Archive

Author Archive

#sewindu bersama @arumdati

Tuesday, 14 February 2012 6 comments

#sewindu mengarungi bahtera rumahtangga bersama @arumdati. mencoba setia saling menemani, menyemangati & menguatkan dlm jalan peziarahan ini.

1. “amantium irae amoris integratio est – pertengkaran dua kekasih akan memperbarui cinta mereka.” -Terence; dikutip oleh Winston Churchill

2. “si vis amari, ama – jika kamu ingin dicintai, cintailah.” – seneca philosophus, epistulae

Read more…

menerawang masa depan di TFSC

Sunday, 12 February 2012 2 comments

Tulisan saya bersama Ozcan Saritas tentang “menerawang masa depan”, tampil di jurnal bergengsi (bintang 3) Technological Forecasting and Social Change – TFSC (Vol 79 (3) March 2012, Pages 509–529). Tulisan ini adalah analisis lebih lanjut tentang data yang kami gunakan dalam paper tahun 2009 ketika kami menggabungkan Network Analysis dengan foresight. Kalau dalam paper 2009 kami lebih berkutat pada metodologi, maka pada paper ini kami berfokus pada data dan interpretasinya.

Read more…

menjadi editor tamu di Internetworking Indonesia Journal

Tuesday, 20 December 2011 Leave a comment

Kira-kira pertengahan tahun lalu (2010), Chief Editor jurnal khusus Indonesia “Internetworking Indonesia Journal” (IIJ), pak Thomas Hardjono menghubungi saya. Beliau meminta saya menjadi anggota Technical Editorial Board. Sebuah undangan yang langsung saya sambut dengan antusias (selama ini menjadi reviewer di jurnal lain – mengapa tidak untuk jurnal berorientasi Indonesia? :) ). Lantas tak lama, pak Thomas mengusulkan agar saya dan kolega baik saya, teh Merlyna Lim menjadi editor tamu untuk special issue di IIJ. Sebuah permintaan yang juga langsung saya dan Mer sanggupi.

Read more…

artikel di journal Foresight Rusia

Sunday, 30 October 2011 Leave a comment

Saya tak menyangka bahwa tulisan kolaborasi metodologis eksperimentatif menggabungkan Social Network Analysis ke dalam metodologi Foresight yang dimuat di Jurnal “foresight” tahun 2009 kini menjadi banyak didiskusikan. Saya dan co-author saya, Ozcan Saritas, diundang ke banyak konferensi dan seminar untuk mempresentasikan tulisan ini. Nampaknya ketertarikan (dan kritik) banyak orang pada tulisan tersebut terletak pada dua hal: (1) bagaimana kami ‘nekat’ menggabungkan kedua metode tersebut, dan/atau (2) data yang dan temuan yang ‘menghentak’ :)

Read more…

Masalah kota, masalah kita – rusuh kota, rusuh kita

Wednesday, 24 August 2011 6 comments

Menanggapi kerusuhan di Inggris -yang juga melanda kota dimana kami tinggal di Manchester- saya menulis catatan di bawah ini sebagai reaksi atas berbagai analisis yang gencar muncul di media. Catatan ini saya kirim ke harian Kompas 11 Agustus dan, setelah diedit sana-sini, dimuat tanggal 22 Agustus 2011 (silakan baca di sini). Sebelumnya, juga saya ‘kicau’kan di Twitter, yang diarsip rekan saya mas Suryaden di blognya (di sini).

Selamat menikmati catatan (yang lebih lengkap) ini – semoga berguna.

Read more…

dari home-education summer festival 2011

Wednesday, 3 August 2011 Leave a comment

Akhir Juli 2011 kami sekeluarga mengikuti Home-Education Summer Festival (HESFES) 2011 di Rougham, Ipswich. Kami memang (setidaknya saat ini) memilih meng-home-educate kedua anak kami. Dan inilah pertama kalinya kami mengikuti festival ini. Rame, gayeng.

Saya dan istri saya, Ira, berkolaborasi menulis pengalaman keikutsertaan kami di acara tersebut. Silakan simak di blognya.

Salam,
y

menembus jurnal bintang empat: Research Policy! :)

Friday, 3 June 2011 1 comment

Bagi para skolar inovasi dan kebijakan, salah satu mimpi tertinggi adalah mempublikasikan tulisan di jurnal paling bergengsi di area ini di dunia: Research Policy. Dan syukur kepada Allah, alhamdulillah, halleluya :) tulisan saya akhirnya nongol di jurnal ini. Yeay!!! :) *lebay* Dan tentu saja, ini menerbitkan di RP ini bukan jalan yang gampang dilalui bagi saya yang masih harus belajar banyak ini. Mau tahu ceritanya?

Read more…

Social media in civil society— citizens in @ction

Saturday, 30 April 2011 1 comment

The Jakarta Post - OPINION, 30 April 2011
Yanuar Nugroho – MIOIR, Manchester
Shita Laksmi – HIVOS, Jakarta

Among many recent trends specifically in technology and civic engagement in Indonesia, two are highly salient.

One, statistics show convincingly that globally Indonesia ranks highly in terms of social media use, as home to the second-largest number of Facebook users (35.2 million) and as number four in terms of Twitter users (4.9 million). Undoubtedly, social media has become an inseparable part of life for many Indonesians.

Two, the blossoming of civic activism goes beyond the confinement of formal organizations that are organized around common interests and concerns, aiming at transforming some aspects of social life. This ranges from activism, as in the case of hundreds of thousands of people who backed Prita Mulyasari in her legal fight against Omni International Hospital, to the “Bike2Work” movement in many cities in Indonesia aiming at promoting healthier lifestyle whilst combating pollution.

Read more…

Report: Social media & civil society in Indonesia (updated)

Sunday, 3 April 2011 11 comments

DIPERBARUI/UPDATED 7/5/2011

(English version below)

Beberapa saat yang lalu saya dan mbak Shita Laksmi mempost di blog ini sebuah permintaan tolong untuk berpartisipasi dalam sebuah studi yang dilakukan bersama oleh Manchester Institute of Innovation Research (MIOIR), Universitas  of Manchester UK dan  HIVOS Netherlands Regional Office Southeast Asia mengenai media sosial dan peranserta sipil di Indonesia. Studi ini telah berakhir dan laporan lengkap bisa didownload di sini.  Laporan dalam Bahasa Inggris akan sudah dirilis di MIOIR pada hari Senin 4 April 2011 3-5 sore (silakan daftar lewat email saya) dan di Universitas Salfor hari Rabu jam 2.30-4.30 sore (silakan daftar di sini). Dalam acara rilis laporan tersebut juga akan telah dilakukan pemutaran film dokumenter  tentang media sosial dan gerakan sosial di Indoensia, @linimas(s)a, yang juga didanai sebagian oleh HIVOS. Cuplikan film tersebut bisa disaksikan di sini.

Laporan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh mas Aresto Yudo Sujono (@arestoyudo) dan diedit oleh mas BlontankPoer (@blontankpoer). Rencananya, laporan versi Bahasa Indonesia ini akan dirilis -bersamaan dengan pemutaran penuh film @linimas(s)– di Jakarta, 12 Mei 2011 dalam sebuah acara yang diselenggarakan bersama-sama oleh Internetsehat, ICTWatch, WatchDOC, AkademiBerbagi dan HIVOS di Goethe Institute jam 6-9 malam (konferensi pers jam 3-5 sore). Silakan hadir. Versi Bahasa Indonesia laporan Citizens in @ction / @ksi Warga bisa diunduh di sini.

Read more…

The return of Big Brother to Indonesia?

Saturday, 2 April 2011 1 comment

The Jakarta Post – Opinion, 30 March 2011
Yanuar Nugroho
Manchester, United Kingdom

Advances in Internet technology have changed the way people live. For many it has brought the appealing promises of global community, democracy and openness.

Many others fear technological threats such as alienated individuals, anarchy, surveillance and repression. The House of Representatives’ proposed intelligence bill is a clear example of the latter.

The bill, if enacted into law, would give the authorities a free pass to monitor conversations and exchanges on the Internet.

Even worse, the bill would give legal justification to the National Intelligence Agency (BIN) to detain anyone suspected of threatening public security based on exchanges on social networking sites such as Twitter or Facebook.

While the very same social media have given birth of a new type of civic engagement globally, in Indonesia, in the eyes of the bill’s drafters, technology is a threat.

Read more…

Call for paper: Social Implications of ICTs in the Indonesian Context

Saturday, 2 April 2011 1 comment

Merlyna Lim and I are inviting you to submit paper to be considered in a special issue of the Internetworking Indonesia Journal (IIJ),  a peer reviewed semi-annual electronic journal devoted to the timely study of the Information and Communication Technology (ICT) and Internet development in Indonesia. We are seeking manuscripts that look at a wide variety of ICT uses and what implications these uses have on people, organizations and society in the Indonesian context as the technology becomes more widely available. We also welcome those who look at the other side of the coin, i.e. manuscripts that focus on the cultural, social and political shaping of the technologies by Indonesian society.

Although the journal accepts manuscripts in Indonesian, we prefer to have English ones for the sake of wider audience  coverage.

Read the full Call for Papers here.

An innovation perspective of knowledge management in a multinational subsidiary

Friday, 4 February 2011 1 comment

Journal of Knowledge Management, 15(1):71-87

1. Introduction

Organisations nowadays have been faced with the challenges of managing increasingly more complex activities in the knowledge-based economy. As Castells (2000) suggests, knowledge economy is characterised as being informational, global and networked. In his view, information and knowledge plays an important role in modern economy, giving new perspective to the works of some earlier economists who had already hinted this issue, such as Marshall (1965)Hayek (1945) and Schumpeter (1951, 1952). The consequence of this is clear: organisations working in knowledge economy cannot but conceive themselves as learning agents capable of creating and managing knowledge to achieve their purpose (Antonelli, 2008).

Read more…

Survey: Internet, social media, dan komunitas sipil di Indonesia

Monday, 6 September 2010 2 comments

Rekan-rekan sekalian, para pegiat Komunitas/Kelompok/Jaringan/Organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia,

dimanapun Anda berada

Saat ini kami, Yanuar Nugroho dan Shita Laksmi dari Universitas Manchester UK dan HIVOS, ingin mengundang Anda sekalian untuk berpartisipasi dalam survey untuk mengetahui bagaimana komunitas/kelompok/lembaga/jaringan/organisasi masyarakat sipil di Indonesia memanfaatkan teknologi informasi, khususnya internet dan social media. Survey ini ditujukan untuk komunitas/kelompok/lembaga/organisasi bukan perorangan. Cukup satu orang mengisi untuk satu komunitas/kelompok/lembaga/organisasi.

Ada beberapa kemungkinan mengikuti/mengisi survey ini.
  • Pertama, melalui survey online – silakan klik link ini, atau copy and paste-kan pada browser Anda: http://mbs.qualtrics.com/SE?SID=SV_0cEQLkCyokGzZME
  • Kedua, melalui form MS-Word. Silakan download di sini dan setelah diisi dan disave, kirimkan kepada saya dan/atau mbak Shita di alamat email kami di bawah.
  • Ketiga, melalui form Open Office (ODT). Silakan download di sini dan setelah diisi dan disave, kirimkan kepada saya dan/atau mbak Shita di alamat email kami di bawah.

Localising the global, globalising the local: The role of the internet in shaping globalisation discourse in Indonesian NGOs

Friday, 30 July 2010 Leave a comment

Journal of International Development, Early-cite, DOI: 10.1002/jid.1733

Yanuar Nugroho

Abstract

Globalisation arguably brings about socio-economic development but the distribution of these benefits is unequal. Non-governmental organisations (NGOs), whose growth has often been closely linked with globalisation, have been outspoken regarding this inequality. Despite clear linkages between NGOs and globalisation, there has been little research aiming at understanding how NGOs engage with the issue of globalisation itself. Using the case of Indonesia, this study aims to uncover how NGOs utilise the Internet to respond to globalisation-related issues. NGOs should understand global issues in their local contexts and rearticulate more saliently for their beneficiaries. Technology can serve this purpose when used strategically. Copyright © 2010 John Wiley & Sons, Ltd.

Exploring Knowledge Management in Civil Society Organisations

Thursday, 10 June 2010 2 comments

Exploring Knowledge Management in Civil Society Organisations: Sustaining Commitment, Advancing Movement

by Yanuar Nugroho and Mirta Amalia

Manchester Business School (MBS) Working Paper No. 600
Manchester Institute of Innovation Research (MIOIR) Working Paper No. 56

This paper is currently under review in the International Conference of Knowledge Management and Information Sharing (KMIS), part of IC3K (International Joint Conference on Knowledge Discovery, Knowledge Engineering and Knowledge Management), Valencia, Spain 25-28 October 2010, and is being revised for a journal submission.

Abstract

Civil society organisations (CSOs) have recently attracted much research attention, as they have become more central in social as well as economic and political dynamics, challenging and shaping the work of the state/public organisations and of the private institutions. Despite the fact that they are actually knowledge-intensive organisations, CSOs –like any other organisations– are faced with new challenges due to the advent of knowledge economy. Knowledge-capital in CSOs is highly diverse and this affects both the organisational performance and the civil society movement within which they are part of. Most of the knowledge in CSOs that has been driving and characterising civil society activities and realms is tacit in nature and is largely unmanaged. Consequently, in the long run, the organisations and their movement often become unstable despite efforts to manage their activities. We use the works of Polanyi and Nonaka to help address this problem and conceptualise the corpus of knowledge in CSOs. To anchor this conceptualisation, we feature the case of Indonesia where CSOs in a latecomer economy have been significantly influencing the work of public and private sectors. We find that managing tacit knowledge has been crucial to sustain the engagements with beneficiaries and networks. We propose taxonomy to understand different types of knowledge in CSOs and suggest a guiding principle to strategically manage it.

Full paper
available for download from here

Comments are most welcome! :-)

Knowledge Management in Multinational Subsidiary in Indonesia: A lesson learned

Monday, 29 March 2010 1 comment

Last year, among the students I was supervising, was a brilliant student from Indonesia who finally got her MSc with distinction: Mirta Amalia. Her dissertation explored and investigated the ways in which a multinational company susbsidiary devised and implemented the knowledge management strategy. It was a very interesting dissertation. She found fascinating empirical data on the importance of “enabling session” which was arguably vital in the process of tacit knowledge transfer within the company. However, she noted that this scheme was at large at risk as there had been no clear prioritisation.

I can keep on and on and on talking about her dissertation, but I’d better stop here. Contact her directly if you want to read her intriguing dissertation. What I want to say is that the way she formulated and wrote the dissertation was quite sophisticated and I thought the dissertation should not stop there. So I encouraged her to build on that work and write papers.

Read more…

NGOs, the Internet and Sustainable Development

Friday, 12 February 2010 1 comment

NGOs, THE INTERNET AND SUSTAINABLE RURAL DEVELOPMENT
The case of Indonesia

Information, Communication and Society, 13(1):88-120, 2010

Yanuar Nugroho

Abstract
Today sustainable rural development is of paramount importance in Indonesian development. Yet, different social actors have different perspectives on it. Non-government organizations (NGOs) in Indonesia have established themselves in pivotal positions in the social, economic and political landscape across the country, and a large amount of their work has been connected with development in the rural sector. But, there has been little attempt to understand how NGOs in Indonesia, particularly rural NGOs, engage with the issue of sustainable rural development itself. Since rural development is one of the oldest issues to be discussed among activists, since the early days of Indonesian NGOs, it is interesting to see how they understand the issue of sustainability in rural development and rural reform. An empirical study was conducted recently to see how some Indonesian NGOs, in their endeavour to respond to and broaden the discourse, utilize Internet technology. The study employs a combination of quantitative and qualitative approaches to build a detailed story about how different organizations working in rural development deploy strategies to deal with the issue. By doing so, it aspires to contribute to the advancement of theory relating to the efficacy of the Internet as a tool for social reform and sustainable development by taking Indonesia as a case study.

Read more…

a sign…

Sunday, 10 January 2010 Leave a comment

the white britain

i believe in divine intervention. i believe in the ‘sign’ from ‘high-above’ – whatever people call it: God, god, gods, ultimate-energy, whatever. this picture will always remind me of that. in the beginning of this year, yearning for things to be just fine, in my prayer i asked for a ‘sign’: snow – and granted! (BBC and independent forecasted the snow would start two days later). a bit too much, though..! :-) – a coincidence? perhaps. but i don’t care. divine signs and miracles are always coincidences – it depends on how you see them!

thank you, and thank You
(ma – ch, 4/1/10:5.15pm – when the first snow fell)

Read more…

Categories: 0 ALL, 0 english, reflection

How low can you go? Catatan akhir 2009

Thursday, 31 December 2009 8 comments

Natalan kemarin, seperti pernah terjadi pada tahun 2007, Ira mengajak Aruna dan Nara ke sebuah panti asuhan di dekat rumah di Pontianak. Panti asuhan itu khusus menangani anak-anak yang menderita hydrochepalus – kelainan akibat akumulasi cairan saraf di otak. Aruna bermain-main dengan anak-anak Panti yang sepantaran dirinya. Nara sempat takut melihat cacat fisik para penderita hydrochepalus itu, tapi cuma sesaat, lantas menunjukkan simpati dan kedekatan pada mereka. Kata Ira, Nara suka mengelus bayi-bayi hydrochepalus itu sambil bilang, “Adik bayi … sayang … sakit? sayang …” – memang belum banyak perbendaharaan katanya, tetapi Nara yang baru 2.5 tahun itu sudah menunjukkan empati besar pada ‘adik-adiknya’ yang menderita.

Read more…

How low can you go? Catatan akhir 2009

Wednesday, 30 December 2009 2 comments

Natalan kemarin, seperti pernah terjadi pada tahun 2007, Ira mengajak Aruna dan Nara ke sebuah panti asuhan di dekat rumah di Pontianak. Panti asuhan itu khusus menangani anak-anak yang menderita hydrochepalus – kelainan akibat akumulasi cairan saraf di otak. Aruna bermain-main dengan anak-anak Panti yang sepantaran dirinya. Nara sempat takut melihat cacat fisik para penderita hydrochepalus itu, tapi cuma sesaat, lantas menunjukkan simpati dan kedekatan pada mereka. Kata Ira, Nara suka mengelus bayi-bayi hydrochepalus itu sambil bilang, “Adik bayi … sayang … sakit? sayang …” – memang belum banyak perbendaharaan katanya, tetapi Nara yang baru 2.5 tahun itu sudah menunjukkan empati besar pada ‘adik-adiknya’ yang menderita.

Tak ada yang khusus dari ‘misi’ ini. Seperti halnya membawa Aruna dan Nara naik opelet, belanja di pasar tradisional yang becek, sampai bermain sampan di sungai Kapuas. Kami hanya ingin memperkenalkan pada anak-anak kami realitas dimana mereka hidup. Bahwa ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang biasa, ada yang menderita. Ada yang ‘normal’ ada yang ‘berkelainan’. Apakah ada persoalan untung-malang di situ? Apakah ada perkara ‘keadilan sosial’ di situ? Barangkali iya. Apalagi secara sosiologis dan politis-ekonomis. Tetapi bukan itu intinya dan bukan itu tujuan kami berbagi di sini: Kami ingin menumbuhkan rasa solidaritas anak-anak kami pada mereka yang bernasib berbeda dari dirinya. Terutama pada mereka yang lebih ‘rendah’, ‘menderita’, ‘kurang beruntung’, dan seterusnya

Mengapa kami menganggap solidaritas semacam itu sesuatu yang penting? Natal, by the way, sering dianggap sebagai perwujudan solidaritas antara yang Ilahi dengan yang manusia, antara Tuhan dan ciptaannya. Namun, refleksi kami bukan ke arah itu, meski ada persinggungannya.

Ijinkan saya sedikit mengutip sebuah gagasan. Dalam kajian tentang modal sosial, mereka yang bermodal sosial relatif ‘setara’ akan sulit baik untuk ‘jatuh’ ke golongan dengan modal sosial lebih rendah, ataupun untuk naik ke golongan dengan modal sosial lebih tinggi (bagi yang suka membaca, silakan baca tulisan Robert Putnam yang banyak mengacu pada pemikiran filsuf Perancis Pierre Bourdieu :-) ). Mereka yang ada pada kelas ‘menengah’ akan sulit untuk jatuh miskin papa kecuali terkena musibah – dan sama sulitnya bagi mereka untuk jadi kaya raya kecuali menang lotere. Mereka yang ada pada kelas ‘atas’, apalagi, akan makin sulit untuk jatuh miskin, kecuali melakukan ‘bunuh diri kelas’ – sama sangat sulitnya bagi si miskin di ‘bawah’ untuk melompat menjadi kelas ‘atas’. Ini bukan berarti tak ada pergerakan sosial. Selalu ada mereka warga kelas ‘tengah’ yang bergerak ke ‘atas’ atau ‘bawah’. Dan juga ada segelintir kelas ‘atas’ yang anjlok ke ‘bawah’ atau kelas ‘bawah’ terdongkrak ke ‘atas’. Tetapi, secara alamiah, itu jauh-jauh-jauh lebih sulit. [Intermesso: Saya ingat waktu SMA dulu ada permainan “Star Power Game” yang dengan gamblang menunjukkan gejala ini. Masih ada yang ingat? :-) ]

Tetapi dari mana asal kesulitan naik atau turun kelas itu? Bourdieu, lalu Putnam, menunjukkan bahwa ‘modal sosial’ itulah yang menciptakan ‘jejaring pengaman’ agar tidak terjadi ‘kejatuhan’ atau ‘lompatan’ tersebut –disadari atau tidak. Dan modal sosial itu beragam bentuk dan coraknya, mulai dari budaya hingga ‘klik’ (pertemanan dekat) – mulai dari selera (rasa-merasa) hingga cara berpikir (alur-logika). Contohnya, mereka yang berasal dari kelas ‘atas’, sejak dini akan diperkenalkan dengan selera musik klasik, pendidikan yang ketat, kesopanan tertentu, dll. Bandingkan dengan mereka di kelas bawah yang barangkali hanya mengenal musik rakyat, pendidikan seadanya, dan sopan-santun a la rakyat jelata – atau mereka di kelas tengah yang tertatih-tatih mengejar selera, budaya, dan pendidikan kelas ‘atas’ dan frustrasi karena tak kunjung sampai.

Saya tidak memberi kuliah di sini :-) namun saya ingin berbagi, bahwa refleksi atas hal inilah yang mendorong kami secara sadar mengajarkan solidaritas ke ’bawah’ ini pada anak-anak kami. Karena, solidaritas ke arah yang ‘sejajar’ atau ‘lebih tinggi’, itu jauh lebih mudah. Solider pada yang sama-sama ‘tinggi’, ‘kaya’, ‘beruntung’, dst., itu tidak butuh lebih banyak energi dibandingkan mencoba solider dengan mereka yang di ‘bawah’.

Kami berdua (saya dan Ira) bukan orang kaya secara materi. Tetapi kami juga tidak miskin. Kedua orang tua saya dan Ira adalah bagian dari orang-orang kebanyakan – barangkali di kelas ‘bawah’ itu – atau setidaknya ‘menengah ke bawah’. Orang tua kami harus mengorbankan banyak hal untuk bisa membiayai kuliah kami di Bandung dan Yogya bertahun-tahun yang lalu. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, kami adalah anak-anak mereka satu-satunya yang mengenyam kesempatan tinggal dan hidup di luar negeri. Saya sendiri adalah satu-satunya di keluarga besar saya yang menyelesaikan pendidikan di jenjang doktoral.

Jadi, kami memang mendapat anugerah, rahmat dan kesempatan untuk ‘melompat’ – dan kami mengambil kesempatan itu. Dari ‘bawah’ kami bisa melompat ke ‘atas’ (secara intelektual) dan ke ‘tengah’ (secara materi). Tentu kami bersyukur. Tetapi kami tidak ingin berhenti pada syukur ini. Kami menyadari bahwa muncul kecenderungan-kecenderungan dalam diri kami, sekarang ini, untuk ‘mencari aman’, ‘mencari nyaman’, ‘mencari enak’. Barangkali itu manusiawi, tetapi dalam yang manusiawi itu kami mulai merasakan sebentuk ‘kelekatan-tak-teratur’ yang mempengaruhi cara kami berpikir, cara kami merasa, cara kami bersikap. Di bawah sadar, kami mulai membentuk corak ‘modal sosial’ kami, sedemikian rupa sehingga kami dan anak-anak kami tidak ‘jatuh’ ke ‘bawah’. Mulai dari selera musik, jenis bacaan, pilihan makanan, hingga metode pendidikan. Banyak rasionalisasi dan pembenaran-pembenaran di seputar itu – dan semua itu bahkan sulit kami debat sendiri, saking rasionalnya.

Kami tidak menyesali pilihan-pilihan itu setitikpun saat ini. Tidak samasekali. Namun kini kami mulai menapaki sebuah tingkat kesadaran baru, kesadaran untuk belajar solider dengan mereka yang di ‘bawah’ kami. Bukan dalam level ‘pengetahuan’ (yang sudah lama diajarkan oleh para pembimbing rohani kami bertahun-tahun yang lalu), namun kini dalam level kesadaran, dan semoga, tindakan.

Tentu ini tantangan besar, sangat-sangat besar. Terutama bagi diri kami sendiri berdua. Karena ini semua menyangkut sikap batin. Dan karena sikap batin ini tertuang dalam harapan-harapan dan perilaku, kami harus peka pada dinamika batin kami sendiri. Contoh paling jelas: karena saya sudah mengenyam pendidikan luar negeri sampai ke tingkat doktoral (dan kini malah bergaul dengan ilmuwan-ilmuwan terkemuka di dunia), tentu saya punya harapan anak-anak saya akan mendapat pendidikan minimal setara dengan saya. Salahkah harapan ini? Saya kira tidak. Tetapi kalau harapan ini muncul dari sikap batin yang ‘keliru’, yakni ketidakmauan atau kelembaman untuk solider pada mereka yang lebih ‘rendah’, ada bahaya besar di sana. Setidaknya dua jenis bahaya. Satu, bukan hanya karena saya akan memaksakan jenis pendidikan tertentu pada anak-anak saya, melainkan, bagaimana kalau Aruna dan Nara tidak ingin menjadi skolar? Bagaimana kalau mereka memilih jalan hidu
p menjadi ‘orang biasa’ saja? Barangkali saya akan frustrasi. Dua, bagaimana sikap mental-intelektual Aruna dan Nara kalau pun toh akhirnya mereka menjadi skolar mengikuti jejak saya? Apakah pada diri mereka tetap ada solidaritas pada mereka yang di ‘bawah’ (setidaknya secara intelektual)? Itu refleksi kami. Dan di ujung refleksi, kami kini memberanikan diri menyatakan niat, dan justru mendoakan anak-anak kami agar berani bersolider lebih nyata. Kalau perlu ‘terjun’ dari kenyamanan mereka sebagai anak-anak kami dan melibatkan diri dengan mereka yang lebih ‘menderita’ – apapun pilihan hidup mereka nantinya.

Ira, istri saya, adalah orang yang sangat peka dengan gerak-gerik batin seperti ini. Dia mengingatkan saya untuk selalu ‘menginjak bumi’ – menyadari siapa saya (kami) dan darimana saya (kami) berasal, dan lebih penting lagi, kemana kami akan membawa anak-anak kami. Dia mengkritik kalau saya hanya memperdengarkan musik klasik pada Aruna dan Nara. “Dengarkan musik pop dan dangdut juga!”, selalu itu yang dia katakan. Dia yang mengambil inisiatif memperkenalkan Aruna (Nara belum) pada apa itu ‘kemiskinan’ lewat gambar-gambar tentang anak-anak yang menderita kelaparan di Afrika. Dia mengajak anak-anak memahami (dalam bahasa anak-anak, tentu) mengapa ada peminta-minta di Arndale Centre di pusat kota Manchester – sama halnya dengan di Jakarta da Pontianak kemarin. Dia ajak anak-anak ke pasar tradisional dan bukan hanya supermarket. Untuk saya sendiri? Dia selalu mengingatkan kalau saya ‘egois’ mengambil waktu sendiri demi mempertahankan ‘status’ saya dan mengabaikan orang-orang lain: mulai dari para mahasiswa Indonesia di Manchester yang rutin datang ke kemisan (jadi, saudara/i kemisan, Ira-lah aktor intelektual pertemuan rutin kita), sampai pilihan pekerjaan-pekerjaan saya yang beririsan dengan banyak orang, mulai dari para komisioner di Uni Eropa sampai aktivis jalanan di Indonesia. “Jangan hanya cari enak, Ndut! – cari yang lebih bermakna”, begitu selalu katanya :-) (“Ndut” itu panggilan mesra Ira ke saya, yang memang gendut, kok). Ini juga mencakup apa yang sedang kami pertimbangkan apakah meneruskan tinggal dan bekerja di Inggris ini, atau kembali ke tanah air dalam beberapa tahun ke depan.

Dan bisa diduga, dari Ira jugalah semua refleksi ini berawal. Ira meminta saya secara khusus menuliskan apa yang sudah kami geluti ini dalam catatan ini dan membagikannya di akhir tahun ini kepada Anda sekalian, para sahabat dekat kami, agar Anda bisa ikut mengingatkan kami, jika solidaritas kami pada yang di ‘bawah’ itu memudar.

Tahun 2009 adalah tahun penuh berkah bagi kami sekeluarga dan saya pribadi. Memang tahun 2009 ini sangat berat dijalani, tetapi toh limpahan berkah itu selalu mengalir. Bagi kami sekeluarga: Aruna yang menikmati belajar piano, Nara yang mulai banyak bicara, Aruna yang mulai lancar membaca bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (dan bahkan kini dia yang mendongeng sebelum tidur untuk ayah-ibu dan adiknya), Nara yang mulai peduli pada orang lain, kesempatan liburan kami sekeluarga bersama-sama untuk pertamakalinya (sejak kami berdua tiba di Manchester tahun 2004!) ke North Wales dan ke Indonesia, dan masih banyak lagi. Untuk saya? Mulai dari kepastian pekerjaan saya di MBS, publikasi ilmiah di jurnal kelas atas, berbagai kesempatan menghadiri pertemuan ilmiah dan kuliah-kuliah tamu, hingga kelulusan mahasiswa-mahasiswi yang saya bimbing – dan bahkan satu di antaranya, mbak Mirta Amalia, lulus dengan ‘distinction’ (atau cum laude, dalam bahasa latin) dan hasil terbaik di program studinya. Sebuah berkah khusus malah saya terima secara tak terduga dalam rupa penghargaan sebagai staf akademik terbaik di MBS dua hari menjelang Natal. So, kurang apa lagi? :) Kami merasa ini semua sudah cukup. Berlebihan, malah. Tuhan sungguh memanjakan kami dengan limpahan berkahNya. Namun, setelah bergelimang limpahan rahmat seperti itu, seberapa jauh kami sekeluarga masih bisa solider dengan mereka yang tidak menerima rahmat seperti kami? Yang lebih ‘rendah’, lebih di ‘bawah’ dibandingkan kami? Itu kegelisahan kami, yang akan tetap kami rawat, dan semoga bisa kami wariskan kepada Aruna dan Nara, dan semoga akan tetap ada pada kami semua sampai kami dipanggil kembali menghadapNya.

Selamat tahun baru 2010. Semoga Yang Ilahi dan Maharahim senantiasa menganuerahi Anda sekalian dengan rahmat berlimpah.

Manchester – Pontianak, 31 Desember 2009

Salam dan peluk hangat kami,
Yanuar, Ira (– dan Aruna, Nara)

Categories: Uncategorized
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers