Di balik boikot

TEROPONG – Mingguan Hidup, Maret 2003

oleh Yanuar Nugroho

Ketika mengantar seorang rekan dan anaknya ke warung waralaba McDonald’s di kota Solo akhir pekan ini, iseng saya bertanya pada seorang pramusaji cantik di sana tentang apa yang dia rasakan atas gencarnya isu boikot produk AS di kota yang makin tenar lantaran dikenal sebagai sentra baru terorisme di Indonesia. Dalam bahasa Jawa halus ia menjawab, “Wah, kula mboten mangertos Mas. Kula nggih ajrih menawi toko punika tutup amargi dipun boikot punapa dipun risak tiyang sanes. Lajeng kula badhe pados gesang dhateng pundi? Sakmenika sisah pados pedamelan. Ingkang perang Amerika kaliyan Irak, kok kula ingkang kedah ngraosaken susahipun …” Dalam, bahasa Indonesia, jawaban itu kira-kira begini, ‘Wah, saya tidak tahu, Mas. Saya juga takut kalau toko ini tutup karena diboikot atau dirusak orang. Lalu saya akan mencari penghidupan di mana lagi? Sekarang ini susah mencari pekerjaan. Yang perang AS dan Irak, kok saya yang harus merasakan susahnya.’ Saya terdiam mendengar jawabannya.

Sebuah bangsa kaya minyak bumi bernama Irak dengan 51% populasi terdiri dari anak-anak di bawah 15 tahun, saat ini sedang merintih sekarat meregang masa depan akibat serbuan AS yang dengan arogan –apapun alasannya—menyatakan ‘memerangi terorisme’. Sikap anti-AS pun bermunculan sebagai reaksi. Pada banyak kasus, bahkan sikap itu dikerucutkan menjadi sikap anti berbagai produk yang berhubungan dengan AS dan/atau Inggris.

Ada lebih dari satu juta pekerja, banyak diantaranya buruh harian, yang mengandalkan hidupnya dengan upah minim hasil dari pekerjaannya di berbagai pabrik yang berafiliasi pada AS dan negara koalisinya –Inggris, Australia, Jepang, dll. Menyebut dan mempertimbangkan kepentingan ribuan buruh di pabrik sepatu macam Nike (AS) atau pabrik garmen macam GAP (Inggris), atau karyawan di warung global seperti McD atau Kentucky Fried Chicken, hanyalah satu perkara ketika gerakan ‘melawan’ produk-produk global ini dilancarkan. Perkara lain akan segera muncul ketika kita menyadari bahwa produk lain punya afiliasi serupa: IBM, Microsoft, Honda, Suzuki, Circle-K, Coca-cola, Motorola, General Electric, General Motor dan dan dimana toko-tokonya terletak –mal, supermarket, dan outlet di tengah-tengah perkotaan.

Maka, seolah sangat beralasan kekhawatiran bahwa boikot macam ini akan membawa akibat langsung pada mereka yang bekerja pada perusahaan atau pabrik yang membuat atau toko yang menjual produk-produk itu. Pandangan itu jelas bisa diterima. Namun, sebenarnya ada perkara lain yang jauh lebih mendasar tentang boikot itu, kalau kita mau sedikit berpikir untuk memahaminya.

Mengapa? Karena masalahnya bukanlah sekedar sentimen. Masalahnya juga bukan sekedar anti AS dan sekutunya. Masalahnya adalah ketidakadilan yang inheren dalam berbagai praktik bisnis global –ia adalah sebentuk terorisme canggih masa kini. Dan seperti apa terorisme itu bekerja?

John Cavanagh (2002) menyatakan, jika kita ambil 100 besaran ekonomi terbesar dunia ini, 51nya adalah perusahaan dan hanya 49 adalah negara. Waralaba Wal-Mart, perusahaan nomor 12, lebih besar daripada 161 negara termasuk Israel, Polandia dan Yunani. Mitsubishi lebih besar daripada negara dengan jumlah penduduk nomor empat di dunia: Indonesia. General Motors lebih besar daripada Denmark, Ford lebih besar daripada Afrika Selatan dan Toyota lebih besar daripada Norwegia. Jika sembilan negara tidak diperhitungkan –AS, Jepang, Jerman, Perancis, Italia, Inggris, Brazil, Kanada dan China—maka total penjualan 200 perusahaan terbesar di dunia (7.1 triliun dollar AS) lebih besar dari penjumlahan produk domestik bruto (GDP) 182 negara lainnya (6,9 triliun dollar AS)! Namun, ke 200 perusahaan tersebut juga penghancur lapangan kerja karena total pekerja dari seluruh perusahaan terbesar tersebut hanya 18,8 juta orang, kurang dari 0,33% seluruh penduduk dunia .

Sementara itu, Eco Future (2002) dalam laporannya mengatakan, bahwa jika dikonversi dalam perhitungan berdasar jumlah orang, perbandingan penggunaan energi oleh beberapa negara kira-kira seperti ini. Besarnya energi yang digunakan oleh satu orang Amerika, sama dengan yang digunakan oleh 3 orang Jepang, atau 6 orang Meksiko, atau 14 orang China, atau 38 orang India, atau 168 orang Bengali atau 531 orang Ethiopia. Dalam kondisi dimana kita hidup saat ini, 20% orang dengan penghasilan tertinggi di dunia yang berasal dari negara-negara kaya menghabiskan 86% dari total sumber daya bumi ini, sementara 20% yang paling miskin hanya 1.3%nya. Alangkah borosnya!

Jika kita sebut mereka yang termasuk dalam seperlima orang terkaya di dunia sebagai golongan pertama dan seperlima orang termiskin di dunia adalah golongan kedua, maka kita segera mendapati bahwa golongan pertama mengkonsumsi 45% dari seluruh daging dan ikan di dunia ini, sedangkan golongan kedua hanya 5%. Ketika yang pertama menggunakan 58% dari total energi, yang kedua hanya kurang dari 4%, demikian pula halnya golongan pertama memiliki 74% dari seluruh saluran telepon, golongan kedua hanya punya akses terhadap 1.5% nya. Dan tahukah kita bahwa 84% dari seluruh kertas di dunia digunakan oleh golongan pertama, dan golongan kedua hanya 1.1% –seperti halnya 87% kendaraan bermotor di dunia ini mereka miliki, sementara yang kedua hanya memiliki kurang dari 1%?

Jika cara pandang kita akan ketidakadilan ini kita geser dari sekedar wacana perang, tampak bahwa ketidakadilan yang sangat serius sedang terjadi. Program Pembangunan PBB (UNDP) menyatakan bahwa sebagai akibat dari pembangunan yang memuja pertumbuhan dan mengeruk untung dari praktik bisnis berbagai perusahaan multinasional ini, dunia ditelantarkan. Setiap 15 detik, seorang bayi mati di dunia ini karena penyakit yang disebabkan minimnya sanitasi, 11 juta anak di bawah 5 tahun mati setiap tahun dan lebih dari satu milyar penduduk bumi harus tidur dalam keadaan haus karena kekurangan air bersih (UNDP, 2002) . Di Indonesia sendiri, dalam data yang dihimpun selama tiga tahun terakhir, 9 hingga 11 orang mati setiap hari karena konflik, 2,5 juta hektar hutan hilang setiap tahun dan dari 40 juta pengangguran saat ini, 2,5 jutanya adalah lulusan perguruan tinggi (Ismartono, 2003) . Mereka ini bukan korban perang. Mereka korban pembangunan yang mengagungkan pertumbuhan dan akumulasi laba di atas segalanya.

Maka, memboikot atau tidak bukanlah inti soalnya. Apalagi jika boikot itu dilancarkan hanya dalam konteks sentimen terhadap perang Irak. Itu tidak cukup. Kita perlu menukik lebih tajam pada esensi perkara ketidakadilan dan ketimpangan global itu sendiri.

Dan itu bisa dimulai kini dan di sini secara nyata. Maka soalnya lalu bukan membenci Coca-Cola karena invasi AS ke Irak, melainkan secara sadar minum air putih yang lebih sehat. Demikian pula halnya ketika kesehatan menjadi pertimbangan utama ketika memilih nasi rames ketimbang berbagai fast-food dan cemilan serta makanan instan yang penuh monosodium glutamat, yang kata dokter, adalah salah satu penyebab kegemukan dan kanker otak (*).

Penulis adalah Direktur The Business Watch Indonesia (BWI), Sekretaris Jenderal pada Uni Sosial Demokrat (Unisosdem) Jakarta dan mengajar di Univ. Sahid Surakarta.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: