Mencerna Kondisi Sosial Dunia

Thursday, 15 September 2005 Leave a comment Go to comments

Media Indonesia – OPINI – 15 September 2005

Yanuar Nugroho

MUNGKIN karena riuh rendah persoalan ekonomi, politik, dan sosial di Tanah Air hari-hari ini, banyak dari kita tak tahu saat PBB merilis laporannya 25 Agustus lalu.

Padahal, laporan berjudul The World Social Situation: Inequality Predicament (‘Situasi Sosial Dunia: Parahnya Ketimpangan’) ini amat penting untuk diketahui. Mengapa?

Pertama, tidak hanya karena dirilis sebelum Pertemuan Dunia (World Summit) di New York saat ini (14-16 September 2005) yang membahas status pencapaian target pembangunan milenium (millennium development goals, MDG) dan menjadi catatan kritis pra-pertemuan itu. Namun, kedua, dan yang lebih mendasar, ia penting karena ‘menghardik’ cara kita melihat dan berpikir tentang globalisasi dan pembangunan, karena ia berwajah ganda.

Wajah ganda memang melekat pada hampir semua hal di kolong langit ini, namun tetaplah penting untuk melihat ‘akibat’ selain memikirkan ‘sebab’.

***

Entah mau dinamakan apa, pembangunan dunia ini ternyata tidak selalu menghasilkan hal-hal yang baik. PBB mencatat ketimpangan dunia saat ini jauh lebih buruk dari 10 tahun yang lalu, walau ekonomi bertumbuh di beberapa wilayah. Akibat privatisasi yang semena-mena yang dianggap ‘positif’ oleh para pendukung globalisasi, si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin. Inilah yang disebut PBB sebagai ‘ketimpangan yang makin parah’ itu. Seperti apa?

Jutaan orang memang bekerja, namun mereka tetap miskin. Hampir sepertiga buruh di dunia ini tidak mendapatkan penghasilan cukup bagi dirinya dan keluarganya untuk hidup di atas garis kemiskinan 1 dolar sehari per orang. Sebagian besar kaum miskin bekerja di sektor-sektor nonpertanian. Perubahan pasar tenaga kerja dan meningkatnya kompetisi global telah memacu tumbuhnya sektor ekonomi informal dan akibatnya memperburuk upah dan kondisi kerja sektor formal bagi para pekerja di negara miskin.

Hampir sepertiga penghuni dunia ini (2,8 miliar) harus hidup dengan kurang dari 2 dolar sehari. Pada saat 1 miliar manusia di negara maju menguasai 80% sumber daya dan produk dunia ini, 5 miliar lainnya yang kebanyakan berada di negara miskin harus saling memperebutkan 20% sisanya. Apa implikasinya?

Satu: kekerasan. Walau ketimpangan tidak otomatis melahirkan kekerasan, keduanya berhubungan erat. Dalam banyak hal, kekerasan berakar dari ketimpangan. Kekerasan menjadi ancaman bagi perdamaian dan keamanan dan justru membuat ketimpangan yang ada menjadi makin parah. Itu mengapa PBB dalam laporannya menegaskan bahwa ketimpangan yang bersumber pada kekuasaan politik, konflik tanah dan aset lainnya bisa menciptakan disintegrasi dan eksklusif sosial dan mengarah pada konflik lain dan kekerasan yang lebih luas.

Dua: pengangguran dan sulitnya mencari lapangan kerja. Pengangguran tetap tinggi terutama bagi kaum muda yang belum bekerja. Dari semua penganggur di dunia, 47% adalah orang muda yang dua-tiga kali lebih mungkin menganggur daripada mereka yang lebih tua. Pasar tenaga kerja sulit menyerap para pencari kerja muda ini.

PBB mencatat, ”Ketidakmampuan negara untuk mengintegrasikan pasar tenaga kerja muda ini dalam ekonomi formal membawa akibat besar, mulai dari cepatnya pertumbuhan ekonomi informal sampai instabilitas nasional.”

Tiga: ketimpangan pengupahan. Sejak 1980-an pengupahan jadi makin timpang, terutama antara para pekerja terampil (skilled) dan yang tidak (unskilled). Upah minimum pekerja terampil membubung, sedangkan yang tidak anjlok. PBB mencatat negara seperti China dan India mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik, namun ketimpangan dalam negerinya tetaplah tinggi. Soal serupa juga terjadi di negara maju, yakni selisih pendapatan menjadi persoalan sosial, misalnya di Kanada, Inggris, dan AS.

Empat: kaum marginal yang makin terpinggirkan. Komunitas adat, para penyandang cacat, orang tua, perempuan, dan kaum muda adalah mereka yang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan politik dan ekonomi yang justru mempengaruhi hidup mereka. Kelompok ini, yang sudah didiskriminasi sepanjang sejarah, masih juga diabaikan hak-hak asasinya. Jelas, partisipasi politiknya pun terhambat.

Lima: buruknya jasa publik. Dalam soal pendidikan dan kesehatan, negara-negara Sub-Sahara Afrika dan Asia adalah yang paling menderita. Misalnya, ketimpangan dalam harapan hidup makin tak terjembatani. HIV/AIDS memperburuk dan sekaligus diperburuk situasi ini, khususnya di Afrika, yakni penderitanya tak bisa disembuhkan dengan efektif.

Juga ketimpangan akses terhadap imunisasi, perawatan ibu dan anak, makanan bergizi, dan pendidikan. Ketimpangan gender dalam akses pendidikan sudah dipersempit, tetapi tetap ada. PBB menggarisbawahi bahwa situasi ini mengakibatkan terjadinya krisis terhadap human capital dan mengancam upaya memberantas kemiskinan.

Terpekur di tengah masifnya data laporan itu, di ujung refleksi, baik jika kita meraba-raba mengapa ini terjadi.

***

PBB dengan tegas mengatakan bahwa praktik globalisasi saat ini tak lepas dari kondisi ketimpangan saat ini. Tulisnya, ”Asimetri dunia yang diakibatkan globalisasi ini harus dilihat kembali, dengan tekanan pada distribusi yang lebih merata akan manfaat ekonomi dunia yang makin terbuka ini.”

Jelas, mengabaikan fakta ketimpangan dalam menjalankan pembangunan itu berbahaya. Berfokus hanya pada pertumbuhan ekonomi sebagai strategi pembangunan terbukti tidak efektif karena ia membawa akumulasi kesejahteraan hanya pada beberapa orang dan memperburuk kondisi kemiskinan bagi banyak orang lainnya. Namun, celakanya, justru cara pandang ini yang menjadi mesin penggerak agenda pembangunan global saat ini.

Maka, memang penting untuk mencari celah solusi. Para pucuk pimpinan dunia berharap pertemuan New York mampu menemukan celah itu. Pertemuan itu akan mengevaluasi sejauh mana target MDG telah dan akan dicapai. Jika tercapai, ada harapan kondisi sosial ini dunia yang remuk ini bisa sedikit diperbaiki.

Lima tahun yang lalu delapan target MDG dirumuskan: mengurangi kemiskinan dan kelaparan dunia hingga setengahnya; menyediakan pendidikan dasar; mengurangi kematian anak dua pertiganya; menekan angka kematian ibu melahirkan tiga perempatnya; mendorong kesetaraan gender; keberlanjutan lingkungan; mencegah penyebaran HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya; menjalin kemitraan global antara yang kaya dan miskin dalam pembangunan. Semua itu harus tercapai tahun 2015.

Namun melihat data-data yang diungkapkan dalam laporan itu dan melihat target MDG, nampaknya tak berlebihan jika kita kini harus ikut berpikir, atau malah sedikit khawatir.

Dengan kemajuan pembangunan 10 tahun terakhir ini yang berjalan amat lambat, nampaknya upaya merealisasikan MDG juga akan tidak jauh berbeda. PBB sudah mendesak negara-negara makmur untuk memenuhi janjinya memberikan minimal 0,7% dari pendapatan nasional kotor untuk pembangunan di negara-negara miskin. Namun tak ada hasilnya.
Bahkan, AS menolak ketika pokok pikiran dalam laporan ini diajukan dalam draft document pertemuan New York. Bagi AS, lebih penting isu terorisme dan keamanan, bukan kemiskinan dan kelaparan.

Tanpa mau pesimistis, tampaknya kecil harapan pertemuan New York bisa mendesakkan tercapainya MDG tepat waktu. Melihat dan mencerna kondisi sosial dunia saat ini, memang sayang jika pertemuan ini gagal. Namun, jika pun terjadi, itu bukan kejutan. (*)

  1. toni
    Monday, 13 October 2008 at 3:26 pm

    WHAT IS THE GENERALLY TRULY IN THE WORLD

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: