Home > Uncategorized > melunasi janji

melunasi janji

setelah posting terakhir di multiply dan wordpress beberapa hari yang lalu, mailbox saya ‘dihujani’ dengan banyak email. banyak yang memaki, tidak sedikit yang bersimpati dan mengungkapkan gagasan dan pikiran senada. aneh juga, kenapa tidak langsung memberi komentar saja, ya? karena kewalahan dengan email-email itu, akhirnya saya kirim jawaban generik, bahwa saya akan posting saja di MP dan WP agar jelas (jika salah satunya anda, ini saya penuhi janji saya .. )

pertama soal “bangsa kerdil”. well, ya, satu sisi itu eufimisme (namanya juga tulisan .. hehe). tapi, di sisi lain itu sungguh refleksi saya atas dinamika sosial politik negeri kita. dan itu memang yang menjadi dasar keprihatinan saya: betapa kita yang hidup dalam keagungan dan kebesaran bangsa semajemuk ini justru berpikir picik, sempit, kerdil — memaksa semua untuk tunduk pada satu pemahaman, satu pengertian, satu tata kesopanan, satu cara pikir, satu moralitas, satu etika …. alangkah sempitnya! dan alangkah mundurnya gagasan itu. namun, jangan lupa bahwa per definisi dinamika semacam itu tidak pernah statis, melainkan selalu dinamis. karena itu, saya yakin -dan tetap berupaya memperjuangkan- agar bangsa besar bernama indonesia itu akan tetap ada, walau kini kebesaran itu tengah dikhianati oleh sebagian wakil-wakil rakyatnya.

kedua soal demokra(tisa)si. mereka yang pernah belajar ilmu politik akan segera menemukan pada halaman kedua di buku teks manapun bahwa demokrasi itu bukan dominasi mayoritas dan bukan tirani minoritas. kalau semata-mata memenuhi tuntutan mayoritas, itu bukan demokrasi. idem ditto memenuhi tuntutan minoritas. demokrasi memang minus maluma lesser evil – dari sistem politik dan pengambilan keputusan. dan esensi demokrasi justru memastikan bahwa yang minor, lemah, kecil, tetap terlindungi kepentingannya. jadi, mengklaim bahwa uu-p yang sudah disetujui oleh sebagian besar anggota parlemen (dengan dua fraksi partai dan beberapa anggota parlemen walk-out) sebagai “proses demokratis”? come on … ayolah jangan membodohi dan menipu diri sendiri … kalau penjelasan selugas dan segamblang ini masih tak jelas juga, ya bingung juga saya mau bagaimana lagi menjelaskan. barangkali pemahaman demokrasinya berasal dari dunia yang lain … hehe..

ketiga, soal posting yang provokatif. lhah … ya memang itu maksud saya. bukan karena saya eks provokator LSM. hehe. tapi, sejak awal, sejak saya belajar menulis, tujuan saya memang memprovokasi cara dan logika berpikir lewat tulisan-tulisan saya. entah itu di jurnal, di koran, di majalah, atau di blog. saya ingin mengajak pembaca tulisan saya untuk berpikir. itu saja. terlalu banyak hal di republik mimpi ini kita bertindak hanya menuruti herd principle (prinsip kawanan). mirip bebek yang digembalakan. pernah lihat? satu belok kanan yang lain ikut belok. satu belok kiri, yang lain ikut belok. satu nyemplung, yang lain ikut nyemplung. herd principle ini membuat masyarakat jadi tumpul. tidak kreatif. tidak kritis. jangan jadi bagian dari bebek-bebek yang cuma bisa manut dan nurut itu …

keempat, soal sektarianisme. lihat point ke dua saya di atas. itu hanya implikasi logis yang ditarik dari situ. jika logika “demokrasi kepleset” itu diteruskan tanpa ada yang mau (berani?) menentang –yang berani bilang terbuka bahwa itu bukan demokrasi melainkan dominasi mayoritas– percayalah, akan banyak gagasan-gagasan sektarian yang akan muncul bertebaran di ruang publik dengan dalih “demokra(tisa)si” karena preseden ini. di daerah yang mayoritas islam akan muncul kebijakan-kebijakan islamis, di daerah yang mayoritas hindu akan muncul kebijakan-kebijakan hindu, di daerah yang mayoritas kristen akan muncul kebijakan-kebijakan kristiani. dan seterusnya. dan seterusnya. lalu? bangsa ini akan terpecah-belah. tinggal tunggu waktu. jadi, harus ada yang berani bilang, “STOP! cukup sampai di sini saja”. pertahankan keutuhan negeri ini. pertahankan kebhinnekaan negeri ini. tunjukkan bahwa kita memang pantas –dan bisa– mengelola negeri sebesar dan semajemuk ini. atau ….. memang sebenarnya kita tidak bisa –dan tidak pantas– punya dan mengelola bangsa sebesar ini ..??

kelima: soal saya menganggap pembaca sebagai orang yang kerdil, tak dewasa, kekanak-kanakan. wah ini yang paling susah. soalnya sungguh sumpah mati saya tak punya niat itu samasekali. apalagi, saya berasumsi bahwa mereka-mereka –atau anda-anda sekalian– yang singgah ke blog ini justru sudah dewasa dan matang cara berpikirnya. nah, kalau anda tersinggung membaca posting itu, jangan-jangan …..? anyway, saya jadi ingat kata pak kyai dianafi dulu di pesantren windan di kota asal saya (pak dianafi ini kyai yang memprakarsai dan mempelopori forum kerukunan antar umat beragama di solo. beliau malah beberapa kali mengisi kotbah/ceramah dalam misa/kebaktian di gereja). beliau bilang, “ada empat jenis orang yang kepadanya kamu tidak bisa marah dan hanya bisa prihatin. satu, orang bodoh; dua, anak kecil; tiga, orang mabuk; dan empat, orang gila“. kalaupun ada yang saya sindir dalam posting saya, yaitu para dewan terhormat itu (yang pasti tak akan saya pilih lagi dalam pemilu nanti): saya yakin mereka tidak gila ataupun mabuk; mudah-mudahan mereka juga tidak bodoh. tetapi, keputusan yang mereka ambil dengan mensahkan uu-p itu, bagi saya, adalah cerminan tingkat berpikir yang masih kekanak-kanakan jika dilihat dalam sebuah perspektif sistem politik sebesar republik majemuk bernama indonesia ini.

terakhir: soal tuduhan bahwa penulis blog ini islamophobic/islamophobia. saya dibesarkan dalam keluarga multi-kultur, multi-religi. eyang putri saya hajjah. eyang kakung saya islam kejawen (pangestu). bapak saya protestan, ibu saya katolik. adik saya dulu juara mengaji se-kodya solo. saya dididik secara kejawen (full dupa, kemenyan dan kembang setaman) sejak lahir ceprot sampai saya akil-balik. saya baru memutuskan menjadi katolik ketika sudah besar. dan barangkali kebablasan. kini kawan-kawan katolik saya pun malah tidak yakin saya masih katolik karena saya terlalu “liberal”: mempertanyakan banyak hal, mendebat banyak hal. di kolom “agama”, kalau ada formulir-formulir isian a-la orde baru yang masih menanyakan itu, kerap saya isi “humanisme”. barangkali guyon itu kini malah jadi serius: bagi saya yang penting manusia dan kemanusiaanya. bukan agamanya. nah, dalam perjalanan hidup saya mencari jati-diri kemanusiaan itu, jauh lebih banyak kawan-kawan islam yang saya punyai ketimbang kawan-kawan katolik/kristen.
terutama dari NU (kawan-kawan dari NU ini malah yang dulu “menyelamatkan” saya pasca huru-hara 1998) dan sejak akhir 90an mulai banyak kawan saya dari kalangan islam liberal. kami terlibat banyak dalam dialog antar agama, kerja bersama, dll. saya juga mempelajari beberapa pemikiran dalam islam, baik dari kalangan mainstream maupun dari kalangan alternatif (termasuk seperti irshad manji – yang baru akhir-akhir ini saya baca gagasannya). sungguh menarik dan membuka cakrawala. ini semua yang membuat saya makin yakin dan percaya tidak hanya bahwa ada banyak warna dalam agama atau sistem kepercayaan (islam, kristen, hindu, tao, dll.) tetapi bahwa justru dalam perbedaan-perbedaan semacam itu kemanusiaan kita makin dimatangkan. nah mudah-mudahan ini menjelaskan tentang pandangan saya. tapi kalau masih mau menganggap saya islamophobic/islamophobia, ya silakan saja. kepercayaan kan tak bisa diganggu-gugat .. hehehe ..

nah dengan demikian, saya lunasi janji untuk membayar “hutang penjelasan” saya pada anda sekalian (enak rasanya tidur kalau hutang sudah lunas … hehehe..)

salam,
y

ps. gambar dari karikatur kompas. entah kapan. sudah lama ..

Categories: Uncategorized
  1. Monday, 3 November 2008 at 12:00 am

    go for it, mas… tulisan2nya mencerahkan sekali…selalu ditunggu dehhhh…salam kagem keng garwa kaliyan putra putrinipun nggih

  2. Monday, 3 November 2008 at 12:00 am

    hehehehe selamat tidur dengan nyenyak, komen saya sudah saya tulis langsung di postingannya kemarin tuh😀

  3. Tuesday, 4 November 2008 at 12:00 am

    terima kasih atas ‘penjelasan’nya mas Yanuar. Saya senang membaca dan memikirkan semua argumen yang biasanya mas Yanuar sampaikan dengan cara bernas. Hanya penyampaian blog sampean yang terakhir itu yang bikin saya gundah. Yang saya tangkap dari tulisan itu adalah mas Yanuar yang menkerdilkan pendapat orang lain, nggerundel karena dukungannya terhadap argumen yang dikalahkan di proses demokrasi tidak dimenangkan. Kalau ternyata bukan itu yang dimaksud, ya bagus sekali tapi setidaknya itu yang saya tangkap dari tulisan terakhir (dan terus terang juga masih di posting ini).

  4. Tuesday, 4 November 2008 at 12:00 am

    matur nuwun, mbak …

  5. Tuesday, 4 November 2008 at 12:00 am

    cikicikicik said: hehehehe selamat tidur dengan nyenyak

    betul … enak sekali .. kok tahu, mbak wahida ..?😉 salam buat keluarga di surabaya

  6. Tuesday, 4 November 2008 at 12:00 am

    donowidiatmoko said: Hanya penyampaian blog sampean yang terakhir itu yang bikin saya gundah. Yang saya tangkap dari tulisan itu adalah mas Yanuar yang menkerdilkan pendapat orang lain, nggerundel karena dukungannya terhadap argumen yang dikalahkan di proses demokrasi tidak dimenangkan.

    mas dono, nuwun catatannya.sekedar share: bagi saya, “gundah” itu bagian dari proses berpikir. kalau saya gundah, biasanya otak saya juga bekerja lebih keras mencoba mencerna apa yang membuat saya gundah. di situ momen kritikal: menemukan insight (yang biasanya menembus batas-batas yang saya yakini sebelumnya), atau justru menjadi bebal (karena saya takut melawan keterbatasan kemampuan saya sendiri berpikir).bagi saya, “nggerundel”-pun adalah bagian dari dinamika berpikir. dalam gagasan psiko-sosial, “gerundelan” adalah kanalisasi sumbatan-sumbatan yang biasanya bersifat struktural, hegemonik, represif – dan itu sah dan sehat-sehat saja. bahkan kerap, itu yang membawa banyak perubahan (minimal, si penggerundel tidak jadi gila … hahahaha ..) penjelasan yang saya tulis panjang lebar di posting ini bukan untuk ‘menjilat ludah’ bahwa saya tidak nggerundel. saya memang nggerundel. yang saya jelaskan di posting ini adalah rationale gerundelan itu. saya kira itu cukup jelas. jadi ya memang benar apa yang anda tangkap bahwa saya masih nggerundel… :-)nuwun, y.

  7. Friday, 7 November 2008 at 12:00 am

    wee … ternyata bar bikin geger tho …😀

  8. Wednesday, 12 November 2008 at 12:00 am

    ynugroho said: jadi ya memang benar apa yang anda tangkap bahwa saya masih nggerundel…🙂

    lucu sekali dua thread ini. kelihatan betul mana yang ‘cerdas’ dan yang ‘idiot’.

  9. Wednesday, 12 November 2008 at 12:00 am

    riza6315 said: wee … ternyata bar bikin geger tho …😀

    sepertinya begitu mas. dan harus bikin geger soal uu ini. bangsa kita makin tak waras. salam kenal.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: