Pantang

TEROPONG, Mingguan Hidup, Maret 2003

oleh Yanuar Nugroho

Di awal prapaska tahun ini, saya mendatangi seorang imam kolega saya di sebuah Paroki di Solo. Kami bicara sejenak mengenai pantang dan puasa. Saya bertanya padanya, “Romo, mungkinkah kita sebagai gereja mengembangkan sendiri daftar pantang selain yang biasanya dipakai selama ini?” “Maksudmu?” dia menukas. “Maksud saya, kita bisa memasukkan dalam daftar pantang ‘konvensional’ itu sebuah pantang ‘modern’ dalam prapaska ini. Misalnya pantang minum Coca-Cola, pantang mendengarkan MTV, pantang nonton film Hollywood, pantang makan Kentucky…” Belum selesai saya bicara, Romo muda kawan saya itu berkata, “Hush! Ngawur kamu, itu kan bagian dari hidup..!” Saya terdiam. Bagian dari hidup?

Kita memang hidup di sebuah jaman yang membuat kita sukar membedakan apa yang sebenarnya memang alamiah bagian dari hidup dan apa yang bukan. Lihatlah seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan McNugget keluaran McD setelah ia menonton iklannya yang dibintangi Joshua di TV. Adakah itu alamiah? Merengek sebagai tindakan sosial anak kecil untuk meminta, bisa dikatakan alamiah. Tetapi bahwa isi rengekan itu adalah McNugget keluaran McD, perkaranya menjadi sangat berbeda. Dan ini bukan semata persoalan keinginan seorang anak kecil. Ini adalah persoalan ekonomi politik globalisasi.

Globalisasi didorong oleh gagasan neo-liberalisme, sebuah isme yang memandang bahwa manusia adalah semata-mata makhluk ekonomi –homo economicus—dan bahwa kepentingan modal bebas bergerak tanpa tanggung jawab sosial. Praktek globalisasi ini bertumpu pada tiga aras pokok. Aras pertama adalah ‘apa’ –globalisasi adalah praktik bisnis lintas negara. Aras kedua adalah ‘siapa’ –globalisasi didorong dan didukung oleh berbagai perusahaan multinasional dan transnasional. Aras ketiga adalah ‘bagaimana’ –globalisasi mendapatkan ‘bahan-bakar’nya dari insting dasar manusia untuk mengkonsumsi (The Jakarta Post, 30/12/02). Dan, insting konsumsi inilah yang dimanipulasi untuk menjadi bagian dari permintaan dalam kurva ekonomi pasar.

Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan Romo B. Herry-Priyono, SY., saya mendapatkan insight berikut sebagai perspektif baru atas apa yang saya pernah pelajari dulu ketika menjadi mahasiswa Teknik Industri di ITB. Inilah insight itu. Bagi mereka yang mempelajari psikologi industri atau manajemen periklanan, permintaan itu adalah sekedar manifestasi insting konsumsi yang bisa direkayasa melalui advertensi (iklan). Setidaknya ada tiga insting dasar yang dimainkan –insting status, insting kepemilikan dan insting sensualitas-seksualitas.

Bagaimana insting status bekerja? Dengan menggunakan produk tertentu, status sosial bisa dibentuk. Ia bisa inklusif –misalnya, mendengarkan siaran MTV atau mengenakan Levi’s adalah status remaja modern masa kini—atau eksklusif –misalnya, sementara yang lain mengendarai Kijang, maka mengendarai Jaguar atau bahkan BMW menunjukkan perbedaan statusnya dengan yang lain. Insting kepemilikan juga bekerja serupa. Maka, memiliki HP Nokia keluaran terbaru akan menimbulkan prestise tersendiri dibandingkan sekedar menggunakan HP ‘sejuta umat’ Siemens C-35, misalnya. Sedangkan insting sensualitas-seksualitas? Coba lihat berbagai iklan produk yang diasosiasikan dengan erotisme dan relasi antar lawan jenis, mulai dari rokok hingga minuman penambah tenaga bagi laki-laki dan perempuan.

Nampaknya sederhana, bukan? Namun kalau kita mau sedikit rumit menghitungnya, segera kita akan melihat seberapa besar implikasi persoalan konsumsi ini pada kawasan ekonomi-politik dari globalisasi.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan, ambillah ”Coca-cola” sebagai contoh. Sebagai ilustrasi saja, di New York Stock Exchange, harga merk “Coca-Cola” melebihi 80 milyar dollar AS. Dibandingkan dengan nilai aset riil hanya 35 milyar dollar AS saja dari total kapitalisasinya sebesar 115 milyar dollar, maka jelas nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aset dari pabrik “Coca-cola” itu sendiri. Nilai itu disebut nilai maya atau virtual value. Darimana nilai itu berasal? Dari konsumsi dan fanatisme kita akan produk “Coca-Cola”. Untuk apa nilai itu digunakan? Tentu untuk banyak hal dalam pengembangan perusahaannya, tetapi di India, “Coca-Cola” membeli lebih dari 30 km panjang Sungai Gangga di bagian hilir untuk produksinya! Bayangkan, sebuah sungai yang disucikan oleh umat Hindu, menjadi aset sebuah perusahaan multinasional.
Mari kita lihat dua contoh lain. Satu, menurut IMF (2002), total produksi dunia (GDP dunia) adalah lebih dari 30 trilyun dollar AS per tahun. Skala perdagangan (Export-Import) dunia sebesar 6,2 trilyun dollar AS setahun. Sementara, nilai pasar uang dan surat berharga adalah 180-200 trilyun dollar per tahun! Apa artinya? Artinya ada virtual value dari produksi dunia sebesar 150-170 trilyun dollar.

Contoh kedua yang sangat ekstrem, nilai kapitalisasi (virtual value) New York Stock Exchangeadalah 17,2 trilyun dollar AS per hari. Bandingkan dengan nilai GDP USA yang hanya 10,3 trilyun dollar AS per tahun dan 12 negara Uni Eropa 9,5 triliun dollar AS per tahun, atau negara lainnya di dunia. Kecepatan dan kekuatan fooling around fund (dana pencari mangsa) dari pasar uang ini adalah 11,5 trilyun dollar AS per hari per 80 negara.

Tentu tulisan ini tidak untuk menumbuhkan sentimen anti “Coca-Cola” atau produk perusahaan multinasional lainnya. Tak ada salahnya minum “Coca-Cola” jika memang lagi kepengin atau kalau memang hanya itu yang tersedia dan air putih pun tak ada. Tetapi, kalau tak ada “Coca-Cola” lalu tak mau minum, di situlah perkaranya menjadi lain. Yang pertama adalah soal konsumsi, sementara yang kedua adalah soal konsumerisme –yaitu konsumsi yang mengada-ada, demikian ditulis oleh Romo Herry-Priyono dan Adeline MT (Kompas, 8/3/03).

Mengapa soal ini menjadi begitu penting? Dari data World Bank, Indonesia At A Glance (2002) diramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 2000 s.d. 2004 sebesar 3% s.d. 4%, sementara malnutrisi anak di bawah 5 tahun mencapai angka 70% dari populasi anak berusia di bawah lima tahun. Apa artinya? Dengan data jumlah balita dan angka kelahiran 1.7% per tahun , berarti setiap tahun ada sekitar 4 juta bayi yang lahir dan dalam 4 tahun terakhir ini sudah ada lebih dari 15 juta balita yang berkekurangan gizi. Dengan kata lain, laporan itu mau mengatakan bahwa Indonesia tetap akan berada dalam bahaya krisis eknonomi berkepanjangan.

Dengan demikian, persoalan mengkonsumsi “Coca-Cola” (seperti halnya “Mc.Donald’s” atau bahkan “Nokia” atau “Siemens”) perlu diletakkan dalam konteks ini –konteks dimana konsumsi perlu dipertahankan pada tingkat yang wajar dan bukan dengan mengorbankan konsumsi atau kontribusi pada sektor yang lain.

Maka, mengapa tidak kita tambahkan sendiri dalam daftar pantang dan puasa kita di prapaska tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, bahwa pada hari Rabu Abu dan tujuh kali Jumat berikutnya, bahwa kita akan “pantang minum Coca-Cola atau Pepsi”, “pantang makan Mc.Donald atau Kentucky”, “pantang menonton film Hollywood atau memutar MTV”, “pantang menyetir kendaraan pribadi – lebih memilih menggunakan kendaraan umum atau naik becak”…?

Selamat Paska!

Penulis adalah Direktur The Business Watch Indonesia (BWI), Sekretaris Jenderal pada Uni Sosial Demokrat (Unisosdem) Jakarta dan mengajar di Univ. Sahid Surakarta.

  1. Saturday, 10 November 2007 at 1:39 am

    Wah mas, aku jadi inget cerita temenku. Dia orang Jerman, yang dulunya sempet ngalamin hidup di dunia ‘East Berlin’. Dia hobi banget belanja dari pakaian sampai ke makanan. Alasannya ya itu tadi, karena di dunia dia yang lama, dia hanya bisa pakai baju yang ‘sama’ dengan orang lain.

    Intinya, dia sangat menyukai ‘kebebasan’ yang dia miliki sekarang untuk bisa memilih pakaian dan makanan apapun yang dia mau.

    Ironisnya, dengan budaya globalisasi yang ada sekarang, sebenernya semua orang in the end are forced to become ‘the same’ again. Betul, bahwa mungkin ada ‘variasi’ dalam jenis dan kualitas barang yang mereka miliki. Tapi pada dasarnya semua akan tergantung dari pasar penyedia barang yang tersedia. Ujungnya, lebih parah, semua orang dipaksa untuk berada di ruang pikir yang sama: konsumtif. Semua orang berlomba untuk meraih tingkat2 semu dalam strata hidup dengan menunjukan kapasitas barang yang bisa mereka beli.

    So ‘pattern of mind’ wise, semua orang berakhir sama, karena dengan budaya globalisasi, penyedia pasar hanya akan menyediakan barang yang sama; fashion with the same trend, music with the same trend, and thoughts in the same trend, which dangerously is going to (extremely) self destruction, human with no personality; driven by what so called ‘trend’.

    Jadi pertanyaannya, apakah kreativitas manusia dalam menciptakan sebuah sistem ternyata terbatas? Karena akhirnya siklus yang dulunya dihindari hanya menciptakan siklus baru yang berakhir sama?

  2. Saturday, 10 November 2007 at 1:52 am

    tika,
    pertanyaan cerdas. apakah kreativitas ternyata terbatas? kedengaran seperti “contradictio in terminis”, ya?

    jawaban besarnya iya. batas kreativitas adalah ide/gagasan. dan ide itu hasil dari konstruksi dan rekonstruksi atas pengalaman inderawi (kadang-kadang non inderawi). karena itu, dalam kreativitas pun ada pola (pattern) dan jejak (trajectory). itu bukti tak terbantah bahwa kreativitas itu bisa distrukturasi dan di(re)konstruksi. itu juga bukti tak terbantah, bahwa dalam sistem yang terbatas itu kreativitas dimungkinkan hidup.

    kreativitas menjadi penting karena manusia tidak bisa menyelesaikan sebuah masalah dengan cara dan tingkat berpikir yang sama ketika masalah itu diciptakan. ia butuh tingkat dan cara berpikir yang baru, lebih tinggi, lebih kreatif, untuk memecahkan masalahnya.

    salam,
    y

  3. Tuesday, 16 June 2009 at 6:46 am

    Wah, baru nemu blogmu yang di sini mas. Saya suka kajian konsumerisme, kapitalisme dan globalisasi. Tks sudah membuat blog ini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: