Perspective is about bringing together things that seem to have no relation to each other so that they could be more easily understood in a context. It sounds simple. But it helps scrutinising the relationship between noble idea of good governance and hullabaloo of corporate responsibility. Why these two? Firstly, because discourse about good governance today cannot but touch upon the issue of corporate governance. And secondly, because corporate responsibility has become the issue of corporate governance.
It has been admitted that corporations are playing vital role in developments as they create employment, produce goods and services, bring investments and thus economic growth. As no one would disagree that good governance is necessary for development, neither do they contradict the idea that good governance should be applied to corporate world. Even, it flowers a thought that business should be allowed to regulate themselves.
Read more…
Categories: 0 ALL, 0 english, accountability, business, business accountability, business ethics, civil society, corporate accountability, corporate governance, corporate social responsibility, ethical business, globalisation, governance, political economy
Oleh Yanuar Nugroho
CSR Review 13 Januari 2008
“Globalisasi produksi kini tengah membentuk kembali lansekap ekonomi internasional. Dengan itu, pengetahuan lama yang mengatakan bahwa negara maju adalah eksportir modal dan teknologi dan negara berkembang sebagai importirnya pelan-pelan harus minggir dan memberikan tempat bagi relasi keduanya yang lebih kompleks… Tren saat ini mempunyai implikasi yang penting bagi pembagian kerja di dunia. Pandangan tradisional bahwa aktivitas produksi yang lebih kompleks dilakukan di Utara dan yang sederhana di Selatan makin tidak mencerminkan realitas. Perusahaan kini melihat bahwa negara berkembang menjadi penting bukan hanya karena buruh murah, tetapi terutama pertumbuhan, ketrampilan dan teknologi.”
Setelah demo masif para buruh menolak revisi UU No. 13/2003 yang sarat dengan pengabaian hak-hak pekerja, pemerintah akhirnya mengambil sikap untuk mengevaluasi pelaksanaan UU tersebut sebelum merevisinya. Tentu sikap ini disambut baik oleh buruh. Namun, pengusaha menunjukkan gelagat lain: mereka ngotot minta revisi segera dilakukan dengan tetap menggunakan draft yang sudah ditolak tersebut. Alasannya, revisi itu perlu untuk memikat investasi. Jika saja kita mau sedikit lebih jeli melihat problematika ketenagakerjaan itu, disana ada tegangan mendasar: martabat manusia dan kuasa modal.
Read more…
Categories: 0 ALL, 0 bahasa indonesia, accountability, business accountability, business ethics, corporate accountability, corporate governance, corporate social responsibility, ethical business, globalisation, labour, liberalisation, market economy, political economy
An Indonesian business magazine, Investor, just interviewed me via email. The interview was about CSR/corporate social responsibility. From the long question list that I reviewed, the magazine seems to be genuinely seeking for more comprehensive understanding about the topic. So, albeit my tight schedule and deadlines for my PhD writing up and preparing a talk among Indonesian students in the UK on ‘privatisation’ this weekend, I spent nearly 90 minutes completing the interview.
Read more…
I almost could not believe what I have just heard today from CORE Coalition, UK: EU Parliament demands environmental and social regulation for business by passing a resolution earlier today (13/3/06) (Here is the news). This is truly a good news for me, and I believe, also for many people who want to see the corporate world acts more justly, responsibly and accountably.
Read more…
CSR Review, Edisi 1, Business Watch Indonesia, Oktober 2005
Yanuar Nugroho*
Direktur Eksekutif – The Business Watch Indonesia
Dengan nilai penjualan tekstil berbahan katun mencapai 2,1 trilyun dollar AS tahun 2000 dan diperkirakan omzetnya akan melejit ke 10 trilyun dollar AS tahun 2010 nanti, pantas jika para pelaku industri tekstil Indonesia waswas menanti diakhirinya kuota global tekstil akhir tahun ini. Mengapa? Karena jika tidak menjadi ‘pelaku yang baik’ di dalam global supply chain industri tekstil dunia, mereka akan ditinggalkan pasar[1]. Dan apa itu pelaku bisnis yang baik? Washington menjawab dengan tegas: produsen tekstil di Indonesia harus memperhatikan soal tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility, CSR) seperti kesejahteraan pekerja dan perlindungan lingkungan jika ingin mengakses pasar tekstil AS[2].
Read more…
Media Indonesia, 25 September 2005
Yanuar Nugroho
Direktur Eksekutif, The Business Watch Indonesia
Perspektif membantu kita memahami hal-hal yang nampaknya tak berkaitan, atau sebaliknya mempertanyakan hubungan sesuatu yang nampaknya jelas dan sudah diterima luas. Misalnya, gagasan mulia good governance (tatakelola yang baik) dan corporate social responsibility (CSR, tanggung jawab sosial korporasi).
Mengapa dua hal ini? Pertama, karena menggagas tatakelola tidak bisa tidak menyentuh tatakelola korporasi dan bisnis. Dan kedua, karena CSR nampaknya sedang menjadi pusat perhatian dalam tatakelola korporasi dan bisnis.
Read more…
Opini Kompas, 22 September 2005, h.38
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/22/opini/2068215.htm
Mungkin hanya kebetulan bahwa Forum Asia untuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Asian Forum for Corporate Social Responsibility/AFCSR) dan Forum Resistensi Lokal (Local Resistance Forum/LRF) diadakan di tempat dan waktu yang sama, Jakarta, 8-9 September 2005.
Forum tersebut menghadirkan jaringan lokal, regional, dan internasional. Keduanya membicarakan tantangan zaman ini: implikasi globalisasi dan ekonomi neoliberal. Pertemuan tersebut juga menempatkan keprihatinan atas nasib Bumi dan penghuninya.
Read more…
Media Indonesia – OPINI – 23 Agustus 2005
Yanuar Nugroho
SESUDAH berbagai gebrakan melawan korupsi, kabinet SBY-JK tampaknya kini mencecar tanggung jawab korporasi. Menindaklanjuti hasil Program Penilaian Peringkat Perusahaan (Proper) 2005 yang dilansir awal bulan ini, KLH sudah mengeluarkan ancaman dini. Ia akan menggugat perusahaan berperingkat hitam dengan dakwaan pencemaran lingkungan (Media Indonesia, 9/8). Read more…
Categories: 0 ALL, 0 bahasa indonesia, accountability, business, business accountability, business ethics, corporate accountability, corporate governance, corporate social responsibility, globalisation, political economy
Opinion and Editorial – THE JAKARTA POST, November 09, 2004
Yanuar Nugroho
The world-famous business strategy consultant, Peter F. Drucker, in a recent interview in Joel Bakan’s new book, The Corporation (2004), says “If you find an executive who wants to take on social responsibilities, fire him. Fast.”
Those who believe, or are in favor of, corporate social responsibility (CSR) may be shocked. But, bravery is indeed needed to scrutinize the very heart of business practice, without which we may be misled when addressing the role of business and corporations in our lives today.
Read more…
TEROPONG – Mingguan Hidup, November 2004
Yanuar Nugroho
Sampai hari ini, masih ramai soal Teluk Buyat. Konon kabarnya, dari tambang emas yang dikelola oleh PT. Newmont Minahasa Raya itu, dibuang ke laut lebih dari 2.000 ton tailing atau limbah tambang yang mengandung logam berat setiap harinya. Akibatnya, lebih dari 100 warga Buyat, Ratatotok, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, menderita penyakit Minamata, yaitu kerusakan saraf. Mereka menderita gatal-gatal dan kejang pada tubuh, kemudian muncul benjolan. Benjolan yang muncul dalam banyak varian pada sejumlah penderita, yakni di tangan, kaki, tengkuk, pantat, kepala atau payudara ini diduga sebagai akibat kontaminasi logam berat arsen dan merkuri yang mencemari Teluk Buyat dari PT NMR .
Read more…
Categories: 0 ALL, 0 bahasa indonesia, accountability, business accountability, business ethics, corporate accountability, corporate governance, corporate social responsibility, environment, globalisation, political economy, pollution, poverty, socio-cultural change
Headlines – The Jakarta Post, Thursday, December 04, 2003
Yanuar Nugroho
Look at this time-series data on evictions in Jakarta, compiled and processed by the Jakarta Social Institute (ISJ) and the Jakarta Residents’ Forum (Fakta). First, during 2001, the Jakarta municipality, in the name of law and order, evicted the urban poor 99 times.
Read more…
The Jakarta Post, 27 October 2003 : opinion & editorial
Yanuar Nugroho
During the international trade talks last month in Cancun, Mexico, South Korean leader of its farmers’ and fishers’ union, Lee Kyung-hae, 54, stabbed himself at a violent protest. The former lawmaker, who later died, had earlier climbed a high security fence and waved a banner that read “WTO kills farmers”.
With regard to the controversy upon his death, he may have been correct in addressing that concern.
Read more…
Categories: 0 ALL, 0 english, accountability, agriculture, business accountability, business ethics, corporate accountability, corporate governance, development, economy, globalisation, political economy, socio-cultural change, socio-technology
TEROPONG – Mingguan Hidup, Juni 2003
oleh Yanuar Nugroho
Ketika kita mendengar para investor, pengusaha, direktur dan manajer berkata, “… tugas kami bagi bangsa ini adalah menciptakan lapangan kerja,” kita perlu waspada. Rasanya, ungkapan itu salah kaprah. Mengapa? Karena mencampuradukkan antara ‘akibat’ dan ‘tujuan’. Lebih jelasnya: tak ada pemodal yang berbisnis untuk menciptakan lapangan kerja. Ia berbisnis untuk mengejar laba dan menumpuk uang. Itulah motif utama, itulah ‘tujuannya’. Nah, bahwa untuk mengejar tujuan itu ratusan bahkan ribuan lapangan kerja dibuka, itu adalah ‘akibat’, bukan tujuan.
Read more…
Categories: 0 ALL, 0 bahasa indonesia, accountability, business, business accountability, corporate accountability, corporate governance, corporate social responsibility, democratisation, economy, political economy, politics, social, socio-cultural change
The Jakarta Post, 5 June 2003 – HEADLINES
Yanuar Nugroho,
“Control your destiny, or someone else will,” is the famous phrase of business consultant Welch (1992) when explaining how strategic management in industry would very much affect the progress of corporations. The saying might be right.
Read more…
TEROPONG – Mingguan Hidup, Mei 2003
oleh Yanuar Nugroho
Pernahkah di suatu hari yang cerah Anda mengenakan kacamata hitam? Apa yang nampak? Bagaimana dunia terlihat oleh Anda? Semuanya mungkin tampak ‘teduh’, ‘kelabu’, walaupun sebenarnya matahari bersinar dengan teriknya membakar kulit. Itulah kekuatan kacamata hitam. Dan sekali orang merasa nyaman dengan itu, ia enggan menanggalkannya.
Read more…
Opinion and Editorial – The Jakarta Post January 24, 2003
Yanuar Nugroho
The bill on water resources management may be ratified at any time this year. It involves plans for total restructuring of water management — the country’s water sector will be managed according to the market mechanism and there will be wide opportunities for private sector involvement in the water-based business. Precisely, it is all about privatization of water resources.
Read more…
Categories: 0 ALL, 0 english, accountability, business accountability, business ethics, corporate accountability, economy, globalisation, political economy, politics, privatisation, social
Yang tertinggal dari Asian Social Forum
Hyderabad, 2-7 Januari 2003
TEROPONG – Mingguan Hidup, Januari 2003
oleh Yanuar Nugroho
Nampaknya kemajuan dunia yang terlihat sangat pesat ini membawa sebuah kegelisahan. Anthony Giddens dalam bukunya Runaway World (1999) menggambarkan dunia sebagai dunia yang tengah berlari tunggang-langgang. Memang benar, bahwa kita menikmati berbagai kemudahan yang tidak dialami oleh generasi-generasi sebelumnya seperti kemajuan telekomunikasi, transportasi dan komputasi yang membantu mewujudkan berbagai kemudahan hidup. Tetapi di saat yang sama kita juga merasakan bahwa kemajuan yang sama ikut melahirkan berbagai krisis yang dulunya tidak pernah ada. Semakin langkanya bahan bakar minyak, polusi global, melonjaknya angka kematian, wabah, penyakit yang tak tersembuhkan, perubahan iklim, hanyalah sebagian dari deretan panjang krisis-krisis yang menghantui kehidupan kita. Krisis yang lain juga tengah berlangsung, yaitu semakin terpinggirkannya manusia dan kehidupan bersama oleh ekspansi modal secara besar-besaran. Neo-liberalisme yang terbungkus dalam globalisasi, begitu orang bilang.
Read more…
The Jakarta Post, Wednesday, 18-12-02
by Yanuar Nugroho,
For those who are aware of what globalization is really all about, the case of Sony, which decided to abandon Indonesia and lay off more than one thousand people several weeks ago, will be very easy to understand. Indeed, capital is free to move anywhere for it does not comprehend such concepts as “nationalism” and “patriotism”.
Read more…
The Jakarta Post, 6 November 2002, Opinion & Editorial
Despite apparent global growth and steadily increasing per capita income, the gap both within and between rich and poor countries seems to be widening. The United Nations reported that in 1960, the richest fifth of the world’s population received 70 percent of global income compared to 2.3 percent of the world’s poorest 20 percent. By 1989, the richest 20 percent had increased their share to 82.7 percent while the bottom fifth’s share of global income shrank from 2.3 percent to 1.4 percent (UN Development Report, 1992).
Read more…
The Jakarta Post, 23 September 2002, OPINION & EDITORIAL
The head of The Indonesian Control Body for Stock Market (Bapepam) Herwidayatmo last month stated that the number of public investors in Indonesia now number only 55,000, down from 1995 when there were more than two million investors.
Herwidayatmo said this is caused by three main factors: The economy, lack of good corporate governance and investor disappointment with stock market services. Are these reasons valid? Let’s look at some other facts.
Read more…
Categories: 0 ALL, 0 english, accountability, business, business ethics, corporate accountability, corporate governance, corporate social responsibility, ethical business, political economy, social
Recent Comments