Home > Uncategorized > anugerah kehidupan

anugerah kehidupan

Ibu-bapak, saudari-saudara, dan rekan-rekan sekalian

Hanya tunduk khidmat pada Sang Pemberi Hidup yang bisa kami lakukan sebagai ungkapan syukur atas anugerah sebuah kehidupan baru yang dipercayakan melalui kami berdua.

***

Pada hari ini, Selasa 10 Juli 2007 kalender Masehi, atau Selasa Pon 24 Rejeb 1940 penanggalan Jawa, lahir anak kedua kami di RS. St. Mary, Manchester, Inggris Raya. Proses kelahiran berjalan sangat cepat dan bahkan ketika anak kami sudah lahir, kami masih setengah tidak percaya. Malam sebelumnya, sampai lewat tengah malam, Ira masih lembur menyelesaikan buletin triwulanan untuk “Toy Library” di Trinity House dimana dia secara sukarela menjadi editornya. Selasa pagi, jam 08.45 dia mulai merasakan kontraksinya. Tetapi karena dia merasa waktunya belum tiba, dia masih santai. Jam 09.30 saya menemaninya jalan kaki ke Trinity House yang tidak terlalu jauh dari rumah kami karena dia mau mengantarkan hasil pekerjaannya kepada ‘boss’nya, agar buletin bisa terbit tepat waktu. Di perjalanan ke dan dari Trinity House, dia merasakan beberapa kali kontraksi dan ketika kami cek, jarak antar kontraksi sudah bervariasi mulai dari 5 sampai 7 menit. Ini membuat kami memutuskan untuk segera menghubungi rumah sakit setiba di rumah, yang lalu meminta kami ke sana.

Pukul 11.00 kami tiba di rumah sakit. Bidan (midwife) mengecek keadaan Ira dan menyatakan bukaan 5 pada pukul 11.15. Dia memperkirakan bayi akan lahir dalam waktu 1-2 jam kemudian. Karena Ira ingin melahirkan di dalam air (waterbirth), maka bidan menyiapkan kolam persalinan (birth waterpool) dan Ira ditempatkan sementara di sebuah ruang bersalin. Dalam keadaan duduk menunggu itulah dia merasakan kontraksi kuat dan mulai mengejan. Entah itu ruang bersalin jatah siapa, tanpa pikir panjang, saya bantu Ira berbaring di meja persalinan yang ada di sana lalu saya cari bidan. Celakanya, bidan yang ditugaskan membantu Ira sedang tidak ada di situ (karena sedang menyiapkan kolam persalinan). Untunglah ada bidan lain yang langsung mau menolong ketika saya paksa dan bilang bahwa Ira sudah mengejan.

Ketika saya dan bidan tersebut masuk ruangan tersebut (baru saya sadari, ruangan itu adalah Delivery Suite 10), Ira sudah mengambil posisi melahirkan. Jam 11.30 Ira mengejan: ketuban pecah. Orang Jawa bilang “kakang kawah”. Jam 11.32 Ira mengejan lagi: kepala si bayi ‘nongol’ sebagian. Jam 11.33 Ira mengejan terakhir kalinya dan lahirlah si bayi, yang langsung “skin-to-skin” dengan ibunya dan saya potong tali pusarnya. Jam 11.37 plasenta (atau “adhi ari-ari”) keluar. Mungkin baru 5 menit kemudian, baru si bidan yang seharusnya ditugaskan membantu Ira masuk ke ruangan itu dan …”O, my God” katanya sambil kaget, karena .. bayinya sudah lahir, di luar kolam. Ibunya juga melahirkan tanpa obat penghilang nyeri apapun, mungkin karena begitu cepatnya.

Kini si ibu dan si bayi beristirahat di Ward SM4/10a RS. St. Mary. Meski Ira sebenarnya merencanakan sistem ‘domino’ (langsung pulang setelah melahirkan), namun karena pendarahan yang agak berat, diputuskan untuk mengobservasi Ira sekurangnya selama 24 jam sejak melahirkan. Semoga dia segera pulih.

***

Bayi ini kami beri nama Linggar Nara Sindhunata. Ketiga kata ini berasal dari bahasa ibu kami, bahasa Jawa, yang dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta. Linggar artinya ‘pergi’, ‘berkelana’, ‘mencari’, atau ‘menjelajah’. Nara artinya ‘manusia’. Sindhunatasindhu berarti ‘air yang mengalir’ atau ‘samudera’, nata berarti ‘raja’ atau ‘sumber segala sumber’—‘sumber air yang selalu mengalir’. Kami berharap agar Nara, demikian kami memanggilnya, menjadi manusia yang menjadi sarana bagi sesama untuk mencari, memberikan dan mengalirkan diri bagi semesta.

Tentu saja, kami berharap agar kami bisa menjadi orang tua yang baik baginya, yang memberi ruang bagi kebebasan dan kepenuhan perkembangan jiwa-raga-nya selaras dengan panggilan alam ini.

***

Tentu Ira, sang ibu, adalah yang paling layak diberi ucapan selamat, karena dialah aktor utama seluruh proses ini. Sejak Nara di dalam kandungan, Ira mencoba sebisanya hidup sehat dan makan makanan organik (kami percaya, lancarnya kelahiran ini sedikit banyak karena gaya hidup tersebut. Pola hidup sehat ini dia tularkan pada kami semua). Dia secara rutin mengecek perkembangan kandungannya dan menyiapkan birth-plan, semacam cetak-biru rujukan untuk persalinan. Dia juga yang bersikeras untuk seminim mungkin menggunakan intervensi obat penghilang sakit selama melahirkan (dan terbukti bayi lahir dengan lancar dan dengan rasa sakit yang lebih ‘tertanggungkan’).

Selain Ira, orang yang berjasa adalah Ibu Suharti, ibunda Ira, yang kini mendampingi kami. Beliau rela meninggalkan
pekerjaannya di Pontianak dan mengambil cuti panjang karena beliau tahu kami pasti akan kerepotan untuk mengurus Aruna, anak pertama kami yang berusia 2 tahun 4 bulan, ketika Ira melahirkan. Dan benar, rasanya tanpa Ibu Suharti, menyiapkan dan menghadapi proses persalinan tentu tidak akan semudah saat ini. Aruna kini sudah sangat dekat dengan eyang putri-nya dan hal ini membantu kami, khususnya Ira, untuk mendapatkan ruang lebih lega untuk menyiapkan kelahiran Nara.

***

Terima kasih atas perhatian Ibu-bapak, saudari-saudara dan rekan-rekan sekalian kepada kami sekeluarga. Saya dua kali mengosongkan ‘inbox’ di telepon genggam saya, dan ‘mailbox’ saya dipenuhi ucapan selamat atas kelahiran Nara. Telepon di rumah juga, kata Ibu, berdering berkali-kali menerima ucapan selamat dari kawan-kawan sekalian.

Kami terharu membaca pesan-pesan yang masuk dan mengetahui besarnya perhatian kawan-kawan semua pada keluarga kami. Terima kasih atas ini semua, dan mohon maaf, kami tidak bisa membalasnya satu-per-satu. Semoga catatan ini bisa menjadi balasan, meski mungkin tidak akan pernah memadai.

Semoga Sang Pemberi Hidup sejati membalas budi baik dan memberkati anda sekalian.

Redclyffe Avenue, Manchester, 10/07/2007

Salam kami

Ira-Aruna-Nara-Yanuar

Categories: Uncategorized
  1. Tuesday, 10 July 2007 at 12:00 am

    Mas Yanuar dan keluarga,Tidak ada kata-kata lain yang bisa saya ucapkan selain mengucapkan Selamat…!Atas nama saya dan keluarga.Konon, setiap kelahiran manusia baru adalah tanda dari Sang Khalik – bahwa Beliau masih belum kapok dengan manusia.Selamat datang Nara…! Pesan dari Sang Khalik tertangkap sangat jelas.

  2. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    Selamat ya atas kelahiran Nara. Semoga dia menjadi manusia yang menjadi sarana bagi sesama untuk mencari, memberikan dan mengalirkan diri bagi semesta….sesuai dengan keinginan orang tuanya. Source gambar:http://www.free4uwallpapers.nl

  3. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    Yan, selamat ya atas kelahiran Nara. Wah syukur deh semua sehat dan proses kelahirannya lancar dan cepat. Soalnya aku inget dulu waktu Aruna kamu cerita kan lumayan lama.Salam ya buat Ira, Aruna dan Nara…. Kalau ke selatan mampir lo ya …

  4. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    Sekali lagi selamat mas!

  5. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    Selamat, selamat, selamat!

  6. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    Mas Yan….. selamat yach..!!!!

  7. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    waah namanya bagus sekali yah mas, semoga yg diharapkan dari pemberian nama bagi nara bisa tercapai🙂

  8. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    mas Yanuar, selamat atas kehadiran puteri barunya. semoga jd anak yg bekti pd ibu-bapaknya,agama & negara. semoga nanti dia ttp bisa bhs jawa walaupun tinggal di ngInggris…nandur ari2nya pake acara?kalo dulu spy pinter ari ditanam sama buku+potlot skrg mungkin sehrsnya diganti dng laptop…..(eman yo?)

  9. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    kawan-kawan semua (maaf tak bisa balas satu persatu): TERIMA KASIH dari kami sekeluarga atas perhatian yang diberikan. Nara dan Ira baru saja pulang dan kini mereka tengah istirahat. Nanti pasti saya sampaikan kepada mereka …

  10. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    sutops said: nandur ari2nya pake acara?

    waktu saya telpon ibu saya, beliau tanya apa saya masih bisa nulis pakai huruf jawa. untungnya pelajaran dari almarhum bapak dan mbah kakung itu tertanam betul. maka kecuali kendhil, nandur ari-arinya saya lakukan (bersama ibu mertua) secara adat. dibungkus kain putih, diberi doa yang tertulis, lalu diberi “penyuwun” pakai huruf jawa yang saya tulis sendiri. lalu ya diengkapi bolpen dan kertas (soalnya eman-eman kalo laptop) …🙂

  11. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    seru mas cerita..nti tak kabari ya kalo ke Manchester..:D

  12. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    Akhirnya terlahir🙂 dengan nama yg begitu indah dan penuh doa, mudahan jadi anak yang berbakti pada ortu dan semesta…Turut berbahagia🙂 Duuuuuuuuuh, jadi kepingin jenguk si baby cantik Mas😀

  13. Wednesday, 11 July 2007 at 12:00 am

    hmmm… seingat saya nama itu adalah sebuah bentuk doa.dan apalah doa selain ucapan syukur dan harapan?

  14. Thursday, 12 July 2007 at 12:00 am

    Selamat! Selamat! Selamat!Linggar Nara Sindhunata, nama yang bagus..semoga doa dan harapan tercapai agar Nara menjadi “manusia yang menjadi sarana bagi sesama untuk mencari, memberikan dan mengalirkan diri bagi semesta”

  15. Thursday, 12 July 2007 at 12:00 am

    Bung, selamat juga ya atas kelahiran anak kedua ini. Semoga yang sulit dimudahkan.-Coen

  16. Sunday, 15 July 2007 at 12:00 am

    selamat bung,semoga nara lekas mencari kebahagiannya…eh harusnya ari-arinya (ketuban) di labuh aja….biar jadi pengembara seluas samudra..!nkhawari@gmail.com

  17. Monday, 16 July 2007 at 12:00 am

    betul sekali, bang poltak.tadi waktu saya register kelahiran anak saya di kotapraja, petugasnya bertanya soal nama belakang (surname). dia bingung kok surnamenya anak saya, istri saya dan saya lain-lain. lalu dia bilang harusnya sama, bla-bla-bla … wah, nampaknya dia “british-biased” … :-)) ya sudahlah, lalu saya jelaskan balik bahwa di dunia ini ada banyak cara memberi nama… :-)salam untuk keluarga di jakarta.

  18. Monday, 16 July 2007 at 12:00 am

    nkhawari said: harusnya ari-arinya (ketuban) di labuh aja

    wah, adoh saka pantai je mas .. harus ke liverpool ..! lagian nanti disana mau melabuh ari-ari malah dikira buang sampah dan dikenai denda …🙂 jadi ya ditanam di depan rumah saja …🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: