Home > 0 ALL, 0 bahasa indonesia, reflection > How low can you go? Catatan akhir 2009

How low can you go? Catatan akhir 2009

Thursday, 31 December 2009 Leave a comment Go to comments

Natalan kemarin, seperti pernah terjadi pada tahun 2007, Ira mengajak Aruna dan Nara ke sebuah panti asuhan di dekat rumah di Pontianak. Panti asuhan itu khusus menangani anak-anak yang menderita hydrochepalus – kelainan akibat akumulasi cairan saraf di otak. Aruna bermain-main dengan anak-anak Panti yang sepantaran dirinya. Nara sempat takut melihat cacat fisik para penderita hydrochepalus itu, tapi cuma sesaat, lantas menunjukkan simpati dan kedekatan pada mereka. Kata Ira, Nara suka mengelus bayi-bayi hydrochepalus itu sambil bilang, “Adik bayi … sayang … sakit? sayang …” – memang belum banyak perbendaharaan katanya, tetapi Nara yang baru 2.5 tahun itu sudah menunjukkan empati besar pada ‘adik-adiknya’ yang menderita.

Tak ada yang khusus dari ‘misi’ ini. Seperti halnya membawa Aruna dan Nara naik opelet, belanja di pasar tradisional yang becek, sampai bermain sampan di sungai Kapuas. Kami hanya ingin memperkenalkan pada anak-anak kami realitas dimana mereka hidup. Bahwa ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang biasa, ada yang menderita. Ada yang ‘normal’ ada yang ‘berkelainan’. Apakah ada persoalan untung-malang di situ? Apakah ada perkara ‘keadilan sosial’ di situ? Barangkali iya. Apalagi secara sosiologis dan politis-ekonomis. Tetapi bukan itu intinya dan bukan itu tujuan kami berbagi di sini: Kami ingin menumbuhkan rasa solidaritas anak-anak kami pada mereka yang bernasib berbeda dari dirinya. Terutama pada mereka yang lebih ‘rendah’, ‘menderita’, ‘kurang beruntung’, dan seterusnya

Mengapa kami menganggap solidaritas semacam itu sesuatu yang penting? Natal, by the way, sering dianggap sebagai perwujudan solidaritas antara yang Ilahi dengan yang manusia, antara Tuhan dan ciptaannya. Namun, refleksi kami bukan ke arah itu, meski ada persinggungannya.

Ijinkan saya sedikit mengutip sebuah gagasan. Dalam kajian tentang modal sosial, mereka yang bermodal sosial relatif ‘setara’ akan sulit baik untuk ‘jatuh’ ke golongan dengan modal sosial lebih rendah, ataupun untuk naik ke golongan dengan modal sosial lebih tinggi (bagi yang suka membaca, silakan baca tulisan Robert Putnam yang banyak mengacu pada pemikiran filsuf Perancis Pierre Bourdieu🙂 ). Mereka yang ada pada kelas ‘menengah’ akan sulit untuk jatuh miskin papa kecuali terkena musibah – dan sama sulitnya bagi mereka untuk jadi kaya raya kecuali menang lotere. Mereka yang ada pada kelas ‘atas’, apalagi, akan makin sulit untuk jatuh miskin, kecuali melakukan ‘bunuh diri kelas’ – sama sangat sulitnya bagi si miskin di ‘bawah’ untuk melompat menjadi kelas ‘atas’. Ini bukan berarti tak ada pergerakan sosial. Selalu ada mereka warga kelas ‘tengah’ yang bergerak ke ‘atas’ atau ‘bawah’. Dan juga ada segelintir kelas ‘atas’ yang anjlok ke ‘bawah’ atau kelas ‘bawah’ terdongkrak ke ‘atas’. Tetapi, secara alamiah, itu jauh-jauh-jauh lebih sulit. [Intermesso: Saya ingat waktu SMA dulu ada permainan “Star Power Game” yang dengan gamblang menunjukkan gejala ini. Masih ada yang ingat?🙂 ]

Tetapi dari mana asal kesulitan naik atau turun kelas itu? Bourdieu, lalu Putnam, menunjukkan bahwa ‘modal sosial’ itulah yang menciptakan ‘jejaring pengaman’ agar tidak terjadi ‘kejatuhan’ atau ‘lompatan’ tersebut –disadari atau tidak. Dan modal sosial itu beragam bentuk dan coraknya, mulai dari budaya hingga ‘klik’ (pertemanan dekat) – mulai dari selera (rasa-merasa) hingga cara berpikir (alur-logika). Contohnya, mereka yang berasal dari kelas ‘atas’, sejak dini akan diperkenalkan dengan selera musik klasik, pendidikan yang ketat, kesopanan tertentu, dll. Bandingkan dengan mereka di kelas bawah yang barangkali hanya mengenal musik rakyat, pendidikan seadanya, dan sopan-santun a la rakyat jelata – atau mereka di kelas tengah yang tertatih-tatih mengejar selera, budaya, dan pendidikan kelas ‘atas’ dan frustrasi karena tak kunjung sampai.

Saya tidak memberi kuliah di sini🙂 namun saya ingin berbagi, bahwa refleksi atas hal inilah yang mendorong kami secara sadar mengajarkan solidaritas ke ’bawah’ ini pada anak-anak kami. Karena, solidaritas ke arah yang ‘sejajar’ atau ‘lebih tinggi’, itu jauh lebih mudah. Solider pada yang sama-sama ‘tinggi’, ‘kaya’, ‘beruntung’, dst., itu tidak butuh lebih banyak energi dibandingkan mencoba solider dengan mereka yang di ‘bawah’.

Kami berdua (saya dan Ira) bukan orang kaya secara materi. Tetapi kami juga tidak miskin. Kedua orang tua saya dan Ira adalah bagian dari orang-orang kebanyakan – barangkali di kelas ‘bawah’ itu – atau setidaknya ‘menengah ke bawah’. Orang tua kami harus mengorbankan banyak hal untuk bisa membiayai kuliah kami di Bandung dan Yogya bertahun-tahun yang lalu. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, kami adalah anak-anak mereka satu-satunya yang mengenyam kesempatan tinggal dan hidup di luar negeri. Saya sendiri adalah satu-satunya di keluarga besar saya yang menyelesaikan pendidikan di jenjang doktoral.

Jadi, kami memang mendapat anugerah, rahmat dan kesempatan untuk ‘melompat’ – dan kami mengambil kesempatan itu. Dari ‘bawah’ kami bisa melompat ke ‘atas’ (secara intelektual) dan ke ‘tengah’ (secara materi). Tentu kami bersyukur. Tetapi kami tidak ingin berhenti pada syukur ini. Kami menyadari bahwa muncul kecenderungan-kecenderungan dalam diri kami, sekarang ini, untuk ‘mencari aman’, ‘mencari nyaman’, ‘mencari enak’. Barangkali itu manusiawi, tetapi dalam yang manusiawi itu kami mulai merasakan sebentuk ‘kelekatan-tak-teratur’ yang mempengaruhi cara kami berpikir, cara kami merasa, cara kami bersikap. Di bawah sadar, kami mulai membentuk corak ‘modal sosial’ kami, sedemikian rupa sehingga kami dan anak-anak kami tidak ‘jatuh’ ke ‘bawah’. Mulai dari selera musik, jenis bacaan, pilihan makanan, hingga metode pendidikan. Banyak rasionalisasi dan pembenaran-pembenaran di seputar itu – dan semua itu bahkan sulit kami debat sendiri, saking rasionalnya.

Kami tidak menyesali pilihan-pilihan itu setitikpun saat ini. Tidak samasekali. Namun kini kami mulai menapaki sebuah tingkat kesadaran baru, kesadaran untuk belajar solider dengan mereka yang di ‘bawah’ kami. Bukan dalam level ‘pengetahuan’ (yang sudah lama diajarkan oleh para pembimbing rohani kami bertahun-tahun yang lalu), namun kini dalam level kesadaran, dan semoga, tindakan.

Tentu ini tantangan besar, sangat-sangat besar. Terutama bagi diri kami sendiri berdua. Karena ini semua menyangkut sikap batin. Dan karena sikap batin ini tertuang dalam harapan-harapan dan perilaku, kami harus peka pada dinamika batin kami sendiri. Contoh paling jelas: karena saya sudah mengenyam pendidikan luar negeri sampai ke tingkat doktoral (dan kini malah bergaul dengan ilmuwan-ilmuwan terkemuka di dunia), tentu saya punya harapan anak-anak saya akan mendapat pendidikan minimal setara dengan saya. Salahkah harapan ini? Saya kira tidak. Tetapi kalau harapan ini muncul dari sikap batin yang ‘keliru’, yakni ketidakmauan atau kelembaman untuk solider pada mereka yang lebih ‘rendah’, ada bahaya besar di sana. Setidaknya dua jenis bahaya. Satu, bukan hanya karena saya akan memaksakan jenis pendidikan tertentu pada anak-anak saya, melainkan, bagaimana kalau Aruna dan Nara tidak ingin menjadi skolar? Bagaimana kalau mereka memilih jalan hidup menjadi ‘orang biasa’ saja? Barangkali saya akan frustrasi. Dua, bagaimana sikap mental-intelektual Aruna dan Nara kalau pun toh akhirnya mereka menjadi skolar mengikuti jejak saya? Apakah pada diri mereka tetap ada solidaritas pada mereka yang di ‘bawah’ (setidaknya secara intelektual)? Itu refleksi kami. Dan di ujung refleksi, kami kini memberanikan diri menyatakan niat, dan justru mendoakan anak-anak kami agar berani bersolider lebih nyata. Kalau perlu ‘terjun’ dari kenyamanan mereka sebagai anak-anak kami dan melibatkan diri dengan mereka yang lebih ‘menderita’ – apapun pilihan hidup mereka nantinya.

Ira, istri saya, adalah orang yang sangat peka dengan gerak-gerik batin seperti ini. Dia mengingatkan saya untuk selalu ‘menginjak bumi’ – menyadari siapa saya (kami) dan darimana saya (kami) berasal, dan lebih penting lagi, kemana kami akan membawa anak-anak kami. Dia mengkritik kalau saya hanya memperdengarkan musik klasik pada Aruna dan Nara. “Dengarkan musik pop dan dangdut juga!”, selalu itu yang dia katakan. Dia yang mengambil inisiatif memperkenalkan Aruna (Nara belum) pada apa itu ‘kemiskinan’ lewat gambar-gambar tentang anak-anak yang menderita kelaparan di Afrika. Dia mengajak anak-anak memahami (dalam bahasa anak-anak, tentu) mengapa ada peminta-minta di Arndale Centre di pusat kota Manchester – sama halnya dengan di Jakarta da Pontianak kemarin. Dia ajak anak-anak ke pasar tradisional dan bukan hanya supermarket. Untuk saya sendiri? Dia selalu mengingatkan kalau saya ‘egois’ mengambil waktu sendiri demi mempertahankan ‘status’ saya dan mengabaikan orang-orang lain: mulai dari para mahasiswa Indonesia di Manchester yang rutin datang ke kemisan (jadi, saudara/i kemisan, Ira-lah aktor intelektual pertemuan rutin kita), sampai pilihan pekerjaan-pekerjaan saya yang beririsan dengan banyak orang, mulai dari para komisioner di Uni Eropa sampai aktivis jalanan di Indonesia. “Jangan hanya cari enak, Ndut! – cari yang lebih bermakna”, begitu selalu katanya🙂 (“Ndut” itu panggilan mesra Ira ke saya, yang memang gendut, kok). Ini juga mencakup apa yang sedang kami pertimbangkan apakah meneruskan tinggal dan bekerja di Inggris ini, atau kembali ke tanah air dalam beberapa tahun ke depan.

Dan bisa diduga, dari Ira jugalah semua refleksi ini berawal. Ira meminta saya secara khusus menuliskan apa yang sudah kami geluti ini dalam catatan ini dan membagikannya di akhir tahun ini kepada Anda sekalian, para sahabat dekat kami, agar Anda bisa ikut mengingatkan kami, jika solidaritas kami pada yang di ‘bawah’ itu memudar.

Tahun 2009 adalah tahun penuh berkah bagi kami sekeluarga dan saya pribadi. Memang tahun 2009 ini sangat berat dijalani, tetapi toh limpahan berkah itu selalu mengalir. Bagi kami sekeluarga: Aruna yang menikmati belajar piano, Nara yang mulai banyak bicara, Aruna yang mulai lancar membaca bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (dan bahkan kini dia yang mendongeng sebelum tidur untuk ayah-ibu dan adiknya), Nara yang mulai peduli pada orang lain, kesempatan liburan kami sekeluarga bersama-sama untuk pertamakalinya (sejak kami berdua tiba di Manchester tahun 2004!) ke North Wales dan ke Indonesia, dan masih banyak lagi. Untuk saya? Mulai dari kepastian pekerjaan saya di MBS, publikasi ilmiah di jurnal kelas atas, berbagai kesempatan menghadiri pertemuan ilmiah dan kuliah-kuliah tamu, hingga kelulusan mahasiswa-mahasiswi yang saya bimbing – dan bahkan satu di antaranya, mbak Mirta Amalia, lulus dengan ‘distinction’ (atau cum laude, dalam bahasa latin) dan hasil terbaik di program studinya. Sebuah berkah khusus malah saya terima secara tak terduga dalam rupa penghargaan sebagai staf akademik terbaik di MBS dua hari menjelang Natal. So, kurang apa lagi?🙂 Kami merasa ini semua sudah cukup. Berlebihan, malah. Tuhan sungguh memanjakan kami dengan limpahan berkahNya. Namun, setelah bergelimang limpahan rahmat seperti itu, seberapa jauh kami sekeluarga masih bisa solider dengan mereka yang tidak menerima rahmat seperti kami? Yang lebih ‘rendah’, lebih di ‘bawah’ dibandingkan kami? Itu kegelisahan kami, yang akan tetap kami rawat, dan semoga bisa kami wariskan kepada Aruna dan Nara, dan semoga akan tetap ada pada kami semua sampai kami dipanggil kembali menghadapNya.

Selamat tahun baru 2010. Semoga Yang Ilahi dan Maharahim senantiasa menganuerahi Anda sekalian dengan rahmat berlimpah.

Manchester – Pontianak, 31 Desember 2009

Salam dan peluk hangat kami,
Yanuar, Ira (– dan Aruna, Nara)

  1. bima rengganis
    Thursday, 7 January 2010 at 8:20 am

    Mun, kok masih pake terminologi ‘bawah’ dan ‘rendah’ ya….belum ada kata ganti yang pas kah?

    inpiratif selalu

  2. Thursday, 7 January 2010 at 2:57 pm

    Hello there.. Nice blog🙂 salam kenal ya, lagi blogie walking neh sambil woro-woro Ada Lumpia 1000 Di Lawang Sewu

  3. Sunday, 10 January 2010 at 9:36 pm

    bima rengganis: maka itu, kuberi tanda petik …🙂 membicarakan realitas dan persepsi – apalagi perspektif, memang tidak mudah. aku juga masih kebingungan. ada usul?

    • b_r
      Wednesday, 13 January 2010 at 2:14 pm

      Belum sih, tapi seperti minum es teh manis setelah berpanas-panas, segar menyegarkan tapi lalu ada rasa ‘sepet’ teh. sepetnya memang khas teh, bukan kopi atau jamu, mungkin itu yang kadang2 aku balik mau baca refleksimu, kayak 14 – 15 tahun lalu. Sekalian selamat ultah ya

  4. Tuesday, 30 March 2010 at 1:50 pm

    hehe..good story pak nugroho…mampir ya ke tempat pemula spt saya

  5. arman
    Thursday, 24 June 2010 at 5:00 pm

    cerita yang inspiratif….

  6. Wednesday, 28 July 2010 at 8:00 am

    Terimakasih atas catatan diblog yang indah,sebuah refleksi yang menarik, sangat menyentuh dan membumi. Alam ini memiliki dihiasi dngan berbagai warna yang beragam, ada yang putih, biru, hijau, kuning dll. Semua sama, berperan dalam kehidupan sesuai dengan warna yang dikaruniakan olehNya. Semua saling mengisi,baik dari kelas sosial apapun, dari warna apapun. Mas Yanuar telah mengenal dengan baik warna dirinya, dan telah berkontribusi kepada kehidupan dengan warna dirinya. Semoga Tuhan memberkati

  7. YUSRI
    Wednesday, 6 April 2011 at 2:09 pm

    kapan ya masyarakat indonesia bisa semaju masyarakat eropa ato jepang. mesti di apain lagi biar cepet …kira Pak yanuar punya resep apa nih

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: