merilis laporan tahunan tentang status pembangunan dunia tahun 2005 yang berjudul A Better Investment Climate for Everyone (Iklim Investasi yang Lebih Baik bagi Semua) (World Development Report 2005). Apa isi laporan ini? Ringkasnya, sektor bisnis swasta baik skala kecil, menengah, ataupun besar, memegang peranan penting dalam pembangunan saat ini karena ia mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemiskinan.

Laporan itu menegaskan bahwa iklim investasi tak hanya berkaitan dengan soal biaya, namun juga pengendalian atas risiko. Artinya, potongan pajak usaha saja tak cukup bagi investasi. Pemerintah secara implisit didesak untuk menyiapkan infrastruktur yang memadai, membuat kebijakan yang fleksibel tentang kontrak-kerja, mencegah terjadinya keresahan masyarakat, bisa mengendalikan kerusuhan dan demonstrasi serta mengurangi berbagai regulasi di sektor bisnis. Intinya, risiko harus dikurangi, karena kepastian sangat penting dalam investasi. Hanya dengan langkah-langkah yang disebutkan tadi, pemerintah akan sukses menarik investasi.

Bagi pemerintahan SBY-JK saat ini, bisa jadi laporan WDR 2005 ini adalah legitimasi kebijakan pembangunan yang akan dijalankan yang berfokus pada ekonomi. Legitimate atau tidaknya kebijakan adalah satu hal; valid atau tidaknya asumsi atas kebijakan itu, adalah hal lain. Dan, sering kali kita hanya terjebak pada yang pertama.

***

Tak bisa disangkal, bisnis dianggap menjadi mesin pembangunan dunia saat ini. Karena kinerja bisnis ini, pendapatan per kapita (dihitung dalam nilai dolar tahun 1995) meningkat dari $989 tahun 1980 menjadi $1,354 tahun 2000. Bahkan menurut organisasi bisnis dunia ICC (International Chamber of Commerce), bisnis telah memperkecil jurang perbedaan antara beberapa negara khususnya di Asia dan negara-negara maju. Setelah didera krisis finansial di tahun 1997 dan 1998, Asia segera bangkit dengan cepat dengan pertumbuhan GDP 6% (1999) dan 6,2% (2000). Jelas, dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara maju yang hanya 3,1% dan 3,6% pada waktu yang sama, Asia mencatat prestasi luar biasa.

Lebih jauh, bisnis telah menaikkan standar hidup mereka yang miskin dan mengurangi kemiskinan secara signifikan. Jumlah mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut ($1 per orang per hari) menurun dari 28,3% di tahun 1987 menjadi 22% di tahun 2003. Mengesankan, bukan?

Jangan buru-buru. Tampaknya fakta berikut diabaikan serampangan. Karena cepatnya pertumbuhan jumlah penduduk, angka absolut penduduk miskin itu tak berkurang sedikit pun. Justru di awal milenium ini, dari sekitar 5,4 miliar penduduk bumi, lebih dari 1,3 miliar manusia masih hidup di bawah satu dolar per orang per hari dan jumlah serupa tak punya akses pada air bersih (Bank Dunia, 2003). Sementara pada dekade terakhir abad 20 ini, hanya 33 negara berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonominya 3% per tahun, sementara di 59 negara lainnya, pertumbuhan ekonomi itu ambruk. Antara 1960 dan 1997 selisih pendapatan antara seperlima penduduk paling miskin dan paling kaya di dunia ini telah berlipat lebih dari dua kali. Pada akhir 1990, seperlima penduduk yang paling kaya itu menguasai 86% kemakmuran dunia, sementara seperlima yang paling miskin hanya mengais-ngais 1%-nya. Kini? Angka itu sudah menjadi 88% dan 0,85% (UNDP, 2002; Korten, 1995).

Bagaimana dengan Indonesia? Tak jauh berbeda. Di satu sisi, berkat kemajuan pembangunan angka kemiskinan absolut (yaitu mereka yang hidup dengan kurang dari $2 sehari) telah berkurang menjadi hanya 13% dari seluruh populasi dan hanya 13% dari penduduk yang berusia di atas 15 tahun buta huruf. Namun di sisi lain, angka kematian bayi masih 41 per 1.000 kelahiran, kekurangan gizi anak mencapai 24% dari seluruh anak balita dan akses terhadap sumber air bersih hanya dinikmati oleh 74% penduduk (UNDP, 2003).

Inilah dilema kita hari ini. Setelah ‘globalisasi’, ‘pembangunan’ (development) adalah sebuah kata yang paling sering dirujuk sebagai penentu pertumbuhan dan perkembangan dunia. Sayangnya, tak hanya bagi kita di Indonesia, tidak mudah mendapatkan sebuah perspektif yang lengkap tentang pembangunan. Mengapa? Pembangunan yang multidimensi dan nonlinear sudah direduksi menjadi berdimensi tunggal (pembangunan itu identik dengan pembangunan ekonomi) dan linear (keberhasilan pembangunan ekonomi akan membawa kemajuan di sektor lain). Sesederhana itu. Padahal kita tahu, reduksi semacam ini membawa lebih banyak masalah daripada solusi.

Sayangnya, inilah yang justru tercermin dari seluruh target kerja pemerintahan baru SBY-JK dan para punggawanya. Hampir tak ada bedanya secara substansial dari pemerintahan sebelumnya. Memang tak ada salahnya menempatkan ekonomi sebagai prioritas pembangunan, tapi kalau pemerintahan kali ini tidak belajar dari kegagalan pembangunan di masa lalu yang semuanya berakar dari salah-kaprah menempatkan ekonomi di antara aspek pembangunan yang lain, negeri ini tidak akan maju ke mana-mana.

Pelajaran pertama yang mesti ditarik adalah bahwa rakyat, terutama yang miskin, harus menjadi fokus pembangunan. Kemiskinan tetap menjadi masalah dalam konteks pertumbuhan ekonomi di mana pun. Kita tahu, kemiskinan berasal dari kesenjangan pendapatan, yang mencerminkan kesenjangan kesempatan. Apa sebabnya? Salah satunya, tidak terciptanya keseimbangan antara kebutuhan dan tersedianya modal untuk membangun manusia (misalnya investasi bagi rakyat melalui pendidikan dan sarana kesehatan yang lebih baik) dan kurangnya akses yang lebih luas terhadap prasarana dan modal. Di sinilah terletak inti hubungan dua arah antara kemiskinan dan pertumbuhan. Pertumbuhan mungkin menjadi syarat perlu, tetapi tidak cukup untuk mengurangi kemiskinan. Sebaliknya, kemiskinan yang tak berkesudahan dan kesenjangan akan mengurangi tingkat pertumbuhan.

Pelajaran kedua yang bisa ditarik adalah bahwa pembangunan mesti berkelanjutan dan mempertimbangkan aspek lingkungan. Jika pembangunan menghancurkan sumber daya alam, ia menghancurkan dirinya sendiri. Namun, inilah yang justru terjadi. Di Indonesia, 40% hutan telah digunduli sejak 1950 dan setengah dari sisanya telah digunakan untuk pembangunan jalan, perkebunan kayu atau pabrik minyak sawit. Yang menyedihkan adalah bahwa di negeri ini tiap menit 5 hektare hutan lenyap –artinya hutan seluas lapangan bola dibabat tiap 12 detik. Padahal di sisi lain, 40 – 50 juta orang Indonesia hidupnya sangat tergantung pada hutan. Dampaknya bagi kehidupan satwa juga memburuk karena misalnya, selama 10 tahun terakhir, jumlah orang utan (proboscis monkey) tinggal setengahnya.

Soal-soal ini akhirnya membuat kita mau tidak mau memikirkan kembali pembangunan dari sudut pandang lain. Hemat saya, dalam konteks ekonomi sebagai fokus pembangunan, masalahnya terletak bukan pada fokus ekonominya –tetapi lebih pada corak dan praktiknya. Pembangunan ekonomi tidak berdiri di ruang kosong. Dalam rupa aktivitas bisnis, ia terkait dengan kinerja modal dalam bentuk investasi.

Logikanya, makin banyak investasi ditanamkan, makin banyak volume bisnis yang terlibat (termasuk membuka lapangan kerja) dan tentu makin banyak laba didapat. Inilah mengapa investasi dianggap mampu membuka peluang kerja di banyak negara, memungkinkan adanya transfer teknologi dari negara maju dan mengurangi kemiskinan. Pendeknya, investasi dianggap makin berperanan penting dalam pembangunan yang berkelanjutan di negara-negara berkembang. Setidaknya, anggapan inilah yang dianut dalam Laporan Bank Dunia 2005 itu.

Padahal, lain anggapan dan kenyataan. Investasi dalam rupa FDI (foreign direct investment, investasi langsung mancanegara), memang memainkan peranan sangat penting dalam ekonomi dunia ketiga, khususnya dalam perkembangan industri dan pertumbuhan ekspor. Pada akhir tahun 90-an, misalnya, FDI di negara-negara berkembang berjumlah $240 miliar, 37% di antaranya ditujukan ke China dan sisanya ke Brasil, Meksiko, lima negara berkembang lainnya. Namun, jumlah ini hanya 25%-30% dari seluruh FDI dunia. Sejumlah 53 negara Afrika secara bersama-sama, hanya menerima 2% dari FDI yang diinjeksikan ke dunia ketiga.

***

Inilah pisau bermata dua bernama ‘pembangunan’. Dalam arus globalisasi yang deras menerpa saat ini, atas nama pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi, dengan mudah pembangunan diselewengkan untuk menjagal hidup banyak orang. Caranya? Melalui komersialisasi dan komodifikasi atas berbagai aspek dan kebutuhan hidup: air, kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, listrik –di antara yang lain. Di mata pembangunan yang seperti ini, semua hal bisa dijual. Padahal, kita tak boleh keliru menempatkan ‘warga negara’ semata sebagai ‘konsumen’ sebagaimana kita tak boleh menganggap ‘negara’ sekadar sebagai ‘pasar’. Semoga pemerintah kita tidak lupa akan hal itu. (*)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: