Home > 0 ALL, 0 bahasa indonesia, information technology > JANGAN TAKUT! Sebuah catatan pribadi tentang mendiang Paus Yohannes Paulus II

JANGAN TAKUT! Sebuah catatan pribadi tentang mendiang Paus Yohannes Paulus II

Mingguan Hidup, April 2005

Menatap layar kaca yang mengabarkan berita BBC dengan huruf kapital merah “Pope John Paul II Has Died” sebagai headlines, setelah selama 24 jam sebelumnya meliput berita kesehatan beliau di Vatikan secara intensif, ingatan saya menerawang beberapa saat ke belakang. Awal tahun ini, saya tertegun membaca satu edaran yang ditempel di dinding di departemen di Universitas dimana kini saya sedang menempuh studi. Edaran itu adalah surat apostolik Paus Yohannes Paulus II yang berjudul “The rapid development – To those responsible for communications” (Vatikan, 24/01/2005, bisa diakses online di sini).

Membacanya paragraf-demi-paragraf, mata saya terantuk pada kalimat-kalimat berikut. “Media komunikasi menjadi amat penting karena ia adalah sarana pokok untuk bimbingan dan inspirasi bagi banyak orang dalam perilaku pribadi, keluarga dan sosial. Kita sedang berhadapan dengan masalah yang rumit, karena kebudayaan itu sendiri, dari isinya, adalah akibat dari cara-cara baru berkomunikasi yang sampai saat ini bahkan belum diketahui teknik dan kosakatanya.”(Para. 3). Nampaknya, sebagian besar ‘masalah rumit’ yang sedang disampaikan oleh nota itu memang tengah mendera kita. Dan salah satu pokok dari kerumitan itu adalah peran teknologi informasi dan media komunikasi di era global ini.

Dalam catatan, sejak jatuhnya biaya telepon tiga menit antara New York dan London dari US$ 300 (tahun 1930, dengan kurs dolar tahun 1996) menjadi 45 sen (tahun 1996), nilai pasar telekomunikasi dunia telah mencapai lebih dari 1 trilyun dolar AS (Gabel & Bruner, 2003). Dengan perkembangan komputer, efek revolusi biaya komunikasi ini berantai. Badan telekomunikasi internasional (ITU) melaporkan dari kira-kira hanya 513,4 juta orang (8% populasi dunia) yang menggunakan internet pada tahun 2001 angka itu kini mencapai 1 milyar (16%) hanya dalam tiga tahun. Dampak ekonominya menakjubkan. Transaksi business-to-costumer (B2C) online mencapai 108 milyar dolar AS sementara business-to-business (B2B) 1.3 trilyun dolar AS(The Economist, 03/2005).

Karena itu, tak heran jika ada klaim bahwa kemajuan dunia saat ini, yang dipompa teknologi informasi, dianggap berkah. Namun, itu baru separuh cerita. Separuh yang lain punya wajah sungguh berbeda. Di tahun 1960, sebanyak 20% warga paling kaya dunia menguasai 70,2% kekayaan dunia, dan 20% warga paling miskin mengontrol 2,3% kekayaan dunia. Pada akhir 1990, seperlima penduduk yang paling kaya itu menguasai 86 persen kemakmuran dunia, sementara seperlima yang paling miskin hanya mengais-ngais 1 persennya. Kini? Angka itu sudah menjadi 88 persen dan 0,85 persen (UNDP, 2000). Karena cepatnya pertumbuhan jumlah peduduk, angka absolut penduduk miskin itu tak berkurang sedikitpun. Justru di awal milenium ini, dari sekitar 5,4 milyar penduduk bumi, lebih dari 1,3 milyar manusia masih hidup dibawah satu dolar per orang per hari dan jumlah serupa tak punya akses pada air bersih. Jangan lupa pula, dua pertiganya adalah perempuan dan anak-anak (Bank Dunia, 2003).

Kontras di atas, rupanya adalah pokok kerumitan yang ditengarai Paus dalam nota apostolik tersebut. Memang sebelumnya dalam Sollicitudo Rei Socialis (30/12/1987), keprihatinan gereja atas masalah-masalah sosial sudah diutarakan. Bahkan lebih jauh ke belakang, dalam Inter Mirifica (Paus Paulus VI, 4/12/1963), gereja sudah menaruh perhatian amat tinggi tentang peran media komunikasi sosial di jaman modern. Nampaknya gereja menyadari pisau bermata dua dari teknologi informasi dan media komunikasi; dan nota apostolik itu menegaskan secara lugas kaitanya dengan berbagai masalah sosial.

Memang teknologi dan media hanyalah alat. Sebagai alat, ia bisa dipakai untuk mengkomunikasikan ‘kabar baik’ dan membawa ‘pembebasan’ bagi yang tertindas. Konon, gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya selama reformasi 1998-1999 dikoordinasikan dengan memanfaatkan kecanggihannya. Demikian juga ketika Aceh dan Nias dilanda derita, teknologi dan media membawa tidak hanya kabar dan simpati, tetapi mobilisasi bantuan dari seluruh penjuru dunia.

Namun, ia juga menjadi alat pembentuk kesadaran, pengetahuan, insting, dan bahkan isi suka-duka kita. Klaim bahwa insting dan rasa kita adalah hal yang alami makin kehilangan makna. Kalau setiap hari anak-anak kita diserbu iklan TV tentang bergengsinya burger MacDonalds atau Coca-Cola, dalam diri mereka berlangsung proses pembentukan jenis status sosial yang berkisar pada tersedianya burger dan minuman itu di tangan mereka. Kalau tiap hari kita menyaksikan tayangan film-film yang menawarkan mimpi dan gaya hidup a la Hollywood, dalam diri kita sendiri berlangsung proses pembentukan selera dan gagasan tentang sukses seperti itu. Maka, seperti anak-anak yang akan sedih dan tidak merasa hebat jika tidak makan burger MacDonalds atau minum Coca-Cola, kita juga merasa belum puas jika belum menghidupi gaya hidup seperti mereka yang kita lihat di media kita. Salah satu akibatnya, ‘konsumsi wajar’ kita tengah dipelintir menjadi konsumerisme: ‘konsumsi yang mengada-ada’.

Menimbang itu, segera menyergap pertanyaan di benak: bisakah kita lepas dari jerat ini?

Namun, soalnya rupanya bukan terletak pada ‘bisa atau tidak’, melainkan, apakah kita ‘punya nyali’ untuk melepaskan diri dari ‘jerat’ itu atau tidak. Seperti ditulis dalam paragraf penutup nota apostolik itu, Paus menyeru kepada mereka yang bekerja di bidang komunikasi, khususnya kaum beriman yang terlibat dalam bidang yang penting dalam masyarakat ini, agar “Jangan takut! Jangan takut pada teknologi baru. Ini semua adalah bagian dari hal-hal mengagumkan, yang oleh Tuhan, kita diwajibkan untuk menemukan, mengetahui dan menggunakan kebenaran; juga kebenaran tentang martabat dan nasib kita sebagai anak-anak KerajaanNya”

April tahun lalu, setelah nyaris mengurungkan niat meneruskan studi lanjut untuk mempelajari pengaruh teknologi informasi pada persoalan sosial karena masalah biaya, melalui Rektor Unika Atmajaya Jakarta, saya mendapat kabar bahwa saya adalah satu dari penerima “Pope John Paul II 100 Scholarship” sedunia. Kini, tepat setahun setelah saya terima beasiswa itu, saya merasa ini semua bukan kebetulan.

Selamat jalan, Bapa Paus!

  1. Joao da Costa Guterres
    Thursday, 1 February 2007 at 4:46 am

    Timor Leste e perigo de Violencia

  2. Yanuar Nugroho
    Thursday, 1 February 2007 at 8:20 am

    For the sake of readability, please leave your comment either in English or Indonesian (or Javanese). Comments in other languages will be deleted.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: