Archive

Archive for May, 2007

selamat jalan, kawan…

Thursday, 24 May 2007 6 comments

salman nurdin 1995
foto atas kebaikan mbak wahida

kemarin pagi saya mendapat satu email singkat dari surabaya yang mengabarkan bahwa seorang kawan saya, salman nurdin, aktivis di pusdakota surabaya, baru saja meninggal dunia. walau saya tak pernah berinteraksi secara sangat intensif dan dalam waktu lama dengannya, saya kira dia lebih dari sekedar kawan aktivis, atau kolega LSM, bagi saya.

saya pertama kali mengenalnya dalam sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi masyarakat sipil USC satunama yogyakarta (CEFIL, civic education for future indonesian leaders) ketika saya menjadi fasilitator dan dia menjadi peserta di tahun 2002 (atau 2003? saya lupa tepatnya). kesan saya saat pertama kali bertemu salman: anak muda yang cerdas, punya visi, open mind, rendah hati, dan punya komitmen. maka saya tak heran kalau mas cahyo suryanto, direktur pusdakota surabaya, yang mengajak saya terlibat dalam pelatihan CEFIL tersebut lalu merekrutnya dan menjadikannya salah satu anggota tim inti di lembaganya. salman menjadi koordinator program Institute of Participatory Learning (INSPIRE). posisi yang pas, menurut saya, bagi seorang yang selalu mau belajar dan membagikan apa yang dipelajarinya itu ke masyarakat. tanggungjawab itu dia emban sampai detik terakhir hidupnya.

bagi orang yang mengaku tidak akrab dengan dunia cyber, cukup sering salman mengirim email kepada saya. saat selesai pelatihan CEFIL dia berkorespondensi untuk meminta banyak tulisan, materi dan referensi untuk dia pelajari; saat membantu LP3ES surabaya, kami banyak bertukar pikiran soal metodologi riset sosial yang aplikatif. dia menulis cukup panjang saat minta pendapat saya ketika mempertimbangkan tawaran mas cahyo untuk bergabung di pusdakota — yang tentu saja saya dukung sepenuh hati. selama di pusdakota pun, dia sering mengabarkan keadaan dirinya dan aktivitasnya. saya tak akan lupa ketika dengan sangat bersemangat, pada tahun 2005 (lupa tepatnya), dia mengabarkan tulisannya tentang rencana strategis kota surabaya sebagai organopolis dimuat di kompas edisi jawa timur. juga ketika penuh antusiasme dia menceritakan apa saja yang dia pikirkan akan dikerjakannya di INSPIRE di pusdakota.

tapi komunikasi kami pun juga mengenai hidup. sebagai orang yang cukup introvert, saya menghargai keterbukaannya menceritakan pengalaman hidupnya dan refleksinya atas hidup itu sendiri. yang saya amati: email-emailnya tentang hidup selalu singkat. jauh lebih singkat ketimbang emailnya tentang pekerjaannya. namun mendalam. mungkin karena dia, seperti pernah dia aku-kan ke saya, penganut aliran sufisme islam? entahlah.

ke-rendah-hati-annya nampak jelas bagi saya. salman tidak pernah mengambil kredit atas prestasi yang dia ukir. sebaliknya, dia selalu bilang bahwa itu hasil dukungan orang lain. mungkin karena itu, dia tidak ‘muncul’ atau ‘bersinar’ di belantika aktivis sosial di jawa timur. tapi dia tidak pernah peduli dengan itu. dalam salah satu emailnya dia pernah mengungkapkan kegalauannya melihat sendiri bagaimana aktivis sosial banyak yang hidup bak kaum borjuis: yang lebih mementingkan nama ketimbang pencapaian hasil, yang lebih mementingkan uang yang didapat ketimbang partisipasi masyarakat, yang meletakkan ego pribadinya diatas organisasinya atau kelompok dampingannya. bagi orang seperti salman, saya sepenuhnya paham kalau itu membuatnya, seperti yang dia tulis sendiri, menjadi “merasa asing” walau sering berada di antara para aktivis.

menjelang awal tahun 2006, ketika saya ke pusdakota untuk mewawancarai sekaligus melepas kangen saya pada mas cahyo, saya tidak melihat salman di kantor. seorang kawan di pusdakota bilang bahwa salman “masuk angin” dan tidak ke kantor hari itu. karena itu saya juga hanya menitipkan salam. saya menerima email singkatnya akhir tahun 2006 yang mengatakan (bukan mengeluhkan) bahwa dia “letih”, tetapi sekaligus “kemrungsung” (galau, perasaan terburu-buru). tapi dengan bergurau dia juga bertanya di email itu kapan saya akan pulang ke indonesia karena dia butuh “sparring partner yang sepadan” untuk berdiskusi. email itu saya balas, tetapi dia tidak pernah menanggapinya lagi.

saya tidak tahu bahwa ternyata setahun yang lalu, setelah dia “masuk angin” itu, dia menjalani operasi kanker paru-paru di rumahsakit RKZ surabaya. saya tidak tahu bahwa ternyata anak kedua dan ketiganya (kembar) sudah lahir. saya tidak tahu bahwa ternyata kankernya, yang kata dokter sudah diangkat 100% tahun lalu, muncul lagi dan menjadi sangat ganas dan merebut hidupnya hanya dalam hitungan minggu. saya tidak tahu bahwa dia demikian menderitanya dalam saat-saat terakhir hidupnya. saya tidak tahu ini semua sampai saya telepon mas cahyo dan membaca email dari mbak sulis kemarin.

saya tertegun dan termangu. mungkin dia tidak mau orang-orang lain tahu. mungkin dia tidak mau saya tahu kesulitan dan beban hidupnya dan keluarganya. meski saya menyesalkan ini, tapi saya memahaminya sepenuhnya. dalam semua emailnya tidak pernah sekalipun dia mengeluh atau “sambat“. sebaliknya, walau dia menceritakan kerumitan persoalan, dia selalu optimis; walau menceritakan sulitnya sebuah masalah, dia selalu mencoba memberi solusi. kalau saya ingat-ingat, dia selalu mengakhiri emailnya kepada saya dengan kata “tetap!” dengan tanda seru, bukan “salam” dengan koma atau titik (seperti yang sering saya lakukan kalau menutup sebuah email). bagi saya, ini ungkapan optimisnya yang tak pernah padam.

di usia belia, kini dia sudah berpulang menghadap sang khalik, sang sufi sejati. mungkin sang guru memanggilnya karena ingin mengakhiri penderitaannya di dunia yang “kemilau tapi dangkal” ini, seperti yang dia sering ungkapkan. saya sedih dia meninggalkan dunia ini. saya kecewa karena tak pernah bertemu secara fisik dengannya lagi sejak tahun 2004 — dan tak bisa memenuhi keinginannya untuk bertemu lagi dengannya di dunia ini. tapi saya bahagia karena jiwanya kini beristirahat dalam damai di sisi sang guru, khalik, sufi sejati.

selamat jalan, salman. selamat jalan, kawan.

tetap!
y

Advertisements
Categories: Uncategorized

makanan busuk di supermarket

Tuesday, 22 May 2007 18 comments


membaca berita ini di BBC membuat saya muak. cari untung sih cari untung. itu hak semua pebisnis. tapi kalau cari untung caranya begini? jelas tidak bisa dibenarkan.

mungkin daripada rame-rame cari diskon di supermarket, lebih baik kita ikut “menghidupkan” lagi toko-toko dan warung-warung lokal (groceries). tak hanya berkaitan dengan isu revitalisasi kembali komunitas lokal yang makin lenyap ditelan globalisasi di sektor urban, tetapi kita juga tahu darimana makanan yang kita konsumsi itu berasal.

selasa malam ini, 22 mei 2007 jam 21.00, acara Whistleblower BBC One memaparkan dokumentari berita tersebut.

ps. gambar dari BBC

Categories: Uncategorized

harga yang harus dibayar …

Friday, 18 May 2007 17 comments

hari ini, jumat 18 mei 2007 jam 12.30 saya ‘disidang’ oleh external advisor, Prof. Philippe Laredo didampingi supervisor saya Prof. Ian Miles dan Dr. Lawrence Green (google-lah mereka). jam 15.00 saya keluar ruang sidang dengan perasaan yang masih susah saya pilah-pilah (memang saya sering dikritik sebagai “manusia tanpa rasa” hehe..)

apa yang terjadi di ruang sidang itu?

sebenarnya sederhana. hari ini saya memperesentasikan temuan-temuan dalam riset doktoral saya yang saya mulai sejak september 2004. lalu saya juga memaparkan apa(-apa saja) yang saya rencanakan sebelum final submission pada panel terhormat itu. panel menerima pekerjaan saya, kemudian memberi masukan ini-itu-bla-bla-bla. tanggal submisi ditetapkan, form laporan 3rd year review ditandatangani. dan selesai. saya diminta untuk mendaftar ulang besok juli dan memperpanjang visa student bulan oktober.

mengingat ini adalah 3rd year review yang jadi ‘momok’ mahasiswa doktoral di research centre di sini (beberapa dinyatakan downgrade ke MPhil, mayoritas dinyatakan masih harus menyelesaikan fieldwork, banyak dinyatakan masih harus memperbaiki kerangka pikir, sedikit dinyatakan gugur), seharusnya saya happy dengan hasil ini. tapi kok saya malah tidak begitu antusias … mengapa?

sementara saya sendiri sering ragu, kedua supervisor saya malah selama ini sangat yakin bahwa saya bisa menyelesaikan PhD saya dan memecah rekor baru di universitas manchester ini dengan submission dalam 2 tahun 9 bulan – yakni besok juli. jujur saja, saya tidak begitu peduli dengan soal rekor ini. yang ada di kepala saya, sebelum si anak kedua mbrojol, saya sudah harus nulis sebanyak mungkin. karena, dari pengalaman lahirnya anak pertama, setelah kelahiran saya harus siap melupakan PhD selama setidaknya sebulan. kini memang ibu mertua akan hadir (mudah-mudahan visa beliau lolos) dan membantu, tapi tetap saja saya ingin menulis sebanyak mungkin.

tapi ya mosok supervisor saya sudah sebegitu antusiasnya tapi saya malah tidak semangat untuk memecahkan rekor? karena itulah, sampai awal bulan ini, saya juga mulai meyakinkan diri saya sendiri untuk mencoba submit besok juli. delapan bab sudah selesai di-draft. dan itu yang saya presentasikan kepada external advisor yang tinggi besar dan bercambang yang terbang dari paris hanya untuk mereview pekerjaan saya (beliau menjadi reviewer saya sejak tahun lalu).

hasilnya, menurut panel, apa yang saya kerjakan itu ‘bagus’ (tidak GR-lho). tapi masih bisa jauh lebih bagus lagi. sayaratnya, time constraint harus dibuang. jadi, gampangnya, kalau mau thesis saya lebih bagus, saya tak bisa submit juli dan memecahkan rekor. saya diproyeksikan bisa submit september, yang berarti tepat tiga tahun (yang menurut pak advisor sudah sangat bagus, karena rata-rata mahasiswa yang mengambil riset doktoral interdisiplin seperti saya ini lulus/selesai PhD 4, 4.5 atau 5 tahun).

sebenarnya saya sih bebas untuk mengatakan “ya” atau “tidak” dengan ‘tantangan’ ini. kalau saya bilang ‘tidak’, berarti saya seperti semula akan tetap submit juli, dengan PhD yang (katanya) bagus. kalau saya bilang ‘ya’, berarti saya akan submit september, dengan PhD yang (semoga) lebih bagus. karena saya benci lari dari tantangan, saya bilang “ya” dengan gagah berani di depan panel …

keluar dari ruangan sidang, saya jadi mikir banyak. apakah ‘worth‘ saya menerima ‘tantangan’ ini? apakah ini menunjukkan egoisnya saya dan tidak mikir keluarga yang selama ini mendukung saya, kawan-kolega aktivis di Indonesia yang mengharapkan saya segera pulang dan terjun ke dunia aktivitas gerakan sosial lagi?

well, ini tantangan kedua sebenarnya. bulan desember yang lalu, saya ditantang oleh pak advisor yang sama untuk menulis thesis dalam format yang ‘tidak biasa’. maksudnya, saya ditantang untuk tidak menulis thesis saya dalam format yang baku di inggris ini (pendahuluan, konteks, literatur, metodologi, temuan 1 s.d. n, diskusi, kesimpulan). melainkan, ditulis dalam gaya ‘kumpulan artikel’, yaitu pendahuluan, review1, review2, kritik metodologi, temuan1, temuan 2, temuan 3, temuan 4, implikasi teoretis dan kesimpulan — dimana review, kritik metode dan temuan bukanlah usual functional chapters, melainkan stand alone articles. tujuannya, agar PhD thesis saya ini bisa segera dipublikasikan.

tantangan pertama itu saya terima (juga dengan gagah berani ..). akibatnya, thesis saya yang sebenarnya bisa selesai bulan april 2007 kemarin (bayangin, 2 tahun 6 bulan – lebih cepat lagi) jadi molor karena ‘restrukturisasi’ ini. dan molornya sebenarnya ya cuma ke 2 tahun 9 bulan ini. tapi karena kini saya terima tantangan kedua ini, jadi 3 tahun, deh …

mungkinkah ini harga yang harus saya bayar karena mau thesis saya lebih baik? saya belum bicara dengan istri saya soal ini. idealnya, memang sebelum saya bilang “ya” atau “tidak” ketika menjawab tantangan tadi, saya harus bicarakan semua kemungkinannya dengan keluarga saya. karena PhD bagi mahasiswa yang sudah berkeluarga seperti saya ini kan bukan semata keputusan individual (atau egoistik). tapi ya karena panel meminta menjawab seketika itu juga, dan karena saya juga tidak mau (gengsi? hehe..) jadi pecundang menghadapi tantangan, saya jawab “ya” dengan tegas dan gagah berani . well … kini keputusan sudah diambil. tinggal menghitung semua konsekuensinya.

memang sih, soal finansial, sampai dengan submisi final, semoga tidak ada masalah. beasiswa saya memang sudah habis. tapi syukurlah saya mendapat grant dari sebuah organisasi di swiss-belanda untuk writing up. selain itu pekerjaan saya di kampus sebagai asisten profesor saya juga terus diperpanjang sampai (kata profesor saya) sesuka saya. dari kedua sumber ini, keluarga saya bertahan hidup. dan ini juga yang dikatakan profesor saya tadi, bahwa walau rekor gagal dipecah, thesis saya bisa jadi model di research centre di school ini dan saya tetap bisa survive meski minimum. namun, bukankah ini bukan hanya soal uang?

entahlah. perasaan dan pikiran saya masih campur aduk saat ini …

selamat berakhir pekan!

ps. gambar dari sini.

Categories: Uncategorized

the blair decade

Friday, 11 May 2007 3 comments

dengan mundurnya PM inggris tony blair, mungkin anda tertarik membaca attachment posting ini: isinya rangkuman beberapa trend kunci selama blair menjabat PM (1997-2007) yang dilakukan oleh salah satu lembaga riset inggris, Ipsos-MORI.

silakan dinikmati dan selamat berakhir pekan.

Categories: Uncategorized

mohon dukungan – mahasiswa ITS terancam DO

Wednesday, 2 May 2007 4 comments

pagi ini saya mendapat email dari kawan saya di indonesia tentang tiga mahasiswa ITS yang terancam DO karena ikut dalam demo solidaritas menentang lapindo. nampaknya, ITS yang selama ini dianggap malah menjadi konsultan lapindo, merasa jengah dengan hal ini dan berupaya “membungkam” protes yang dilakukan mahasiswanya sendiri.

jika betul, sungguh keterlaluan. jika tidak, semoga call for support ini membuat ITS makin kritis.

jika anda ada waktu barang 3 menit, dukunglah adik-adik dan kawan-kawan kita ini.

terima kasih!

—– Original Message —–
From: firdaus cahyadi
Sent: Wednesday, May 02, 2007 10:54 AM
Subject: DUKUNG SERUAN AKSI UNTUK KASUS LAPINDO (30 April – 6 Mei 2007)

DUKUNG SERUAN AKSI UNTUK KASUS LAPINDO (30 April – 6 Mei 2007)

Yuliani (juga aktivis WALHI Jatim), Tomy Dwinta Ginting dan Beny Ihwani adalah tiga mahasiswa ITS yang terancam di keluarkan dari kuliahnya (DO, DropOut), karena ikut menggelar aksi solidaritas korban lumpur Lapindo di kampus ITS. Pihak rektorat menganggap mereka telah melanggar Peraturan tata kehidupan Kampus. (Baca artikel : Ikut Aksi Solidaritas korban Lumpur Lapindo, Mahasiswa ITS diancam DO)

Mereka meminta meminta dukungan dan solidaritas kawan-kawan media, organisasi massa demokratik dan individu progresif, melalui surat berikut. Cantumkan (Nama, asal lembaga, Alamat) dibawah surat berikut dan kirimkan ke: jatam AT jatam DOT org

Kami juga meminta kawan-kawan untuk mengirimkan SMS, surat protes, surat keprihatinan, somasi dan bentuk lainnya dialamatkan ke :

1. Prof. Dr. Ir. Priyo Suprobo (Rektor ITS) hp 0811334029
2. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M. Eng. (Pembantu Rektor III ITS), hp 0811333017
3. Prof. Dr. Taslim Ersam, MS (Ketua TPP), hp 081330731952
4. Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111, Telp. 031 – 599 4251-54, 594 7274, 594 7775, 594 5472 , Fax 031 – 592 3465, 594 7845

Mohon dukungan dan solidaritas juga ditembuskan kepada :

1. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Pintu 1 Senayan Jakarta 10002
Telp. : 021 – 5731618, Fax. 021 – 573 6870
Email : pusdatin AT depdiknas DOT go DOT id

2. Bp. Awaluddin Hamid, Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia
Alamat : Jl. HR. Rasuna Said Kav. 6-7 Kuningan Jakarta 12940
Telp. : 021 – 525 3006 Fax. : 021 – 525 3095

3. Bapak Abdul hakim Garuda Nusantara, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
Alamat : Jl. Latuharhary No. 4-B Jakarta 10310
Telp. : 021 – 392 5227-30 Fax. : 021 – 392 5227
Email : info AT komnas DOT go DOT id

* * * * *

SURAT DUKUNGAN

Jakarta, 7 Mei 2007

Kepada Yth.
Prof. Dr. Ir. Priyo Suprobo
Rektor Institut Teknologi Sepuluh November

Di Surabaya

cc.
Dr. Bambang Sudibyo, MBAMenteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Bapak Awaluddin Hamid, Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia
Bapak Abdul hakim Garuda Nusantara, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
Dr. Ir. Achmad Jazidie, M. Eng. , Pembantu Rektor III ITS
Prof. Dr. Taslim Ersam, MS , Ketua TPP ITS

Dengan Hormat,

Kami adalah berbagai kelompok Masayarakat sipil yang sangat prihatin dengan bencana ekologis luapan lumpur panas Lapindo.

Bersama surat ini, Kami menyampaikan keprihatinannya terhadap tindakan rektorat ITS yang mengancam mencabut hak tiga mahasiswanya. Mereka adalah Yuliani dan Tomy Dwinta Ginting (Perencanaan Wilayah dan Kota – FTSP ITS) dan Beny Ihwani (D-III Teknik Mesin – FTI ITS).

Kami memprotes keras pernyataan Dr. Ir. Achmad Jazidie, M. Eng., (Purek III ITS) yang menyatakan ke beberapa media lokal bahwa tiga mahasiswa diatas akan dikenai sanksi berupa skorsing dan atau Drop Out. Sangsi tersebut dikenakan karena mereka ikut menggelar aksi solidaritas terhadap korban luapan Lumpur panas Lapindo di pintu masuk Gedung Rektorat ITS, pada 6 Maret 2007.

Hampir setahun, ribuan warga korban luapan lumpur Lapindo terpaksa mengungsi karena rumah dan alat produksi (tanah, sawah dllmereka tenggelam lumpur panas. Kehidupan sosial, nilai-nilai budaya, rasa aman, kenyamanan juga turut hilang. Ternyata penderitaan tidaklah cukup, kejelasan nasib mereka terus dipermainkan. Ganti rugi yang mereka tuntut, terus ditarik ulur oleh Lapindo dengan berbagai alasan, misalnya masalah sertifikat tanah dan data harta benda mereka yang tenggelam.

Warga korban lumpur Lapindo mengungkapkan (06/03/07) bahwa ITS telah melakukan pendataan terhadap mereka sejak bulan Juni 2006. Saat itu, ITS manyatakan data tersebut nantinya digunakan untuk kepentingan warga saat meminta ganti rugi ke Lapindo. Saat ini, warga korban kesulitan melakukan pendataan terhadap rumah dan asset mereka yang telah terendam lumpur. Sudah berulang kali, warga meminta data tersebut untuk menghitung kerugian dan sebagai pembanding data versi Lapindo. Anehnya dengan berbagai alasan, berkali-kali permintaan warga selalu ditolak. Inilah yang menjadi alasan mengapa aksi tersebut digelar.

Kami sangat menyayangkan sikap ITS yang tidak transparan. Kami menilai Tim Penyelesaian Pelanggaran (TPP) yang dibentuk pada 9 Maret 2007 melalui SK Rektor No.1456.8/K03/KM/2007 merupakan bentuk pengalihan masalah. Harusnya ITS membentuk tim yang mengusut penyimpangan peran ITS dalam kasus semburan lumpur Lapindo. Selama ini ITS berperan layaknya konsultan PT Lapindo. Warga mengeluhkan ITS tidak transparan dalam proses dan hasil pendataan korban lumpur Lapindo di Porong.

Oleh karenanya kami mendesak :

1. ITS bersikap adil terhadap mahasiswanya, dan tidak menghambat apalagi menghalangi kebebasan berekpresi mahasiswanya di kampus.

2. ITS transparan kepada warga terkena dampak luapan lumpur Lapindo dan mendukung mereka memulihkan haknya yang terampas.

3. Berbagai pihak untuk berniat baik dan mengupayakan berbagai cara menyelamatkan korban luapan lumpur Lapindo, memulihkan hak-hak asasi mereka.

Demikian surat ini, atas perhatian dan kerjasamanya kami sampaikan terima kasih.

Hormat Kami,

(Nama, Asal lembaga, Alamat)

Categories: Uncategorized