Home > 0 ALL, 0 bahasa indonesia, democratisation, election, politics, social > Parpol 2004: Menuju Matahari Terbenam

Parpol 2004: Menuju Matahari Terbenam

Wednesday, 1 October 2003 Leave a comment Go to comments

TEROPONG – Mingguan Hidup, Oktober 2003

oleh Yanuar Nugroho

Baru saja diumumkan bahwa 34 partai politik (parpol) lolos verifikasi untuk ikut dalam pemilu 2004. Entah berapa lagi yang akan lolos, atau justru gugur, bukanlah inti soalnya. Melainkan, apakah para parpol tersebut cukup visioner sebagai penyambung lidah aspirasi rakyat –atau setidaknya, konstituennya? Mari kita lihat secuplik data.

Dalam surveinya untuk pemilu 2004, LP3ES (2003) menemukan bahwa sedikitnya 49% responden tidak percaya bahwa parpol berperan dalam menyampaikan kepentingan rakyat. Karena itu, menurut LP3ES, jika saja pemilu dilakukan besok pagi, survey yang sama menunjukkan bahwa 55% rakyat tidak tahu partai mana yang akan dipilih. Statistik memang mengungkap hanya sebagian fakta. Namun ungkapan ini saja mencengangkan, sekaligus mengenaskan. Jelas bagi para penggiat parpol, data ini menampar karena raison d’etre parpol adalah bahwa ia ada untuk rakyat.

Semakin digali, semakin nampak bahwa begitu banyak parpol tidak erat terlibat dalam berbagai isu rakyat, kecuali sebagai jargon atau retorik belaka. Ambillah misal, ‘pengentasan kemiskinan’ atau ‘penanggulangan krisis ekonomi’ – pasti akan menjadi retorik yang marak di berbagai kampanye, menggumpal lengkap dengan buih-buihnya, bahwa keterpilihan (melalui kucuran voting lewat bilik suara saat pemilu) mengandaikan akan terpenuhinya janji. Sebuah asumsi yang keliru. Sunggu keliru. Dimana kekeliruan ini? Mari kita cermati beberapa fakta.

Satu, Bank Dunia (2003) melaporkan bahwa 25% anak balita di negeri ini menderita malnutrisi. Bagi yang fasih dengan kesehatan, malnutrisi pada usia balita merusak pembentukan otak. Ini berarti 10 hingga 15 tahun lagi Indonesia akan dibebani dengan sekitar 40 juta kaum muda tanggung yang rusak otaknya. Beban itu akan menambah beban saat ini –angka pengangguran tercatat mencapai hampir 50 juta jiwa –lebih dari 2 juta diantaranya adalah sarjana yang menganggur (BPS, 2003). Sementara itu karena berbagai konflik ada lebih dari 2,5 juta pengungsi dan 157 bom sudah meledak di di negeri ini selama tiga tahun terakhir. Di sisi lain, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa korupsi dan penyuapan kian meluas dan menggejala –tak hanya di pusat, tetapi juga di daerah.

Dua, di Indonesia sediktnya 40% hutan telah digunduli sejak 1950 dan setengah dari sisanya telah digunakan untuk pembangunan jalan, perkebunan kayu atau pabrik minyak sawit. Tiap menit 5 hektar hutan lenyap –artinya hutan seluas lapangan bola dibabat tiap 12 detik. Padahal di sisi lain, 40 – 50 juta orang Indonesia hidupnya sangat tergantung pada hutan. Dampaknya bagi kehidupan satwa juga memburuk karena misalnya, selama 10 tahun terakhir, jumlah orangutan tinggal setengahnya.

Tiga, makin banyak daerah/kelompok yang tidak puas atas pengelolaan negeri ini. Bahkan, karena berbagai persoalan ekonomi-politik pembagian hasil kekayaan alam di daerahnya, mereka menuntut kemerdekaannya, minta lepas dari Indonesia. Gejala ini adalah gejala serius yang menunjukkan Indonesia adalah negara yang sudah tua dalam usia yang masih muda. Ia kian lelah bertumpu pada dirinya sendiri untuk hidup.

Maka, kalau berpijak pada ketiga catatan di atas, mungkin sudah bisa kita lihat sejak sekarang bahwa berbagai retorik parpol saat kampanye nanti akan lebih mirip balon yang menggelembung –besar dan bulat di luarnya, kosong di dalamnya. Realisasinya? jauh panggang dari api. Butuh terobosan untuk mengatasi kompleksitas permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Dan nampaknya parpol yang lolos verifikasi pun tidak cukup punya konsep yang mampu menerobos berbagai persoalan itu. Mengapa?

Penyederhanaan persoalan memang perlu untuk mencari jalan keluar. Tetapi terlalu menyederhanakan persoalan justru memicu persoalan baru. Itulah yang akan terjadi dengan realitas parpol kita –membangun ilusi melalui berbagai retorik dan jargon.

Kalau mau diringkas, hasil Pemilu 1999 mengajarkan suatu hal yang sangat jelas kepada kita –dalam persoalan ideologis, bertengkarlah! (lihat berbagai persoalan sejak pendekatan pembangunan ekonomi hingga berbagai UU/RUU yang sarat kepentingan sektarian-ideologis) –dalam persoalan korupsi, bersatulah! (lihat korupsi yang makin merebak hingga ke daerah, tak peduli partai mana yang berkuasa di pemerintahan atau duduk di kursi legislatif, dana pembangunan tetap saja bocor dan penyuapan oleh pengusaha untuk menggolkan proyek atau menggusur rakyat kecil berjalan makin gencar).

Politik adalah arena berbagai praktik kekuasaan yang justru sangat berpotensi meminggirkan mereka yang paling menderita dan membutuhkan perlindungan –persis karena mereka tidak berdaya. Maka, praktik politik di ruang publik –sebagaimana halnya sudah dan akan terus dilakukan oleh parpol untuk pemilu 2004 ini—menjadi penting untuk dikontrol karena melibatkan perebutan kekuasaan. Di sinilah muncul isu mengenai demokrasi. Percayakah Anda bahwa praktik politik publik akan melahirkan kebaikan bersama (common good), jika tidak dikontrol oleh prinsip-prinsip demokrasi juga?

Jika jawabnya ‘ya’, bersiaplah bersama parpol-parpol itu berlayar menuju matahari terbenam. (*)
Surakarta, 02/02/2007

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: