Home > Uncategorized > dua “tukul” …

dua “tukul” …


tukul arwanawiji tukul

tulisan ini, tentang “dua tukul”, sangat menarik. dan saya sangat setuju isinya. silakan anda baca sendiri.

Dua Tukul, Dua Kutub Estetika
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/budaya/dua-tukul-dua-kutub-estetika-3.html

ADA dua Tukul di negeri ini.Satu adalah Wiji Tukul. Satunya lagi adalah Tukul Arwana. Keduanya adalah seniman yang mengeksploitasi kata-kata dan tindakan,berpengaruh besar pada kesadaran massa dan juga menjadi ikon sejarah yang mungkin akan sama-sama dikenang.

Tetapi sebagai dua orang yang sama-sama pernah terjun dalam kesenian, keduanya memiliki karakter masing- masing yang berlawanan.Yang satu, seniman yang serius berbicara keadaan— dan ingin mengubah keadaan. Yang satunya adalah yang ingin mempertahankan keadaan—dengan cara menertawakan kekalahan dalam menghadapi keadaan.

Tukul Pemberontak

Adalah Widji Tukul, bernama asli Widji Widodo,lahir di Kampung Sorogenen, Solo,26 Agustus 1963,dari keluarga tukang becak.Dia menandai dunia kesenian Indonesia dengan menorehkan satu kredo yang dapat membangkitkan kesadaran kritis-berlawanan rakyat dan mahasiswa,”Hanya Satu Kata,Lawan!” Naluri berkeseniannya telah terasah sejak kecil justru karena kemelaratan.

Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, dia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, menjadi calo karcis bioskop dan tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pendidikan tertinggi Tukul,Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Jurusan Tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang.

Betapa besar kemauannya untuk berperan dalam sejarah.Kendati hidup sulit, dia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat dia dan anak-istrinya tinggal.Pada akhirnya,dia menjadi bagian dari gerakan rakyat pula, menggunakan kesenian dan sastra sebagai ungkapan untuk mendobrak ruang demokrasi yang sempit dan ketidakadilan ekonomi. Tukul sadar bahwa fase 1990-an adalah fase memimpin keberanian rakyat, mendobrak kebekuan perjuangan elitis dan pragmatis.

Prinsip radikalisasi ala Mas Marco dan Tirto Adisuryo sebagai sastrawan zaman pergerakan, ditegaskan sebagai bagian hakiki dari sejarah. Puisi-puisi Tukul adalah sejumlah kesaksian yang begitu tegar, getir, dan siap menjadi pisau.Ternyata hidup tidak hanya berisi kesenangan semata, sebagaimana yang tertuang dalam acara sinetron di layar televisi kita. Tukul memaparkan pula, bagaimana dia mencintai perempuan, dengan bermodal baju yang loak pundaknya.

Pemakaian simbol binatang banyak pula hadir, simak dalam sajak Tikus—bagaimana Tukul mencoba menggugat tentang kekalahan si ”kecil” dengan yang ”besr”. Kita pun dihadapi dalam sebuah hukum rimba,siapa yang menang dialah yang berkuasa: ”seekor tikus/pecah perutnya/ terburai isinya/berhamburan dagingnya// seekor tikus mampus/dilindas kendaraan/tergeletak/di tengah jalan/ kaki dan ekornya/terpisah dari badan/ darah dan bangkainya/menguap bersama/panas aspal hitam siapa suka/ melihat manusia dibunuh/semena-mena/ ususnya terburai tangannya/terkulai seperti tikus selokan/mampus digebuk/ dibuang di jalan/dilindas kendaraan/ kekuasaan sering jauh lebih ganas/ ketimbang harimau hutan yang buas/ korbannya berjatuhan/seperti tikustikus/ kadang tak berkubur/tak tercatat/ seperti tikus dilindas/kendaraan lewat…”

Sajak ini ditutup dengan pertanyaan yang bersedia.Tukul seperti mempertanyakan lagi naluri kemanusiaan bagi orang-orang yang kerjanya menindas: ”Kau bersedia/diumpamakan/seperti tikus?” Widji Tukul sendiri berjuang melawan tikus-tikus dengan membangun organisasi. Lalu,muncullah peristiwa kekacauan 27 Juli 1996.Tukul bersama Budiman Sujatmiko dan Pius Lustri Lanang menjadi buronan utama pemerintah. Tukul hilang dan dia baru masuk daftar orang hilang pada 2000.

Tukul Penghibur

”Kembali ke laptop!” Itulah kata kunci dalam tayangan Empat Matayang dibawakan Tukul Arwana di sebuah stasiun TV swasta.Humor yang dibawakannya memiliki sesuatu yang khas. Kemampuan bahasa verbalnya yang sering menyelipkan kalimat-kalimat bahasa Inggris yang asal njeplak (bicara sesukanya) menjadi salah satu kunci kekuatan humornya.

Juga bahasa tubuh (body language) dan gerak-geriknya (nonverbal) yang dibumbui atraksi gerakan tarinya yang luwes gemulai, juga menjadi ”senjata ampuh”lawakan slapstick-nya. Dan yang bikin partner mainnya,terutama yang perempuan,kadang tak bisa berkutik. Tukul juga sering jawil-jawil (colak-colek) lawan mainnya. Dan ini juga menjadi daya pikat dagelannya. Maka tak heran jika para penonton yang ada di studio TV kerap menyuruh Tukul dengan teriakan: ”……cium! cium! cium”.

Dan seperti biasa, Tukul yang satu ini lalu mengejar ”mangsanya” untuk menciumnya. Tukul yang satu ini adalah ikon baru dalam budaya kita. Setelah Tukul lama (sang penyair dan seniman kerakyatan) dihilangkan yang tampaknya sebagai syarat tumbangnya era kediktatoran Orde Baru,Tukul sang pelawak ini justru mengiringi kediktatoran TV yang membentuk karakter massa yang dihegemonikan oleh budaya pop, hingga nalar kritisnya tumpul. Kini gejala ”Tukulisme” baru menjalar di mana-mana. ”Demam Tukul” sedang terjadi.

Memang ada orang yang memaknai kehadiran Tukul sebagai pelajaran dari orang yang berhasil survive dan berhasil dari kerja keras.Tapi kalau kita teliti secara jauh dan dialektis, apa makna kehadiran Tukul bagi masyarakat Indonesia yang kebanyakan bukan hanya ndeso atau katrok, tetapi juga kesejahteraan dan demokrasinya dihilangkan? Apakah kesuksesan Tukul Arwana mampu menginspirasi dan ajarannya dapat digunakan untuk mengubah keadaan? Orang boleh mengatakan bahwa humor adalah bagian dari tingkat kecerdasan manusia.

Kelincahan dalam berhumor bisa jadi mencerminkan tingkat intelektualitas dan intelegensi—tesis itu dalam hal tertentu memang benar! Yang menonjol dari Tukul adalah ”kerelaan”-nya menjelek-jelekkan diri di hadapan penonton; mengeksploitasi keburukan agar kelihatan lucu dan kelucuan-kelucuan itu dinamakan humor—dan itulah yang membuat acara Tukul sukses, bahkan berada dalam peringkat tertinggi. Lalu,apa yang diajarkan pada penonton?

Apa y
ang dapat dipetik bagi bangsa ini? Harukah kita menertawakan diri sendiri,haruskah kita membiarkan kita buruk (seperti wajah Tukul) dan dengan membiarkan bahwa kita pantas ditertawakan (bangsa-bangsa lain), kita akan terima karena dengan jelek dan terbelakang (dan karenanya lucu!) kita akan tetap bertahan seperti ini?

Jangan-jangan ideologi ”Tukulisme”( humorisme) itu memang telah merasuk di bangsa kita, bahkan sejak Tukul pelawak belum setenar sekarang ini? Masalahnya, sejak zaman Soeharto, bangsa kita yang telah terbelakang ini selalu ditertawakan bangsa lain karena terpuruk dan terbelakang (dan bertahan dengan apa adanya—meskipun elite-elitenya bermewah-mewahan). Lalu,kita menyandarkan diri pada utang luar negeri dan tunduk patuh untuk dipaksa menuruti kebijakankebijakan lainnya.

Namun,barangkali saya lebih percaya pada pendekatan psikologis bahwa menertawakan diri sendiri merupakan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang digunakan untuk melanggengkan keburukan diri. Sebelum ditertawakan orang lain, lebih baik mendahului dengan menunjukkan keburukan kita agar terkesan percaya diri dan keburukan itu tidak memalukan.

Inilah filsafat ”Tukulisme” (pelawak) yang sebenarnya telah lama kita praktikkan dalam peradaban kita. Dan hati-hati,bangsa ini akan terus menjadi bangsa katrok! bangsa yang ”disobeksobek” kebudayaannya oleh imperialisme budaya yang menyerang melalui media, khususnya TV.

Nurani Soyomukti
Penyair dan esais, aktif di Yayasan Komunitas Teman Kata (Koteka) Jakarta

Categories: Uncategorized
  1. Wednesday, 27 June 2007 at 12:00 am

    Ada 2 tukul, sama-sama seniman tapi jalan hidupnya sangat berbeda ya….

  2. Saturday, 18 August 2007 at 12:00 am

    Ini toelisan soengoeh menginspirasi oerang-oerang djang berdjoeang

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: