Home > 0 ALL, 0 bahasa indonesia, consumerism, development, economy, globalisation, political economy, socio-cultural change > Sebuah Dunia Yang Lain – Mungkinkah? (Bagian 1)

Sebuah Dunia Yang Lain – Mungkinkah? (Bagian 1)

Tuesday, 21 January 2003 Leave a comment Go to comments

Yang tertinggal dari Asian Social Forum
Hyderabad, 2-7 Januari 2003

TEROPONG – Mingguan Hidup, Januari 2003

oleh Yanuar Nugroho

Jika ada satu kata yang paling banyak disebut oleh orang di dunia ini sejak tiga atau lima tahun terakhir, kata itu pastilah ‘globalisasi’. Para tokoh akan merasa kurang bonafide kalau tidak mengucapkannya dalam pidato atau menuliskannya di makalah, media massa akan merasa kurang gengsi jika tidak memasukkannya dalam artikel atau liputannya. Banyak orang akan merasa kurang kalau dia bukan bagian dari komunitas ‘global’ dan hanya bagian dari komunitas ‘lokal’. Maka mulailah mereka memasukkan dirinya dalam arus gaya hidup global itu.

Di dalamnya termasuk menikmati ‘makanan global’ macam McDonald’s atau Kentucky Fried Chicken dan minum Coca-Cola, ‘hiburan global’ seperti film-film Hollywood dan musik MTV, ‘berita global’ yang disiarkan CNN dan BBC, memasang ‘aplikasi global’ seperti Microsoft Windows atau Lotus SmartSuite di komputer, berkomunikasi dengan ‘peranti global’ seperti handphone dan internet – semuanya itu adalah gaya hidup baru yang terkandung dalam proses globalisasi. Tentu saja, di atas semuanya itu, yang paling penting adalah ‘semangat global’ untuk menjadi individu yang kaya dan makmur secara finansial. Semuanya ini sudah tertanam jauh di dalam kesadaran banyak orang di dunia ini –tua dan muda, laki-laki dan permpuan, orang kota dan orang desa, orang kaya dan orang miskin.

Tapi, globalisasi bukan hanya perkara itu. Kesenjangan antara orang miskin dan kaya, baik antar maupun di dalam negara, semakin meningkat tajam. Tahun 1960, seperlima penduduk dunia yang tinggal di negara kaya memiliki pendapatan tigapuluh kali lebih tinggi dari seper lima penduduk yang tinggal di negara-negara termiskin di dunia. Berkat globalisasi, pada tahun 1997 selisih pendapatan ini meningkat menjadi sebesar 74:1 (Ellwood, 2001) . Seperlima penduduk dunia tinggal di negara yang kekayaannya mencapai 86% dari pendapatan domestik bruto sedunia, namun seperlima yang paling miskin hanya menerima 1%.

Pendapatan rata-rata 20 negara terkaya di dunia mencapai 37 kali pendapatan 20 negara termiskin. Rasio ini telah meningkat dua kali dalam 40 tahun terakhir. Hampir satu setengah milyar penduduk bumi harus hidup dengan kurang dari 1 dollar AS (sekitar Rp 9.000,-) per orang per hari, 113 juta anak tidak bisa sekolah, 11 juta anak kecil meninggal tiap hari dan lebih dari 1 milyar orang tak bisa mendapatkan air bersih untuk minum (UNDP, 2002) .

komposisi-pendapatan.JPG

Sumber: Human Development Report : dikutip dari Korten (1995)

Tak hanya itu, tanah menjadi rusak–hampir 2 juta hektar tanah di dunia ini rusak dan menjadi tidak produktif. Hutan-hutan digunduli –seperlima dari hutan tropis, hampir 200 juta hektar, sudah hilang karena penebangan sejak 1980-1995. Keanekaragaman hayati juga lenyap –sepertiga keanekaragaman ada dalam bahaya untuk hilang selamanya akibat campurtangan manusia. Sumberdaya laut juga dalam bahaya –sekitar 58% terumbu karang dan 34% spesies ikan terancam oleh ulah manusia, 70% dari perairan dunia dieksploitasi habis-habisan dan berlebihan sehingga hasilnya kini menurun (The World Bank, 2002) .

***

Ini semua menunjukkan bahwa globalisasi –seperti apapun lainnya di muka bumi ini—secara inheren ambivalen. Di satu sisi ia membawa sebentuk kemakmuran, kenyamanan, kenikmatan dalam wujud pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Namun di sisi lain, banyak korban berjatuhan akibatkan kemajuan itu. Dunia saat ini adalah dunia yang resah karena tarikan ini.

Dalam setting keresahan inilah, pada tanggal 2-7 Januari 2003, di Hyderabad, India, diselenggarakan Forum Sosial Asia (Asian Social Forum-ASF), yang secara tematik sejalan dengan Forum Sosial Dunia (World Social Forum-WSF) yang akan dilangsungkan di Porto Alegre, Brazil, mulai 23 Januari 2003 ini. ASF, juga WSF, bermaksud melihat dan menata kembali sikap terhadap globalisasi, khususnya tata ekonomi global yang bertumpu pada praktik bisnis korporasi yang kian menggurita. Perkembangan dunia saat ini semata mengikuti logika laba-rugi yang gencar dihembuskan oleh globalisasi, seolah tidak ada alternatif lain (TINA, There Is No Alternative) dalam mencapai kemajuan. Sebaliknya, mereka yang berkumpul dalam ASF menyerukan bahwa ada ribuan alternatif lain (TATA, There Are Thousands Alternatives) dalam hidup manusia.

Dihadiri oleh hampir 15 ribu orang tiap harinya dalam ratusan seminar, konferensi dan lokakarya paralel, satu teriakan lantang menggema, “Another World is Possible”. Teriakan ini seolah mewakili keresahan sebagian besar penduduk dunia yang tidak diuntungkan oleh proses globalisasi yang kian jauh meminggirkan mereka –dan mereka makin tidak berdaya dalam ‘suratan takdir’ globalisasi itu. Mereka itu adalah kaum minoritas, kelompok-kelompok adat, perempuan dan anak-anak, buruh, petani, pekerja sektor informal –mereka nampaknya hanya menjadi pelengkap penderita dalam guliran roda kemajuan jaman yang dihembuskan globalisasi saat ini.

Dalam perspektif inilah, forum semacam ASF ini menjadi penting bukan hanya karena dihadiri oleh para intelektual dunia yang punya keberpihakan macam Vandana Shiva, Tony Clarke atau Walden Bello, namun karena menyediakan ruang sehingga baik korban ataupun aktivis yang membelanya tidak merasa sendirian. Sebuah ruang yang –meski jauh dari memadai—memungkinkan berlangsungnya interaksi dan bela-rasa antar mereka.

Namun, memang di atas semua solidaritas emosional ini, ASF berfokus pada perlunya sebuah tata dunia baru. Tata dunia yang lebih adil dan lebih demokratis, lebih manusiawi dan lebih berpihak pada keberlanjutan hidup spesies di atas muka bumi ini. Mungkinkah? Jawabnya: mungkin saja, tapi nampaknya untuk itu beberapa cara pikir mesti berubah. Yang paling penting di antaranya adalah cara pikir dalam melihat kekuasaan. Seperti apa cara berpikir itu? (Bersambung)

Penulis adalah peserta dan pembicara di Asian Social Forum, hadir atas undangan Pax Romana ICMICA (International Catholic Movement for Intellectual & Cultural Affairs) – Jenewa, mewakili The Business Watch Indonesia, Uni Sosial Demokrat Jakarta dan Univ. Sahid Surakarta, sementara tinggal di Jakarta.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: