Bisnis Pun Ada di Simpang Jalan

Thursday, 22 September 2005 Leave a comment Go to comments

Opini Kompas, 22 September 2005, h.38

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/22/opini/2068215.htm

Mungkin hanya kebetulan bahwa Forum Asia untuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Asian Forum for Corporate Social Responsibility/AFCSR) dan Forum Resistensi Lokal (Local Resistance Forum/LRF) diadakan di tempat dan waktu yang sama, Jakarta, 8-9 September 2005.

Forum tersebut menghadirkan jaringan lokal, regional, dan internasional. Keduanya membicarakan tantangan zaman ini: implikasi globalisasi dan ekonomi neoliberal. Pertemuan tersebut juga menempatkan keprihatinan atas nasib Bumi dan penghuninya.

Bedanya, AFCSR yang gemerlap ditata dan dihadiri oleh komunitas bisnis pilihan, sementara LRF sederhana namun partisipatif dan melibatkan berbagai organisasi masyarakat tanpa kecuali. Kalau yang pertama mewakili 20 persen orang terkaya di dunia memfokuskan perhatian pada upaya korporasi mencari laba secara bertanggung jawab, sedangkan yang kedua mewakili 80 persen orang termiskin mencoba menyatukan upaya untuk bertahan hidup di tengah serbuan global akumulasi laba tanpa akuntabilitas yang dilakukan atas nama globalisasi.

Tampaknya koinsidensi itu menunjukkan bahwa kita memang tengah berada di persimpangan jalan dan menghidupi sebuah tegangan. Namun, ia juga melahirkan gagasan.

Tegangan dan gagasan

Kata Stuart Hart dalam bukunya Capitalism at the Crossroads (2005), kita sedang berada di beberapa simpang jalan.

Pertama, secara umum, kita di persimpangan jalan sebagai spesies. Ada 6,5 miliar manusia saat ini di Bumi, melejit dari hanya dua miliar di awal 1950-an. Belum pernah ada pertumbuhan satu spesies secepat ini sebelumnya. Ketika kita harus berhitung dengan ekstraksi bahan mentah dan sampah yang dihasilkan, hasilnya monumental. Sesuatu yang mendasar harus kita ubah jika kita ingin dunia ini bisa menopang hidup orang sejumlah itu dengan kualitas yang memadai.

Kedua, bisnis pun ada di simpang jalan. Kapitalisme, ideologi utama bisnis, ternyata hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup 800 juta dari 6.5 miliar manusia. Itupun ia sudah mengonsumsi 80 persen dari semua sumber daya Bumi yang tersedia. Jika cara ini diteruskan, sumber daya Bumi ini akan segera terkuras habis. Maka, ada stick and carrot (hukuman dan hadiah) juga bagi bisnis dan kapitalisme.

Hadiah-nya adalah pertumbuhan yang selama ini diraih dan laba yang selama ini dikeruk oleh bisnis multinasional. Hukuman-nya, misalnya, adalah protes masif di India, di mana jutaan petani miskin menolak Monsanto, atau di Bolivia dan Ekuador, di mana pemerintah digulingkan oleh gerakan lokal anti-korporasi dan anti-globalisasi. Orang-orang ini tidak dilayani oleh corak kapitalisme saat ini. Inilah persimpangannya.

Globalisasi memang membawa kesejahteraan dan pertumbuhan, namun hanya bagi segelintir orang karena sebagian besar dunia ini tetap menderita. Ketika budaya lokal makin hilang akibat gaya hidup global, tiga perempat penghuni Bumi ini harus hidup dengan kurang dari dua dollar sehari. Satu miliar orang harus tidur sembari kelaparan setiap malam. Satu setengah miliar penduduk bola dunia ini tidak bisa mendapatkan segelas air bersih setiap hari. Satu ibu mati saat melahirkan setiap menit (UNDP, 2004). Dan, keadaan ini akan terus memburuk, kecuali kita melakukan sesuatu.

Maka, kini tak hanya pemerintah, bisnis pun terpaksa melihat dan bereaksi atas tantangan ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, diskusi di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) pada bulan Januari tahun ini menempatkan penanganan kemiskinan secara resmi sebagai agenda eksekutif puncak bisnis dunia. Korporasi diminta berperan mengurangi kemiskinan dan mendorong pencapaian sasaran pembangunan milenium (millennium development goals/MDGs) melalui bisnis mereka. Lewat Global Governance Initiative bisnis diyakinkan: ia akan untung jika ikut mendorong pembangunan, khususnya mengatasi kemiskinan. Tentu ini mengundang tanya: bagaimana bisnis memupuk laba jika harus mengurus si miskin papa?

Rupanya ada perubahan pendapat di antara pimpinan puncak bisnis dunia. Mereka kini melihat daerah-daerah miskin di dunia sebagai lahan bisnis. Idenya jenius, namun sederhana: empat miliar kaum miskin dunia adalah pasar luar biasa yang belum digali sepenuhnya oleh dunia bisnis. Dari mana ide ini berasal?

Adalah CK Prahalad yang, dalam bukunya The Fortune at the Bottom of the Pyramid (2004), mengungkapkan lewat analogi piramida bahwa saat ini empat miliar orang miskin itu menumpu hidup penghuni dunia lainnya yang lebih kaya. Menurutnya, walau sudah lebih dari 50 tahun, Bank Dunia, negara donor, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil telah gagal mengatasi kemiskinan. Mengapa? Karena si miskin dianggap tak berdaya.

Prahalad bilang, “Jika kita tidak berhenti menganggap kaum miskin itu sebagai korban atau beban dan mulai mengakui mereka sebagai wirausaha yang ulet dan kreatif dan konsumen yang sadar nilai, sebuah dunia baru penuh peluang akan terbuka. Empat miliar orang miskin dapat menjadi mesin putaran berikutnya bagi perdagangan dan kemakmuran dunia serta sumber inovasi” (hal 1).

Dunia bisnis terhenyak mendengarnya. Komunitas bisnis dunia melihat gagasan ini sebagai visi baru reformasi bisnis dan korporasi zaman ini, yaitu memanfaatkan kesempatan untuk mendulang untung dengan menjual produk dan jasa kepada empat miliar orang miskin di dunia sambil meningkatkan kualitas hidup mereka (The Economist, 19/8/2004). Menunjuk listrik-isasi di Nikaragua, konstruksi skala kecil di Meksiko, dan yodium-isasi garam di India, bisnis terbukti bisa menangguk untung dengan menjual produk dan jasa kepada mereka yang berpenghasilan rendah, sekaligus memperbaiki kualitas hidup mereka. Korporasi transnasional seperti Unilever, Phillips, Hewlett Packard, Dupont, dan Johnson & Johnson juga sudah mengembangkan model dan strategi bisnis baru yang menarget pasar menengah ke bawah.

Penentuan harga

Kuncinya pada perubahan cara penentuan harga (pricing). Secara konvensional, harga adalah biaya produksi dan distribusi ditambah marjin laba. Strategi baru ini persis kebalikannya. Ketahui dulu berapa kekuatan pembeli untuk membayar, lalu kurangi dengan marjin laba dan baru hitung bagaimana produk bisa diproduksi dan dipasarkan dalam budget itu. Maka, selain konsekuensi teknis produksi dan pemasaran, pasar pun perlu dibangun dan tak bisa hanya sekadar dipenetrasi seperti kata buku ekonomi.

Gagasan ini membuahkan sedikitnya dua tanggapan, yang pro dan yang kontra.

Yang pro mengajukan pendapat: dunia sudah berubah dan cara berbisnis pun harus berubah. Karena kapitalisme sebagai mesin bisnis pun sedang berada di persimpangan jalan (Hart, 2005). Betapa tidak. Bisnis dunia kini sedang menghadapi terorisme internasional, kerusakan lingkungan, dan berbagai tantangan atas globalisasi. Padahal, di saat yang sama mereka harus menemukan strategi baru bagi pertumbuhan laba. Maka, manajemen strategik berujar: karena dua masalah ini berhubungan erat, solusinya pun melekat.

Bisnis harus bisa mengidentifikasi produk yang berkelanjutan, namun menguntungkan dan sekaligus mengatasi masalah sosial yang krusial. Jelas butuh integrasi seluruh sarana produksi untuk memberikan solusi. Dengan strategi ini, bisnis dipercaya akan berubah menjadi sungguh tulus pada pasar dan bisa menghindari kegagalan strategi lama yang penuh pura-pura.

Tesis yang diusung pun segera kentara. Kapitalisme adalah niscaya, namun tak boleh menafikan fakta. Karena itu, seiring debat tentang ambiguitas globalisasi, kapitalisme harus makin inklusif, terbuka, dan akhirnya menjadi lebih berhasil.

Tetapi, bagi yang kontra, visi baru reformasi bisnis ini punya dua kelemahan: pertama pada tataran etis, berikutnya pada implikasi ekonomi-politis.

Secara etis, kaum miskin di mata gagasan ini bukanlah subyek. Walau orang miskin dipandang bisa menjadi bagian dari solusi, kepentingan bisnislah yang utama (prima causa) dan bukannya kepedulian pada si miskin. Karena, walaupun klaimnya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup kaum miskin, motivasinya jelas: memenuhi kebutuhan empat miliar kaum miskin dunia adalah peluang pasar yang luar biasa. Di sini muncul spekulasi: kalau harga ditekan demi mengompromikan rendahnya daya beli, seperti apa kualitas produksi? Tampaknya ex-ante (tujuan mengeruk untung) sedang dikaburkan oleh ex-post (menolong si miskin).

Sedangkan implikasi ekonomi-politis gagasan ini adalah bergesernya agenda-agenda struktural untuk menangani kemiskinan menjadi sekadar pembangunan kapasitas (capacity building) masyarakat miskin. Peran negara sebagai regulator direduksi menjadi mediator atau bahkan fasilitator. Akibatnya, dengan mengandaikan orang miskin sebagai konsumen (aktor ekonomi) yang punya purchasing power (walau kecil), pemihakan kepada kaum miskin akan lolos dari agenda politik dan ekonomi negara.

Maka, seperti halnya kinerja publik hanya akan diukur dari kinerja ekonomi, tingkat keadaban (civility) bangsa juga hanya akan dinilai dari tata-aturan (regulasi) dan bukan kebijakan (policy) sebagai grand politics. Lebih parah lagi, sektor bisnis mendapat kelonggaran untuk menjadi penunggang bebas (free-rider) kebijakan negara yang seperti ini.

Kasarnya, sementara laba dipupuk atas legitimasi aturan main yang menumpang pada regulasi negara, tanggung jawab untuk menangani soal kemiskinan dan kualitas hidup kaum miskin mudah dielakkan. Maka, kalaupun yang miskin berkurang atau naik kualitas hidupnya, ya syukurlah. Kalau tidak, toh memang bukan itu tujuannya, melainkan agar bisa memanfaatkan si miskin ini sebagai pasar.

Di sinilah, lolos sudah agenda akuntabilitas sektor bisnis. Gegap gempita tanggung jawab korporasi untuk menjawab tantangan zaman ini seperti yang diusung AFCSR baru lalu itu pun menjadi hampa makna. Pasalnya, bicara tanggung jawab dan peran bisnis tanpa menukik ke soal akuntabilitas ibarat bicara jargon kosong. Tentu tak baik menghalangi peran sektor bisnis untuk terlibat menerima tantangan zaman. Namun, perlu dipikirkan kembali agar niat jangan terhambat semata-mata karena gagasan seksi justru kehilangan substansi: jangan sampai akuntabilitas hilang dari agenda reformasi korporasi.

***

  1. Monday, 9 April 2007 at 12:42 pm

    Good site!!!

  2. Tuesday, 10 April 2007 at 12:47 pm

    Thanks ..🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: