Home > Uncategorized > banjir di akhir tahun

banjir di akhir tahun

Thursday, 27 December 2007 Leave a comment Go to comments

tanggal 25 desember sore WIB, saya telepon ibu dan adik saya (yang sedang mudik bersama suami dan anaknya) di solo untuk mengucapkan selamat natal. di telepon ibu bercerita bahwa hujan deras mengguyur kota tua itu sudah selama beberapa hari. tanggal 26 desember saya beristirahat seharian di kamar kos. tanggal 27 desember tadi pagi (GMT), mata saya terantuk pada sebuah email yang dikirim kawan SMA saya: solo dan sekitarnya banjir. bengawan solo meluap. mboro, mbetonan, kampung sewu, jebres, pasar kliwon, terendam. saya terdiam. itu kampung-kampung tempat saya bermain di masa kecil. lalu bagaimana nasib kampung saya: gandekan tengen? ada sungai, kali pepe, anak bengawan solo, yang mengalir di situ.

langsung saya telepon ndalem gandekan. tak diangkat. saya telepon HP ibu. tak diangkat. saya telepon HP adik saya, tak diangkat. saya kirim SMS. sent. tapi entah sampai atau tidak. saya telepon istri saya di pontianak. istri saya juga bercerita bahwa sejak mendengar solo banjir ia mencoba telepon ibu saya, namun juga tanpa hasil. mungkin beberapa STO dipadamkan. karena, saya coba telepon kawan-kawan saya yang ada di solo juga tidak nyambung.

saya sih yakin ibu saya tidak apa-apa. semoga. saya juga yakin rumah gandekan tidak kebanjiran – atau kalau kebanjiran pasti tidak terlalu parah. tetapi memang rasanya masih belum “plong” kalau belum mendengar langsung dari ibu atau dari adik saya bahwa beliau dan mereka baik-baik saja.

setengah jam ini saya telusuri berbagai situs berita di tanah air yang mengulas banjir itu. juga komentar-komentar atas bencana yang terjadi di akhir tahun ini. setelah tawangmangu, karanganyar dan solo dilanda banjir dan tanah longsor, jakarta diramalkan segera menyusul bulan depan dengan banjir yang sudah “terjadwal”. miris. tapi saya makin miris membaca komentar-komentar yang menurut saya malah menyesatkan: bahwa berbagai bencana ini terjadi karena masyarakat indonesia makin banyak dosanya, makin tidak percaya pada tuhan. jadi untuk menangkal bencana diperlukan tobat massal, istighfar massal, doa massal.

saya sungguh tak habis pikir.

komentar seperti itu, melalui media, menjadi berbahaya karena membodohi dan menyesatkan dalam skala luas. waduk gajah mungkur tak bisa menahan luapan air karena hutan-hutan di wonogiri sudah digunduli. daerah aliran sungai (DAS) bengawan solo tak bisa menahan derasnya arus karena sudah tak ada lagi pohon-pohon pelindung. tawangmangu longsor karena dia sudah berubah dari daerah resapan menjadi hutan villa-villa orang kaya dari jakarta yang kosong sepanjang tahun. hal yang sama akan terus terjadi. kini di solo, karanganyar dan tawang mangu. bulan depan di jakarta. mungkin di waktu lain akan terjadi di tempat lain di indonesia. kalau kalimantan digunduli, kalau papua dibabat habis, kalau sumatera disulap jadi kebun kelapa sawit? bencana itu tinggal soal tunggu waktu ..

ini semua bukan karena tuhan marah per se pada kita. tetapi karena kita bodoh. kita yang merusak dan menyakiti alam ini. kalau alam “membalas” dengan “bencana” seperti banjir ini, itu semata-mata karena kesalahan dan kebodohan kita sendiri.

tapi lalu saya redam kegeraman saya membaca banyak komentar “sesat” tersebut. mungkin benar. ya, mungkin benar. karena kita berdosa? ya, kita berdosa karena kita merusak alam. dan makin banyak yang melakukan hal yang sama. kita berdosa secara berjamaah .. kita tidak percaya tuhan? itu benar. kita lebih percaya pada kekuasaan uang dan politik. kita hanya percaya pada kekuasaan tuhan di hari jumat waktu sholat jumat atau minggu waktu ke gereja. sisanya? banyak dari kita menyerahkan hidup pada kekuasaan harta. lalu kita menjadi rakus, lalu kita menjadi tamak. lalu kita hisap apa saja yang bisa kita hisap: orang lain dan lingkungan.

jadi, ya mari kita bertobat. tapi tobat saja tidak cukup. perlu tindakan nyata, untuk membadankan tobat itu. berdoa perlu. tapi mengembalikan pohon-pohon di hutan yang digunduli itu lebih perlu. istighfar itu perlu. tapi merencanakan pengendalian bencana untuk mengantisipasi bencana berikutnya itu lebih perlu.

catatan:
gambar diambil dari koran solopos, 27/12/2007. gambar itu adalah gambar sejumlah rumah di wilayah kampung sewu, kurang dari 500m dari rumah kediaman ibu saya di solo.

update jam 22.50 GMT: ada kawan sesama alumni SMA, pak dokter kris, yang mengupload foto-foto banjir solo di sini.

Categories: Uncategorized
  1. Thursday, 27 December 2007 at 12:00 am

    Aku prihatin tenan, banjir sampai kayak gitu….Coba deh bayangin, nggak usah jauh-jauh sampai Kalimantan, Sumatera atau Papua. Lihat saja Puncak, berapa banyak real estate mewah yang kebanyakan kosong, cuma dihuni pada waktu weekend. Itu saja mungkin cuma sebulan sekali. Nggak heran kan kalau nggak ada daerah tangkapan air lagi wong kabeh diurug beton?

  2. Thursday, 27 December 2007 at 12:00 am

    iya mas, kami juga jadi sibuk memantau situasi. sekarang (28/12/07) air kembali meluap karena waduk gajah mungkur dibuka. Dikhawatirkan, waduk bisa jebol. Jadinya Solo tergenang banjir lagi.

  3. Friday, 28 December 2007 at 12:00 am

    selamat natal, pak doktor. sedih juga mendengar kabar banjir ini. mudah2an kita semua slalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. amin…

  4. Friday, 28 December 2007 at 12:00 am

    lha ya kuwi mbak. aku dewe tak habis pikir melihat kelakuan semacam itu.

  5. Friday, 28 December 2007 at 12:00 am

    ike terima kasih berita-beritamu yang kamu pasang di blog. sangat membantu. tak hanya saya, tapi juga kawan-kawan yang ingin tahu kabar solo.

  6. Friday, 28 December 2007 at 12:00 am

    mas sul, terima kasih atas ucapan natal dan simpatinya. nampaknya memang masih panjang perjalanan kita sebagai bangsa yang, seperti anda bilang, sedang –dan masih harus banyak– belajar ini. selamat tahun baru juga. apakah sudah di tanah air? atau sudah ngantor di singapura? (whereabouts? NUS?)

  7. Friday, 28 December 2007 at 12:00 am

    masih di bandung dan sedang ngantor di ngopi doeloe. biasa, internet gratisan…hehehe

  8. Sunday, 30 December 2007 at 12:00 am

    Jadi inget syair lagu Bengawan Solo…air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut….Tapi bagaimana bisa bermuara ke laut lha wong sampah berserakan disepanjang DAS je. Stop buang sampah sembarangan, stop pembalakan liar walau bersertifikat HPH sekalipun, stop pembangunan Villa mewah di daerah resapan air, etc, etc. Sekarang! If not now than when? If not us than who?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: