Wakil Rakyat

TEROPONG – Mingguan Hidup, April 2004

oleh Yanuar Nugroho

mBah Kromo, sebut saja demikian namanya, 72 th, terpekur di bilik suara aluminium yang lebarnya hanya 60cm itu. Ia nampak bingung membolak-balik keempat kertas suara yang lebih panjang (80cm) dari lebar biliknya. Lebih dari 10 menit ia di dalam bilik hingga membuat khawatir petugas KPPS, sebelum akhirnya keluar dengan senyum lebar, memasukkan keempat kertas suara di keempat kotak yang tersedia di TPS 014 di Kelurahan Gandekan Tengen, Kecamatan Jebres, Solo. Waktu duduk kembali di sebelah saya untuk sekedar istirahat, saya tanya beliau dalam bahasa Jawa, “Mbah, kok tadi lama sekali di dalam bilik?” Jawabnya, “Wah, lha saya bingung mau milih yang mana. Maka tadi semua nama saya coblosi, biar adil, biar semua kepilih. Yang penting kan milih wakil rakyat, to”. Memahami kompleksitas perkara ‘wakil rakyat’ ini, saya hanya tersenyum.

Pemilu legislatif 5 April baru lalu bertujuan memilih anggota parlemen (DPR). Lepas dari persoalan asal muasal mereka –bisa caleg dari parpol ataupun calon Dewan Perwakilan Daerah(DPD)—sebagai anggota DPR, mereka akan menyandang predikat ‘wakil rakyat’ yang harus ‘memperjuangkan kepentingan rakyat’. Tentu bisa ditelisik lebih jauh: wakil rakyat yang mana? Kepentingan rakyat yang mana yang diperjuangkan?

Selama ini, status mulia ‘wakil rakyat’ dibonsai dengan realita bahwa anggota DPR dari parpol adalah wakil parpol. Maka, kepentingan ‘rakyat’ yang dibelanya dikerdilkan hanya sebatas kepentingan parpol. Karena itu, isu dan keprihatinan rakyat bagaikan ‘jauh api dari panggang’ terhadap kepentingan anggota parlemen ini. Sementara itu, skema DPD yang dikenalkan dalam Pemilu kali ini masih memunculkan persoalan karena meski dipilih langsung oleh rakyat tanpa melalui parpol, kewenangan DPD tidaklah setara-sebangun dengan kewenangan anggota DPR dari parpol. .

Soalnya, saya kira, bukan terletak pada ‘darimana anggota parlemen berasal’ ataupun ‘bagaimana posisi ini didapat’. Melainkan, apakah kualifikasi sebagai ‘wakil rakyat’ itu terpenuhi atau tidak. Dan apa kualifikasinya? Tiga sketsa berikut mungkin membantu.

Satu, meski karena desakan otonomi daerah distribusi pemberian kredit semakin merata, hingga akhir 2003 ketimpangan yang mencolok tetap saja terjadi di antara 5 propinsi terbesar dalam hal penyaluran kredit. DKI Jakarta tetap menjadi konsentrasi terpenting dalam hal penyaluran kredit (38.73%) tahun 2003, sementara Sumatra Utara hanya menerima penyaluran kredit sebesar 5.20% dari total penyaluran kredit secara nasional. Selain itu, kredit yang diberikan kepada usaha kecil-menengah hanya berkisar 16-20% dari total kredit, sementara proporsi terbesar, 80-84% tetap diberikan pada sektor menengah dan atas (Penelitian The Business Watch Indonesia oleh A. Prasetyantoko, 2004).

Dua, tingkat kerusakan hutan Indonesia saat ini adalah sekitar 3 juta ha/tahun. Bandingkan dengan rata-rata tingkat kerusakan hutan tropis di dunia yang hanya berkisar 987.000 ha/tahun. Sementara itu, dari luasan terumbu karang di Indonesia yang mencakup 14% dari total terumbu karang dunia, 40,62% nya dalam kondisi rusak karena polusi dan penangkapan hasil laut secara serampangan. Padahal, yang menikmati hasil laut bukan rakyat, melainkan para maling ikan. Nilai pencurian ikan, secara kasar, mencapai lebih dari 500 milyar/tahun. Padahal, lebih dari 70 juta penduduk Indonesia hidup dari hutan dan dari hasil laut.

Tiga, total angka pengangguran terbuka dan tertutup mencapai 42 juta dan lebih dari 60 juta orang di negeri ini hidup pada dan di bawah garis kemiskinan absolut Rp 8.500 per hari per orang (BPS, 2003). Sebagian dari mereka memang berada di daerah rural, namun kebanyakan justru terkonsentrasi di kota-kota besar. Namun, bukannya memberikan kesempatan berusaha dan tinggal yang lebih layak pada mereka yang miskin ini, Pemda di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta dan Medan justru menggusur dan menyengsarakan mereka demi ‘kota yang lebih bersih dan indah’. Lihat misalnya kasus Gubernur DKI Sutiyoso yang menggusur lebih dari 300.000 keluarga sepanjang 2003 (Data FAKTA dalam “Menata Kembali Hak Warga Negara”, 2003).

Tiga ilustrasi yang diurai sangat minim di atas menunjukkan bahwa menjadi ‘wakil rakyat’ tidaklah mudah. Bisa dipastikan, para caleg yang kini bersiap-siap melaju ke Senayan (apalagi yang menyandang nomor ‘jadi’), sangat asing dengan isu-isu seperti isu-isu di atas yang seharusnya mereka perjuangkan. Yang ada di kepala mereka mungkin justru matematika ‘dagang’: berapa duit telah dikeluarkan untuk melenggang ke Senayan, dan berapa duit yang harus mereka dapat, entah bagaimana pun caranya, agar bisa ‘balik modal’ – dan kalau bisa ya ‘untung’, dong.

Maka jangan heran, kalau dalam lima tahun ke depan, para ‘wakil rakyat’ ini justru akan ‘menjual rakyat’nya sendiri. Perlindungan hutan dan lingkungan akan kalah dengan hukum-rimba investasi dan jual-beli konsesi pengelolaan hutan dengan persetujuan DPR. Demikian juga tak akan ada perlindungan pada usaha kecil secara struktural melalui UU di DPR. Yang justru akan terus dilegalkan melalui UU adalah skema privatisasi jasa dasar seperti air, listrik, kesehatan, pendidikan yang makin menyengsarakan rakyat. Sementara itu, pelaku KKN tetap akan hilir mudik dengan bebasnya, karena, seperti kata Joshua dalam iklan minuman “Lho, jeruk kok minum jeruk” – “Penjahat (anggota parlemen busuk dengan kedok ‘wakil rakyat’) kok memberantas penjahat (koruptor, pembabat hutan, penjual aset negara, dll.)”.

Memang, karena ulah ‘wakilnya’, rakyat masih akan menderita. Dan masih akan cukup lama. (*)

  1. Friday, 21 February 2014 at 2:50 pm

    sudah sepuluh tahun tetapi perilakudari para “wakil rakyat” tampaknya tidak berubah

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: