Home > Uncategorized > masih soal RUU pornografi

masih soal RUU pornografi

Wednesday, 17 September 2008 Leave a comment Go to comments

di bawah ini statement KWI (konferensi waligereja indonesia) tentang RUU pornografi. saya catat di sini bukan karena saya seorang katolik🙂 tetapi karena keprihatinan mendalam tentang diskursus pornografi yang kini sudah menjadi “kendaraan politik”.

nampaknya, walau RUU ini di-walk-out PDI-P dan PDS di DPR dan diprotes ribuan orang, akan jadi UU juga akhir bulan ini. RUU pornografi sudah masuk dalam bamus dan nampaknya akan dipaksakan masuk dalam agenda DPR paripurna berikutnya. sosialisasi akan (sudah?) dilakukan di 3 kota di sulawesi selatan, lalimantan selatan dan maluku pada 12-14 september 2008. memilih sosialisasi pada bulan puasa kelihatannya menjadi pilihan “khusus” pansus untuk mengurangi resistensi penolakan.

nah, jadi, barangkali kita perlu segera menggagas berbagai akibat yang akan timbul secara lebih mendasar ketika RUU ini menjadi UU nantinya. selain itu, setelah akibat hukumnya manifest, saya kira para pihak yang mempersoalkan RUU ini dari awal perlu konsisten karena sebenarnya basis penolakan ini sangat mendasar, yaitu polarisasi ideologi dan politik yang tidak sehat.

update 16:43BST: ada kawan saya barusan mengirim email. dia bercerita bahwa dia ikut jumpa pers penolakan RUU ini di DPR, termasuk sosialisasi di kantor Menneg PP. menurutnya, selalu perbincangan meruncing pada masalah agama. jadi dia mengkonfirmasi apa yang selama ini ditengarai, bahwa memang benar, walau secara penampilan dan redaksional UU ini mungkin “netral”, namun perdebatan yang terjadi nampaknya selalu meruncing ke soal agama. beberapa media dan organisasi juga kerap menyebut bahwa RUU ini jika disahkan akan menjadi “kado ramadhan” yang terindah. bagi saya ini indikasi jelas adanya ideologisasi agama di balik RUU ini. dengan kata lain, mengutip kawan saya itu, “RUU ini bukan dibuat untuk memberantas pornografi, namun untuk memuluskan proyek ideologisasi tertentu.” – sungguh memprihatinkan.

salam,
y

ps. di blog saya yang lain, saya “dihujat” dalam satu post penolakan RUU pornografi. juga mailbox saya dihujani cacian dan makian. tapi tidak apa – saya nikmati saja. lha mau apa, wong ya memang memang baru segitu tahap kedewasaan dan kematangan kita untuk berdiskusi (baca: untuk tidak terjebak pada argumen “basi” dan “idiot” bahwa menolak RUU pornografi ini sama dengan mendukung pornografi … heran, di mana dasar logika ini)

pps. gambar saya “comot” dari blognya mas andreas harsono.

PERNYATAAN SIKAP
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TERHADAP RENCANA PENGESAHAN
RUU PORNOGRAFI OLEH DPR RI

Mencermati perkembangan diskursus tentang Rancangan Undang-undang Pornografi yang dari waktu ke waktu kami pandang kian mengarah kepada KONTROVERSI IDEOLOGIS DAN POLITIS semata, semakin menjauh dari semangat bermusyawarah dalam bingkai negara hukum yang mendasarkan seluruh produk hukumnya pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta melahirkan polarisasi yang tidak sehat dalam masyarakat sehingga sangat berpotensi melahirkan benturan atau bahkan konflik antarwarga masyarakat yang pro dan yang kontra, maka kami menyatakan sikap berikut ini:

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (DPR RI) SEBAIKNYA TIDAK MENGESAHKAN RUU TERSEBUT MENJADI UU.

Dasar pertimbangan kami: pertama, sesuatu rancangan aturan publik yang akan diberlakukan dan mengikat seluruh warga negara dengan sanksi hukum dan masih dijadikan bahan kontroversi (bersifat kontroversial), apabila diputus atau disahkan, itu hanya akan melukai pihak yang DIKALAHKAN. Kedua, kami mendesak agar DPR kembali membuka ruang bersama bagi seluruh komponen masyarakat untuk berproses melalui diskusi-diskusi dan debat publik yang sehat serta dijauhkan dari kepentingan-kepentingan politik sesaat. Penegasan bersama (communal discernment) seluruh lapisan masyarakat adalah sangat penting. Ketiga, sudah banyak aturan hukum mengenai kejahatan pornografi seperti tertuang dalam KUHP, UU Penyiaran, dan produk Undang-undang lainnya yang tidak dilaksanakan secara konsekuen oleh negara; maka lahirnya UU baru tidak serta merta menjamin terlaksananya sebuah penegakkan hukum.

Ada banyak hal yang jauh lebih penting dan mendesak untuk dihatikan oleh para Wakil Rakyat daripada terus menerus berkutat pada agenda pengesahan RUU Pornografi yang jelas-jelas masih mendapatkan kritik tajam serta penolakan dari banyak lembaga dan unsur-unsur masyarakat dengan argumentasi-argumentasi yang cerdas.

Demikianlah pernyataan sikap kami, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terhadap rencana pengesahan RUU Pornografi tersebut.

Jakarta, 17 September 2008

YR. Edy Purwanto Pr (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI)
S. Dany Sanusi OSC (Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI)

Categories: Uncategorized
  1. Wednesday, 17 September 2008 at 12:00 am

    buat saya apapun peraturan, yang penting aparat yang menjalankannyauntuk UU yang ini, susah juga, masak para suku terpencil di Irian mau dipenjara semua gara2 gak pake baju??? aduhhhh

  2. Wednesday, 17 September 2008 at 12:00 am

    numpang nge-link pak..terimakasih

  3. Wednesday, 17 September 2008 at 12:00 am

    mau pemilu.. mau pilpres… hal2 ini muncul kembali…ada apa gerangan..???pemerintah yg busuk…..

  4. Wednesday, 17 September 2008 at 12:00 am

    HANYA ADA SATU KATA… LAWAN!!!

  5. Wednesday, 17 September 2008 at 12:00 am

    agak sulit ya…masalahnya kan indonesia ini majemuk sekali, dari sabang sampai merauke…saya sih setuju kalau undang undang itu di terapkan di daerah istimewa seperti aceh misalnya, yang memang sudah menerapkan hukum islam…daerah lain masalahnya masih banyak adat istiadat yang mungkin bisa dianggap sebagai pelanggaran dari undang undang ini…maap reply-nya kepanjangan🙂

  6. Thursday, 18 September 2008 at 12:00 am

    Kalaupun (at worst case scenario) RUU tsb disahkan… saya yakin banyak “kompromi” dilapangan. Dari dulu negara ini selalu kedodoran untuk urusan pelaksanaan. Tapi engga menutup kemungkinan terjadi pelarangan berlebih, seperti pada Novel grafis Persepolis (biografi seorang wanita iran), dimana ia dimarahi oleh polisi karena mengejar bus dengan argumen bahwa gerakan larinya membuat mereka terangsang. Dan si wanita itu menggunakan scarf, rok panjang dan lengan panjang! Kalau sudah begini, mungkin melihat wanita dengan burka lengkap pun mereka masih bisa berpikir yang tidak-tidak. Lantas harus bagaimana? Apa semua pria divasektomi saja? (atau tubektomi? saya lupa).

  7. Thursday, 18 September 2008 at 12:00 am

    ericbandung said: Apa semua pria divasektomi saja? (atau tubektomi? saya lupa).

    Or ‘kebiri’?

  8. Thursday, 18 September 2008 at 12:00 am

    cikicikicik said: untuk UU yang ini, susah juga, masak para suku terpencil di Irian mau dipenjara semua gara2 gak pake baju??? aduhhhh

    saya baca isi RUU-nya ada di : http://klikazzahra.multiply.com/reviews/item/35/Ini_nehh.._Isi_dari_RUU_Pornografi_yang_bikingerah_itu…sepertinya… bagus2 aja. melindungi wanita dan anak. nggak ada masalah. nggak ada yg membicarakan masalah saudara kita di Irian. hehehe… nyantai aja mbak…kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk bisa satu pikiran dgn kita…

  9. Thursday, 18 September 2008 at 12:00 am

    Yach…, lapas jadi lebih sesak lagi nich….Heran dech….

  10. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    Disyahkan apa enggak, jaman skrg kalo mo cari yg pornografi gampang, tinggal di goggling aja :))

  11. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    cikicikicik said: buat saya apapun peraturan, yang penting aparat yang menjalankannya

    betul mbak wahida. lha itu segepok UU perlindungan anak dan perempuan, dan entah apa lagi … apa sudah dijalankan? anyway …

  12. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    italutfiana said: kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk bisa satu pikiran dgn kita…

    betul mbak ita. dan itulah pokok persoalan dari RUU-P ini: memaksa seluruh warga untuk setuju dengan gagasan/cara-pikir yang ada di dalamnya. ya tak heran kalau banyak yang menolak, termasuk banyak masyarakat adat irian/papua, bali, dan berbagai kelompok lainnya.

  13. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    silaka pak/bu. salam kenal …🙂

  14. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    joejoejelek said: ada apa gerangan..???

    barangkali memang polarisasi ideologi dan politik ini makin kentara di negeri ini, pak ..

  15. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    [sambil tangan kiri menggenggam erat dan mengacung ke udara … hehehehe …]

  16. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    cikimung said: masalahnya kan indonesia ini majemuk sekali

    persis! ada dua persoalan dengan RUU ini di sini: (1) pemaksaan kehendak/gagasan/cara-pikir — yang lantas bermuara pada (2) ideologisasi satu agama pada masyarakat majemuk. kalau ini dipungkiri, ya memang payah hidup berpolitik di negeri ini.

  17. Friday, 19 September 2008 at 12:00 am

    heheheheee … salam kenal kawan-kawan. memang logika UU ini kayaknya kebalik-balik. lha wong yang ‘terangsang’ yang laki-laki kok lantas yang perempuan (atau anak-anak) yang ‘disalahkan’ (harus ditutup, harus dilindungi, harus … dlsb.) logika yang benar harusnya melindungi perempuan, melindungi anak, dan menghukum mereka yang mengeksploitasi seksualitas (perempuan *DAN* laki-laki)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: