Menyoal Kekuasaan Modal

TEROPONG – Mingguan Hidup, Mei 2003

oleh Yanuar Nugroho

Pernahkah di suatu hari yang cerah Anda mengenakan kacamata hitam? Apa yang nampak? Bagaimana dunia terlihat oleh Anda? Semuanya mungkin tampak ‘teduh’, ‘kelabu’, walaupun sebenarnya matahari bersinar dengan teriknya membakar kulit. Itulah kekuatan kacamata hitam. Dan sekali orang merasa nyaman dengan itu, ia enggan menanggalkannya.

Cara kita memandang realitas hidup pun kerap seperti itu. Kita merasa nyaman jika seluruh persoalan sosial ini bisa dijelaskan dengan gamblang: mengapa ada kemiskinan, pengangguran, rusaknya alam, rendahnya kualitas hidup dan usia harapan hidup, diskriminasi etis dan agama, dan entah apalagi –pendeknya seluruh persoalan ketidakadilan sosial ini. Kita ingin dengan mudah menjelaskan soal-soal ini dengan menuding pihak yang paling bertanggung jawab atas semuanya ini – negara dan pemerintah! Inilah sebentuk kenyamanan itu.

Maka laksana mengenakan kacamata hitam yang membuat sebatang pohon hijau nampak abu-abu, kalau ‘kacamata’ tadi kita lepas sejenak saja, kita akan segera melihat bahwa cara pandang itu tidak lengkap –bukan salah.

Selama ini kita melihat bahwa negara dan pemerintah adalah satu-satunya pemegang kekuasaan yang menentukan mati-hidupnya atau sejahtera-tidaknya banyak orang. Akibatnya, praktik kekuasaan negara menjadi satu-satunya alat penjelas atas berbagai gejala sosial di atas –kemiskinan adalah kegagalan negara mengelola sumberdaya, sebagaimana halnya pengangguran adalah ketidakmampuan negara menjamin adanya lapangan kerja bagi rakyatnya atau hancurnya lingkungan semata karena negara gagal menjalankan produk-produk hukumnya. Benarkah hanya negara yang berkuasa –dan karenanya hanya darinya pertanggungjawaban dituntut dan ditimpakan?

Dari beberapa penelitian sebelum krisis moneter 1997 di Indonesia, didapatkan 20 perusahaan dengan aset 150-450 milyar rupiah, di mana 80%-nya adalah perusahaan milik keluarga yang berkuasa. Di samping itu, ada sekitar 400 perusahaan dengan aset 25-100 milyar di mana 80%-nya adalah milik yang 20 perusahaan tadi. Di luar ini, dengan aset sekitar sampai 600 juta –dan masih ada 3,8 juta perusahaan kecil dan menengah yang tak tersentuh sistem perbankan—berjumlah kurang lebih 13 juta perusahaan gurem. Pertanyaannya: bagaimana perusahaan-perusahaan ini beroperasi? Lihat tiga pola ini.

Satu: ingat kasus perusahaan agribisnis PT QSAR yang menghebohkan tahun lalu itu? Vulgarnya malpraktik bisnis –yang melakukan penipuan investasi dalam skala masif dan ternyata melibatkan beberapa petinggi negara ini—mungkin membuat kita bertanya praktik bisnis macam apa yang ada di belakangnya. Dua: pertanyaan serupa terjadi ketika kita berempati dengan 11.000 pekerja yang di-PHK oleh Reebok setelah secara sepihak menghentikan operasinya di Indonesia dan hengkang ke Vietnam –atau kasus serupa dengan PT Sony yang membuat lebih dari 1.300 buruhnya kehilangan pekerjaan, yang semuanya baru saja terjadi tahun lalu. Tiga: dengan nuansa mirip namun dengan korban berbeda, lihatlah apa yang terjadi dengan kasus Hotel Shangri-La yang bertindak tidak adil pada lebih dari 100 pekerjanya –yang hingga hari ini masih tak kenal lelah memperjuangkan haknya.

Tiga pola itu bicara lugas: tak ada hal lain yang dikejar oleh praktik bisnis kecuali keuntungan –uang. Nampaknya ini sejalan dengan pemikiran Theodore Levitt (1958) dan Milton Friedman (1962) yang mengatakan, “Tanggung jawab satu-satunya dari praktik bisnis adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya.” Dan apa yang membuat bisnis berperilaku semacam itu? Jawabnya juga lugas: kekuatan modal.

Menurut IMF, total produksi dunia (GDP dunia) adalah lebih dari 30 trilyun dollar per tahun. Skala perdagangan (Export-Import) dunia sebesar 6,2 trilyun dollar setahun. Sementara, nilai pasar uang dan surat berharga adalah 180-200 trilyun dollar per tahun! Apa artinya? Artinya ada virtual value dari produksi dunia sebesar 150-170 trilyun dollar. Bagi para ekonomi, konsepsi added value harus dilengkapi dengan virtual value, kalau tidak ingin ketinggalan kereta pikir ekonomi modern ini. Namun bersamaan dengan itu, konsepsi kekuasaan pun harus diperbarui. Mengapa? Untuk menjawabnya, lihat contoh lain berikut ini.

Pada tahun 2001, nilai kapitalisasi (virtual value) New York Stock Exchange di AS adalah sebesar 17,2 trilyun dollar per hari. Padahal di tahun yang sama nilai GDP AS hanya 10,3 trilyun per tahun (GDP gabungan 12 negara Uni Eropa saat itu yang hanya 9,5 triliun per tahun). Kecepatan dan kekuatan fooling around fund (dana pencari mangsa) dari pasar uang ini adalah 11,5 trilyun per hari per 80 negara! Bahkan Amerika Serikat sendiri bukanlah apa-apa di depan kekuatan modal.
Fakta tak terbantah di atas menunjukkan, bahwa negara di mata kekuasaan modal sudah dilucuti. Maka, nampaknya pembicaraan mengenai kekuasaan selama ini tak boleh hanya terhenti pada negara. Kisah di atas menunjukkan bahwa negara (dalam rupa pemerintah) bukanlah lagi yang paling digdaya. Adalah kekuasaan modal, yang juga menjadi penentu hidup bersama kita.

Hal ini membawa konsekuensi mendasar dalam cara pandang kita mengenai demokrasi. Pembicaraan mengenai demokrasi tak bisa lagi dilakukan dengan pengandaian bahwa negara (dalam rupa pemerintah) adalah satu-satunya pemegang kekuasaan dalam masyarakat. Demokrasi kini juga harus menyentuh kinerja kekuasaan modal –dan ini terwujud sangat jelas dalam berbagai praktik bisnis, yang dalam cara pandang baru ini, juga akan menjadi target demokrasi.

Maka kacamata lama –yang membuat kita melihat negara seolah-olah paling berkuasa dan berpengaruh—perlu dilepas dan diganti dengan yang baru –yaitu bahwa modal tak kalah berkuasanya. Bahkan, ia seringkali jauh lebih berkuasa daripada negara. (*)

Penulis adalah Direktur The Business Watch Indonesia (BWI), Sekretaris Jenderal pada Uni Sosial Demokrat (Unisosdem) Jakarta dan mengajar di Univ. Sahid Surakarta.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: