Home > 0 bahasa indonesia, cultural, development, economy, globalisation, market economy, policy, politics, reflection, social, welfare state > krisis global tak berdampak ke TKI di inggris? yang bener aja …

krisis global tak berdampak ke TKI di inggris? yang bener aja …

Saturday, 7 February 2009 Leave a comment Go to comments

siang sampai sore hari ini saya mendapat telepon dari tanah air beberapa kali. kalau tak salah hitung, ada 8 atau 9 kali, dari orang yang berbeda-beda dan dua diantaranya dari media massa. ada kemiripan semua isi telepon itu. awalnya, semua bertanya, “apa benar tak ada dampak krisis ekonomi saat ini di inggris?“. saya jawab, “tidak benar“. lalu saya tanya balik, “kenapa?” lalu dijawab, “kompas yang bilang itu“. saya menukas, “ngawur itu. sudah pasti kompas salah.” lalu ditanggapi lagi, “lha ini dari wawancara mereka yang bekerja di ingris kok“. lalu saya menukas lagi, “lha yang diwawancarai yang nggak ngerti situasinya.” lalu yang bikin saya shock, “lha bukannya kamu juga diwawancarai?”

mereka yang menelepon saya itu rupanya merujuk pada artikel ini yang ternyata berasal dari kantor berita antara. dan memang nama saya disebut dalam artikel itu. tetapi saya tidak pernah diwawancarai dan memang artikel tersebut tidak bilang bahwa ada wawancara dengan saya. saya semata-mata hanya disebut sebagai ‘pelengkap (penderita)’.

namun yang membuat saya sangat heran, adalah isi dan kesimpulan artikel tersebut yang mengatakan bahwa krisis global tak berdampak ke TKI di inggris. itu jelas-jelas ngawur.

dalam dua bulan ini, setidaknya enam kenalan saya di negeri ratu elisabeth ini harus balik kanan pulang kampung karena kontrak kerjanya tak diperpanjang karena alasan krisis (bahas kerennya “kena redundancy“). mereka itu ada yang pekerja hotel, ada yang insinyur, ada yang arsitek, ada yang asisten konsultan profesional. lalu banyak email yang saya terima dari para mahasiswa baru yang mengeluhkan betapa kini sangat sulit mencari pekerjaan kasar sambilan (yang favorit: cleaner, atau floor engineer). puluhan email lainnya mengeluhkan bahwa kini sulit mencari pekerjaan di inggris setelah selesai kuliah master atau PhD.

(menjadi salah satu ‘sesepuh’ warga indonesia di manchester/inggris ini, di satu sisi, membuat saya mersa ‘repot’ karena dengan menjadi tempat keluh kesah banyak kawan, waktu dan energi mental/emosional saya terkuras. tapi di sisi lain, saya jadi tahu banyak cerita/kisah dan belajar banyak dari kawan-kawan ini dan berusaha membantu sebisa saya. karena itu, saya tidak merasa berkeberatan dengan ‘peran’ ini. istri saya juga mendukung, kok ..🙂 seringkali selain via email yang kapan saja datang, beberapa kawan menelepon atau mengetok pintu malam-malam sekedar untuk berkeluh kesah, ngobrol atau berdiskusi .. dan selama memungkinkan selalu kami ‘layani’. rumah kami selalu terbuka untuk siapa saja)

negara ini memang sedang krisis. itu jelas kasat mata. pengangguran hampir 2 juta, imigrasi eropa timur sedemikian gencar. akibatnya cari pekerjaan sulit – hampir di semua sektor. bahkan di sektor pendidikan. aturan keimigrasian pun berubah drastis.

saya ingat, waktu saya harus ‘melamar’ (formalitas) pekerjaan saya sekarang ini sebagai peneliti (dan dosen), klausanya dalam iklan lowongan pekerjaan itu berbunyi kurang lebih: “under the Immigration Act 1971, overseas nationals working in the UK who are subject to immigration control require work permits and these are applied for by the University“. kini, sejak 27 november 2008, bunyinya lain: “Initial appointment will be subject to …. the provision of proof of the right to work in the UK”. dan ini ternyata berbuntut panjang. waktu saya cari asisten dua bulan yang lalu, asisten yang saya dapatkan, yang warga AS, setengah mati harus mengikuti sistem point dalam Tier 2 karena sistem ijin kerja (work permit) tidak berlaku lagi.

dengan keadaan seperti ini, walau saya tidak bisa menerima, tetapi saya mengerti sepenuhnya mengapa pemerintah (dan perusahaan/institusi/kantor-kantor di) inggris menjadi sangat berhati-hati dalam soal ketenagakerjaan. lha wong 2 juta warganya sendiri menganggur kok. tentu itu prioritas mereka. setelah itu, tentu warga uni eropa. jika kita yang pendatang ini tersingkir (PHK, kontrak tak diperpanjang, sulit cari kerja, dll), itu bukan hal yang aneh. justru aneh kalau kita merasa aneh. atau justru aneh kalau kita merasa tak kena dampaknya.

tentu selalu ada pengecualian. mereka yang punya keahlian langka tetap akan bisa bekerja di sini. tetapi kini untuk bisa memberikan certificate of sponsorship bagi staf dari luar uni eropa untuk melamar visa kerja lewat skema Tier 2 (dulu work permit reference untuk visa kerja) bukan hal mudah. setidaknya jauh lebih sulit daripada menulis WP reference. itu alasan lain mengapa perusahaan-perusahaan memilih mempekerjakan orang lokal atau mereka yang tak butuh disponsori visanya.

PHK dan pengangguran massal di inggris ini juga membuat mobilitas horisontal pekerja bertambah dan membuat pasar kerja jadi makin ‘menakutkan’. bahkan terjadi devaluasi kualifikasi. waktu saya buka lamaran mencari asisten bulan november/desember kemarin, lebih dari separo yang melamar over qualified. saya cuma butuh master tetapi banyak lamaran dari mereka yang sudah PhD dan punya pengalaman kerja dan punya sejarah gaji tinggi. mereka rela digaji rendah asal bekerja. dan … ini sektor pendidikan/riset, yang relatif lebih “tenang” riak gelombang dampak krisisnya ketimbang sektor privat.

sudahlah … makin mangkel saja kalau ingat artikel kompas itu sementara kenyataannya berkebalikan 180 derajat. hehehe ..

jadi, tadi saya tulis surat ‘protes’ ke kompas. entah dimuat entah tidak. biarin. suratnya ada di bawah ini. siapa tahu anda ingin tahu?

salam,
y
ps. gambar saya ambil dari daily telegraph

—————–

Yth. Redaksi Kompas Cyber Media
Cc. Bp. Agus Hamonangan – Forum Pembaca Kompas

Dengan hormat,

Saya ingin menanggapi artikel yang dimuat di Kompas CyberMedia hari ini berjudul “Krisis Global tak Berdampak ke TKI di Inggris” (http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/06/02163362/krisis.global.tak.berdampak.ke.tki.di.inggris….) yang nampaknya bersumber dari Kantor Berita Antara.

Saya merasa perlu menanggapi bukan semata-mata karena nama saya disebut dalam artikel tersebut tanpa saya memberikan informasi pada Antara ataupun Kompas, namun terutama karena judul dan klaim utama yang ditulis artikel itu tidak benar dan tidak mencerminkan apa yang terjadi di Inggris.

Judul dan kalimat pertama yang berbunyi “Maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) seiring dengan krisis ekonomi yang melanda Kerajaan Inggris (UK) belakangan ini ternyata tidak berimbas pada tenaga kerja Indonesia (TKI) di Britania Raya” itu sama sekali tidak benar. Artikel tersebut hanya merujuk sebagian kecil dari warga Indonesia yang bekerja di Inggris di sektor-sektor formal dan ‘elit’. Rujukan ini punya segumpal kebenaran, meski saya tahu persis tidak 100%. Faktanya, ada sejumlah warga Indonesia yang bekerja sebagai insinyur, arsitek, konsultan, pekerja sektor pariwisata (hotel, turisme) yang terkena PHK atau kontraknya tidak diperpanjang (dikenal dengan istilah “kena redundancy“) dan kehilangan pekerjaan. Mereka terpaksa ‘turun tingkat’ melakukan kerja kasar (casual work) agar bertahan hidup, atau pindah ke negara lain, atau pulang ke tanah air.

Mereka yang bekerja kasar pun, apalagi, juga terkena krisis ini dan lebih terasa. Para pekerja di sektor ini biasanya para mahasiswa atau bapak/ibu rumah tangga yang ingin mendapatkan yang ingin mencari tambahan pemasukan. Kebanyakan bekerja sebagai pramusaji, petugas kebersihan (tukang sapu/pel), penjaga toko, pengasuh orang jompo, pekerja di balai kota, dll. Bukan hanya karena himpitan krisis, tetapi juga karena arus migrasi warga Eropa Timur ke Inggris, bukan rahasia lagi bahwa mendapatkan pekerjaan kasar ini pun sekarang sangat sulit.

Barangkali karena saya sudah cukup lama tinggal di Inggris, beberapa warga Indonesia datang ‘mengeluh’ dan ‘berkeluh-kesah’ atas nasib buruk PHK atau susahnya mencari kerja yang menimpa mereka. Karena itu, tanpa harus membuka identitas yang mereka percayakan kepada saya, saya menegaskan argumen utama artikel di Kompas CyberMedia itu tidak benar. Krisis global itu berimbas pada TKI di Inggris.

Untuk catatan Kompas: Pemerintah Inggris mengumumkan angka resmi pengangguran per Oktober tahun lalu mencapai 1.8 juta dan angka ini akan terus bertambah tahun ini (lihat berita di BBC misalnya, http://news.bbc.co.uk/1/hi/uk/7802461.stm – atau di sumber lain seperti The Guardian). Krisis ketenagakerjaan ini makin parah karena kebijakan keimigrasian sebelumnya yang cenderung ‘terbuka’ membuat Inggris kewalahan diserbu imigran dari Eropa Timur dan negara-negara persemakmuran bekas negara jajahan mereka. Kini, sebagai bagian dari upaya menangani dampak krisis ini, keimigrasian juga makin ‘ketat’. Aturan baru keimigrasian Inggris diberlakukan per 27 November 2008 kemarin dan skema lama ‘ijin kerja’ (work permit) bagi calon pekerja dari luar Uni Eropa tidak berlaku lagi. Sebagai gantinya Inggris menerapkan sistem point dalam skema Tier 1-2-3-4-5 (baru Tier 1, 2 dan 5 yang diluncurkan) yang, dengan segala aturan turunan dan konsekuensinya, menjadi relatif lebih rumit dan sulit bagi mereka yang ingin bekerja di Inggris — termasuk warga Indonesia.

[Kebetulan saya menjadi anggota peneliti Universitas Manchester untuk Uni Eropa yang meneliti mobilitas para peneliti di Uni Eropa (RINDICATE) pada tahun 2007-2008. Dalam laporan kami kepada Komisi Eropa, terungkap bahwa keimigrasian menjadi salah satu faktor penting yang menghambat mobilitas para peneliti yang berasal bukan dari Uni Eropa ini. Silakan baca laporan tersebut yang tersedia online di website Komisi Eropa http://ec.europa.eu/euraxess/pdf/rindicate_final_report_2008_11_june_08_v4.pdf%5D

Saya mengharapkan agar di lain waktu Kompas CyberMedia lebih berhati-hati dalam menyampaikan berita, walaupun hanya sekedar meneruskan dari Kantor Berita Antara. Silakan email saya ini diteruskan ke Antara jika dianggap berguna.

Terima kasih dan salam hormat,

Yanuar Nugroho, PhD.
Peneliti di Institut Kajian Inovasi Manchester (MIOIR)
Universitas Manchester, Inggris Raya
yanuar.nugroho@manchester.ac.uk

  1. Saturday, 7 February 2009 at 1:28 am

    Dear Yanuar,

    Sebaiknya bisa contact ke Lukminto ‘Lucky’ Wibowo di lukie@kompas.co.id, supaya surat anda bisa lebih ter follow up

    take care

    GBU

  2. Saturday, 7 February 2009 at 1:32 am

    trims, liek. i’ll do it. thanks for reminding me soal luky. lupa aku ada kawan di sana …🙂 jaringanmu memang top, bro ..!

  3. majelis fathul hidayah
    Monday, 9 February 2009 at 5:41 am

    mampir doank…

  4. Sri
    Saturday, 18 April 2009 at 8:24 am

    Ini bukan hanya di Inggris saja. Di Belanda juga sama kok, susah mencari pekerjaan (baik untuk yang kantoran maupun pekerja kasar). PHK juga meningkat. Ada teman yang gagal melamar pekerjaan untuk bersih-bersih rumah jompo. Untuk pekerjaan yang seperti ini saja yang ngantre juga banyak.

  5. Thursday, 14 May 2009 at 6:59 am

    Sukurlah kalau disana tidak terjadi krisìs global. Rupanya masih ada bumi tuhan yang bisa sebagai tempat baru bagi orang orang yang ingin merantau. By writer of 40 Hari Di Tanah Suci.

  6. ARIANTO
    Friday, 5 June 2009 at 3:56 am

    Selamat Siang…
    Trimakasih atas Infonya sangat membantu Saya untuk Lebih hati-hati.
    2 bulan lalu Saya apply kerja di HILTON HOTEL-Nottingham-sebagai Waiter,dan mereka Menanggung semua biaya Saya(Ticket,akomodasi,dll) dan kemarin Saya Sign kontraknya untuk proses selanjutnya.
    Pertanyaan Saya merajut dari Info Bpak:Mereka mengatakan bahwa Saya diproses lewat WORK PERMIT, untuk Work permit ini Saya sendiri yang biayain.
    Kalau misalnya bisa,Bagaimana mengurus Work permit tersebut?
    Tolong penjelasannya.Terima kasih……

    • agus sucipto
      Friday, 19 February 2010 at 12:41 pm

      nma saya agus_
      kpda yg pnya pnglaman kerja di inggris.. tlong dong ksih sdkit pnglaman klo krja dsana…
      soalnya saya lg proses untuk kesana.. biyaya sndri tp lewat agen.. biyaya 45 jt tapi dganti jaminan sertifikat tanah.. ktnya ptong gaji 3 blan
      tloong bgi spa sja yg berkenan hati.. bri aq pnjelasan
      ke nmr : 085227128168
      drpda nntinya saya salah langkah…

  7. Tuesday, 24 December 2013 at 4:24 am

    Salah satu negara eropa yang paling susah untuk mendapatkan pekerjaan dari negara asing, karena mereka (inggris) sangat sadar akan mendapatkan gaji tinggi, bahkan tidak sedikit orang-orang eropa yg memilih merantau ke Inggris, Jual Komik Bekas, smoga yg berkeinginan kesana bisa terkabul

  8. Sunday, 5 January 2014 at 6:23 am

    Dengar-dengar di Inggris, walaupun gaji sangat tinggi, tapi utk pendatang, biasanya hanya bisa bergaul dengan sesama pendatang saja, sangat jarang bisa berkumpul antara masyarakat lokal dengan pendatang, Toko Buku Online

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: