Memikir ulang prioritas

MIMBAR – Mingguan Hidup, Juni 2006

Yanuar Nugroho

Beberapa hari setelah gempa melanda Yogya, saya terlibat dalam pembicaraan intensif jarak jauh melalui telepon dengan seorang sahabat karib. Ia menjadi relawan yang bersama timnya tengah membantu menangani korban di salah satu Paroki dan ia mengamati kejadian yang mengejutkannya: dia melihat Gereja setempat memprioritaskan umat Katolik untuk mendapatkan bantuan, sedangkan yang lain didiskriminasikan. Merasa galau melihat hal itu, ia meminta bantuan saya untuk mengangkat persoalan ini.

Paham dengan kompleksitas persoalan ini dan konsekuensinya, saya mengambil risiko membawa persoalan ini pada lingkup yang lebih luas melalui media elektronik (e-mail dan mailing-list). Email itu segera menjadi polemik di Internet. Kebanyakan negatif penuh kritik (walau ada satu-dua yang bersimpati) karena saya mengangkat persoalan ‘yang belum jelas kebenarannya ini’ pada audiens yang lebih luas, meski masih dalam lingkup Katolik. Lebih jauh lagi: karena yang saya lakukan dianggap ‘memperkeruh suasana’, ‘mencoreng nama baik Gereja’ dan ‘menimbulkan perpecahan dalam Gereja’.
Namun muncul klarifikasi atas kejadian tersebut dari pejabat Gereja setempat. Penjelasannya persis yang saya duga, “… bukan diskriminasi, melainkan prioritas menolong umat Katolik dulu”. Meski tak puas, saya (dan kawan saya) memutuskan menahan diri – setidaknya karena praktik ‘prioritas’ itu konon mulai dikoreksi sejak kabar itu meluas di Internet.

***

Apakah prioritas itu salah? Apakah ada masalah dengan tindakan memprioritaskan? Lebih jauh lagi: dalam situasi kritis atau terjepit (misalnya bencana), apakah salah tindakan lebih mengutamakan atau mendahulukan menolong ‘kaumnya sendiri’ –saudara, keluarga atau umat seiman?

Naif mengatakan prioritas itu salah. Tapi juga sama naifnya dengan mengatakan bahwa tindakan memprioritaskan itu samasekali tidak bermasalah. Dimana letak soalnya?

Prioritas sudah tentu asimetris, tidak sama-sebangun. Ada yang dipandang dan dianggap lebih besar, lebih penting, lebih utama untuk didahulukan. Tindakan mendahulukan ini memang tidak otomatis menimbulkan penyalahgunaan (abuse), namun potensi itu tetaplah ada. Karena itu kita harus selalu jeli melihat: kapan prioritas itu wajar dan kapan prioritas itu disalahgunakan.

Salah satu praktik penyalahgunaan prioritas yang paling luas ditemui adalah diskriminasi. Diskriminasi, gampangnya, adalah prioritas yang mengada-ada. Maka tak heran kalau dalam banyak gagasan filsafat sosial dikatakan bahwa akar diskriminasi adalah praktik prioritas yang berlebihan, khususnya menyangkut realokasi sumber daya yang terbatas (lihat misalnya pemikiran filsuf Jeremy Bentham atau John Stuart Mill).

Itulah sebabnya semua tindakan dan praktik sosial yang berdalih prioritas harus secara cermat di’waspadai’ sejak awal tanpa kecuali. Mengapa? Pertama, bukan karena prioritas itu secara inheren buruk, melainkan karena prioritas memang tidak pernah punya agenda etis dalam-dirinya-sendiri untuk menjadi ‘adil’ kepada mereka diluar kepentingannya. Kedua, dan ini lebih penting, karena seringkali rationale dari prioritas yang cenderung menyeleweng menjadi diskriminatif bersarang di tingkat kesadaran pasif (consciousness) dan bukan tingkat kesadaran aktif (awareness) pelakunya – dan karenanya perlu diingatkan.

Maka, dengan lebih jernih kini kita bisa melihat konteks persoalan di awal tulisan ini.

Satu, tentu bisa dipahami alasan Gereja lokal tersebut untuk mendahulukan menolong umatnya. Juga bisa dipahami kalau untuk itu ada prosedur yang harus dilewati seperti persetujuan Wilayah atau Lingkungan, demi akuntabilitas dan pelaporan. Sampai di sini, rasanya masih wajar. Namun, mari waspada pada tahap berikutnya: ketika orang lain harus mengikuti prosedur yang sama untuk mendapatkan bantuan dari Gereja tersebut. Ini mulai menjadi tidak adil. Bahkan mengada-ada. Mengapa? Karena sudah tentu membatasi. Yang jeli tentu segera melihat soalnya: mengapa orang lain harus mengikuti prosedur yang berlaku bagi umat Katolik untuk mendapatkan bantuan – dan karenanya jadi mempersulit?

Dua, dalam konteks yang kompleksitasnya jauh lebih tinggi, seperti hidup bersama di Indonesia, praktik semacam itu bisa menimbulkan akibat yang fatal. Apalagi dalam situasi bencana. Salah-salah, malah bisa muncul konflik horisontal kalau praktik prioritas bantuan oleh Gereja semacam ini tidak segera diletakkan pada proporsi yang wajar. Dan itu tidak susah: misalnya kalau yang Katolik diminta menyertakan persetujuan Pamong Wilayah atau Ketua Lingkungan, yang lain cukuplah dengan persetujuan Ketua RT atau Ketua RW saja.

Akhirnya, mungkin baik kita kembali merujuk Kristus. Semula Ia menandaskan tentang prioritas keselamatan bagi orang Israel saja, tetapi akhirnya karena seorang perempuan Siro Fenesia, Ia menunjukkan bahwa belas kasihNya juga bagi semua orang, bahkan di luar Israel (Bdk. Mrk 7: 24-30). Jangkauan gagasan tentang ‘saudara’ dalam ajaran Yesus itu mencakup bukan hanya saudara sebangsa, tetapi juga semua orang. Dalam konteks itu, berarti tidak ada kategori seiman atau tidak. Yang penting karena sama-sama manusia, mereka itu saudara yang sama-sama harus dibantu (Bdk. Kisah orang Samaria yang baik hati, Luk 10:33).

Kita tahu bahwa sudah demikian banyak kesulitan dalam mendistribusikan bantuan dan sudah demikian letih para pekerjanya. Jadi wajar kalau ada yang berseru: “Janganlah mereka dibebani dengan soal prioritas ini. Percaya sajalah, tentu mereka tahu apa yang terbaik.” Tak sepenuhnya salah ujaran ini. Namun, semoga kini kita juga tahu, bahwa justru karena persoalan prioritas tidaklah sesederhana ‘percaya saja’, mari kita bantu mengingatkan agar praktik prioritas yang mereka lakukan tidak menjadi berlebihan, tidak mengada-ada dan akhirnya tidak menjadi diskriminatif.

Semoga catatan lepas ini ada gunanya dan menjelaskan duduk soalnya. (*)

Penulis adalah peneliti doktoral di Universitas Manchester, Inggeris

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: