Home > Uncategorized > selamat jalan, kawan…

selamat jalan, kawan…

salman nurdin 1995
foto atas kebaikan mbak wahida

kemarin pagi saya mendapat satu email singkat dari surabaya yang mengabarkan bahwa seorang kawan saya, salman nurdin, aktivis di pusdakota surabaya, baru saja meninggal dunia. walau saya tak pernah berinteraksi secara sangat intensif dan dalam waktu lama dengannya, saya kira dia lebih dari sekedar kawan aktivis, atau kolega LSM, bagi saya.

saya pertama kali mengenalnya dalam sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi masyarakat sipil USC satunama yogyakarta (CEFIL, civic education for future indonesian leaders) ketika saya menjadi fasilitator dan dia menjadi peserta di tahun 2002 (atau 2003? saya lupa tepatnya). kesan saya saat pertama kali bertemu salman: anak muda yang cerdas, punya visi, open mind, rendah hati, dan punya komitmen. maka saya tak heran kalau mas cahyo suryanto, direktur pusdakota surabaya, yang mengajak saya terlibat dalam pelatihan CEFIL tersebut lalu merekrutnya dan menjadikannya salah satu anggota tim inti di lembaganya. salman menjadi koordinator program Institute of Participatory Learning (INSPIRE). posisi yang pas, menurut saya, bagi seorang yang selalu mau belajar dan membagikan apa yang dipelajarinya itu ke masyarakat. tanggungjawab itu dia emban sampai detik terakhir hidupnya.

bagi orang yang mengaku tidak akrab dengan dunia cyber, cukup sering salman mengirim email kepada saya. saat selesai pelatihan CEFIL dia berkorespondensi untuk meminta banyak tulisan, materi dan referensi untuk dia pelajari; saat membantu LP3ES surabaya, kami banyak bertukar pikiran soal metodologi riset sosial yang aplikatif. dia menulis cukup panjang saat minta pendapat saya ketika mempertimbangkan tawaran mas cahyo untuk bergabung di pusdakota — yang tentu saja saya dukung sepenuh hati. selama di pusdakota pun, dia sering mengabarkan keadaan dirinya dan aktivitasnya. saya tak akan lupa ketika dengan sangat bersemangat, pada tahun 2005 (lupa tepatnya), dia mengabarkan tulisannya tentang rencana strategis kota surabaya sebagai organopolis dimuat di kompas edisi jawa timur. juga ketika penuh antusiasme dia menceritakan apa saja yang dia pikirkan akan dikerjakannya di INSPIRE di pusdakota.

tapi komunikasi kami pun juga mengenai hidup. sebagai orang yang cukup introvert, saya menghargai keterbukaannya menceritakan pengalaman hidupnya dan refleksinya atas hidup itu sendiri. yang saya amati: email-emailnya tentang hidup selalu singkat. jauh lebih singkat ketimbang emailnya tentang pekerjaannya. namun mendalam. mungkin karena dia, seperti pernah dia aku-kan ke saya, penganut aliran sufisme islam? entahlah.

ke-rendah-hati-annya nampak jelas bagi saya. salman tidak pernah mengambil kredit atas prestasi yang dia ukir. sebaliknya, dia selalu bilang bahwa itu hasil dukungan orang lain. mungkin karena itu, dia tidak ‘muncul’ atau ‘bersinar’ di belantika aktivis sosial di jawa timur. tapi dia tidak pernah peduli dengan itu. dalam salah satu emailnya dia pernah mengungkapkan kegalauannya melihat sendiri bagaimana aktivis sosial banyak yang hidup bak kaum borjuis: yang lebih mementingkan nama ketimbang pencapaian hasil, yang lebih mementingkan uang yang didapat ketimbang partisipasi masyarakat, yang meletakkan ego pribadinya diatas organisasinya atau kelompok dampingannya. bagi orang seperti salman, saya sepenuhnya paham kalau itu membuatnya, seperti yang dia tulis sendiri, menjadi “merasa asing” walau sering berada di antara para aktivis.

menjelang awal tahun 2006, ketika saya ke pusdakota untuk mewawancarai sekaligus melepas kangen saya pada mas cahyo, saya tidak melihat salman di kantor. seorang kawan di pusdakota bilang bahwa salman “masuk angin” dan tidak ke kantor hari itu. karena itu saya juga hanya menitipkan salam. saya menerima email singkatnya akhir tahun 2006 yang mengatakan (bukan mengeluhkan) bahwa dia “letih”, tetapi sekaligus “kemrungsung” (galau, perasaan terburu-buru). tapi dengan bergurau dia juga bertanya di email itu kapan saya akan pulang ke indonesia karena dia butuh “sparring partner yang sepadan” untuk berdiskusi. email itu saya balas, tetapi dia tidak pernah menanggapinya lagi.

saya tidak tahu bahwa ternyata setahun yang lalu, setelah dia “masuk angin” itu, dia menjalani operasi kanker paru-paru di rumahsakit RKZ surabaya. saya tidak tahu bahwa ternyata anak kedua dan ketiganya (kembar) sudah lahir. saya tidak tahu bahwa ternyata kankernya, yang kata dokter sudah diangkat 100% tahun lalu, muncul lagi dan menjadi sangat ganas dan merebut hidupnya hanya dalam hitungan minggu. saya tidak tahu bahwa dia demikian menderitanya dalam saat-saat terakhir hidupnya. saya tidak tahu ini semua sampai saya telepon mas cahyo dan membaca email dari mbak sulis kemarin.

saya tertegun dan termangu. mungkin dia tidak mau orang-orang lain tahu. mungkin dia tidak mau saya tahu kesulitan dan beban hidupnya dan keluarganya. meski saya menyesalkan ini, tapi saya memahaminya sepenuhnya. dalam semua emailnya tidak pernah sekalipun dia mengeluh atau “sambat“. sebaliknya, walau dia menceritakan kerumitan persoalan, dia selalu optimis; walau menceritakan sulitnya sebuah masalah, dia selalu mencoba memberi solusi. kalau saya ingat-ingat, dia selalu mengakhiri emailnya kepada saya dengan kata “tetap!” dengan tanda seru, bukan “salam” dengan koma atau titik (seperti yang sering saya lakukan kalau menutup sebuah email). bagi saya, ini ungkapan optimisnya yang tak pernah padam.

di usia belia, kini dia sudah berpulang menghadap sang khalik, sang sufi sejati. mungkin sang guru memanggilnya karena ingin mengakhiri penderitaannya di dunia yang “kemilau tapi dangkal” ini, seperti yang dia sering ungkapkan. saya sedih dia meninggalkan dunia ini. saya kecewa karena tak pernah bertemu secara fisik dengannya lagi sejak tahun 2004 — dan tak bisa memenuhi keinginannya untuk bertemu lagi dengannya di dunia ini. tapi saya bahagia karena jiwanya kini beristirahat dalam damai di sisi sang guru, khalik, sufi sejati.

selamat jalan, salman. selamat jalan, kawan.

tetap!
y

Categories: Uncategorized
  1. Thursday, 24 May 2007 at 12:00 am

    inna lillahi wa inna lillahi rojiun, turut berduka cita Mas.

  2. Friday, 25 May 2007 at 12:00 am

    ciput said: inna lillahi wa inna lillahi rojiun, turut berduka cita Mas.

    terima kasih mas ciput.

  3. Friday, 25 May 2007 at 12:00 am

    innalillahi..wainna ilaihi rojiun..saya juga merasa kehilangan beliau…senang sekali menemukan blog ini di search engine, serasa ada teman berbagi memori ttg Salman..obituari saya untuknya ada di http://cikicikicik.blogspot.com

  4. Saturday, 26 May 2007 at 12:00 am

    cikicikicik said: saya juga merasa kehilangan beliau…

    demikian pula saya, mbak. saya baca kisah hidupnya dari blog anda. terima kasih. salman memang pribadi unik. semoga jiwanya kini beristirahat dalam damai bersama penciptanya yang selama hidupnya tak pernah lelah ia “cari”.

  5. Monday, 28 May 2007 at 12:00 am

    Halo Mas YNugroho, salam kenal. Aku Nurman alias Nanung, mas landese Udin. Saya jadi teringat begitu tegarnya adikku ini pada saat dioperasi pengangkatan tumor paru2nya. Walaupun sulit bergerak dia memintaku untuk mem-fotonya! Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, mungkin dia menganggap, keadaan seperti itu bukanlah kondisi yang hina dan melemahkan. Atau dia malah menikmatinya, dianggapnya sakitnya itu sebagai tamu yang harus dimulyakan. Wallahu’alam. Bagi saya yang non-sufi ini agak sulit membacanya. Anyway matursuwun telah memberi catatan di blog ini. Bagi saya sendiri dapat dijadikan sarana untuk mengenang adikku yang istimewa ini. (Nurman Numeiri — numeiri@yahoo.com)

  6. Tuesday, 26 June 2007 at 12:00 am

    ynugroho said: dia pernah mengungkapkan kegalauannya melihat sendiri bagaimana aktivis sosial banyak yang hidup bak kaum borjuis: yang lebih mementingkan nama ketimbang pencapaian hasil, yang lebih mementingkan uang yang didapat ketimbang partisipasi masyarakat, yang meletakkan ego pribadinya diatas organisasinya atau kelompok dampingannya.

    So reflexive Mas… TFS here…Mudahan Allah merengkuhnya dan meletakkan ditempat yang mulia, amin…Setuju banget sama pernyataan beliau ini Mas, sigh…, aku juga prihatin banget atas fenomena para activist ‘borjouis’ itu…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: