Teknologi Informasi dan Organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia

Saturday, 27 January 2007 Leave a comment Go to comments

Studi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di kalangan kelompok/organisasi masyarakat sipil di Indonesia bagi perubahan sosial

DILARANG MENGUTIP.
Studi ini akan terbit sebagai thesis doktoral.
Hubungi saya untuk keperluan kutipan/sitasi tulisan ini.
Download PDF tulisan ini di sini.

Pengantar
Secara umum, studi ini terletak dalam gagasan mengenai ‘studi inovasi’ dan ‘teknologi dan perubahan sosial’. Secara khusus, studi ini mempelajari bagaimana kelompok/organisasi masyarakat sipil (selanjutnya demi hemat kata, disingkat CSO, civil society organisation) menggunakan teknologi informasi, khususnya yang termediasi oleh komputer dan melalui internet (internet-based CMC), untuk mencapai misi dan tujuannya melakukan perubahan sosial.


Mengapa CSO? CSO seringkali dicampuradukkan dengan NGO atau Ornop, yaitu subset yang paling nampak dari CSO. Namun demikian secara konseptual CSO lebih luas dari Ornop karena ia juga mencakup kelompok-kelompok komunitas, lembaga penelitian atau think-tank, media dan serikat buruh serta petani (Ibrahim, et al., 2003). Mengapa teknologi komunikasi via Internet? Sejak muncul dan berkembangnya internet, berbagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya terjadi melalui mediasi teknologi ini. Komunikasi termediasikan internet telah memungkinkan terjadinya perubahan dan pengaruh terhadap identitas, relasi dan komunitas (Thurlow, et al., 2004). Mengapa Indonesia? Tak hanya karena Indonesia mengalami perubahan sosial yang luarbiasa yaitu transisi menuju demokrasi (Bird, 1999), namun terutama karena transformasi semacam itu tak mungkin terjadi jika tidak ada keterlibatan yang kuat dari berbagai CSO di Indonesia (Uhlin, 2000).

Kini, dalam tahap lanjut proses transisi demokrasi tersebut, keterlibatan dan pengaruh CSO dalam penentuan kebijakan dan pengambilan keputusan publik makin hari makin meningkat. Demikian juga seiring waktu, perkembangan teknologi komunikasi melalui internet dan pemanfaatannya juga makin pesat dan meluas dan infrastrukturnya makin luas tersedia. Maka, sementara di satu sisi keduanya dipandang sebagai salah satu faktor penggerak perubahan sosial, di sisi lain, studi selama ini menunjukkan bahwa teknologi informasi belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kerja-kerja CSO di berbagai konteks, termasuk di Indonesia.

Gagasan pokok
Lebih dari dua dasawarsa yang lalu, Benjamin Barber dalam bukunya “Strong Democracy” (1984) sudah melihat kemungkinan digunakannya teknologi informasi dan komunikasi untuk menggerakkan ‘informasi warga’ dan partisipasi politik. Namun, empat belas tahun kemudian, dia memperingatkan adanya kerusakan yang makin meluas dari kualitas pengambilan keputusan secara demokratik yang terjadi dalam biasnya ruang media yang baru ini.

Teknologi komunikasi memang bisa menjadi platform yang memadai untuk menstimulasi partisipasi dan melahirkan berbagai peluang untuk meluaskan ruang pengambilan keputusan yang bisa menembus tertutupnya pintu institusi-institusi politik. Tetapi di sisi lain, teknologi apapun, termasuk dan khususnya internet, juga dibentuk dari pengguna dan penggunaanya (Sey and Castells, 2004: 363). Karena itu, mereka menekankan bahwa, “… pengaruh internet yang sesungguhnya terhadap politik dan kualitas demokrasi harus ditetapkan dan ditemukan dari pengamatan, bukan dinyatakan sebagai keniscayaan.” (ibid.:364, penekanan penulis).

Tujuan utama dari studi ini bukanlah untuk mempertahankan gagasan atau abstraksi mengenai hubungan antara teknologi dan transformasi sosial. Melainkan, untuk mencoba memahaminya melalui sekumpulan contoh –beberapa positif dan beberapa negatif—keadaan dan prasyarat di mana, dan bagaimana caranya, potensi hubungan ini terwujud.

Pertanyaan pokok
Pertanyaan pokok yang diajukan dalam studi ini adalah:

  • Apa yang seharusnya dikerjakan oleh CSO di Indonesia ini setelah mempunyai akses relatif lebih mudah terhadap teknologi komunikasi melalui internet?
  • Bagaimana berbagai CSO ini menggunakan teknologi tersebut secara strategis?
  • Apa peluang dan tantangan dalam penggunaan semacam ini?

Tiga pertanyaan pokok ini diturunkan ke dalam beberapa pertanyaan operasional yang digunakan sebagai dasar untuk menyiapkan instrumen penelitian ini:

  1. Seperti apakah hakikat (nature) dari CSO di Indonesia saat ini? Bagaimana CSO di Indonesia terlibat di dalam ‘masyarakat informasi’?
  2. Teknologi komunikasi apa yang digunakan oleh CSO di Indonesia dan bagaimana mereka menggunakannya untuk meningkatkan kinerja organisasi baik secara internal (kebutuhan manajerial) dan eksternal (fokus, isyu, jaringan, dll.)? Faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan teknologi tersebut bagi CSO dan bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhinya?
  3. Seperti apa teknologi komunikasi digunakan secara ‘cerdik, strategis dan politis’? Bagaimana caranya? Mengapa? Adakah strategi untuk pemanfaatan tersebut?
  4. Dalam area apa saja teknologi komunikasi digunakan secara strategis? Seperti apa penggunaan strategis itu di masa depan?

Metodologi
Metodologi utama yang digunakan adalah triangulasi, yaitu gabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memperkaya pemaknaan dan mendapatkan nuansa yang sulit diperoleh dengan hanya menggunakan salah satu di antaranya.

metodologi

Secara umum, beberapa hal di bawah mungkin perlu dicatat:

  • Survey ditargetkan pada responden secara terarah (purposively), bukan acak, dengan menggunakan direktori CSO yang tersedia secara publik.
  • Pemilihan CSO dalam wawancara mendalam juga dilakukan secara terarah (purposive) menurut taksonomi (developmentalis vs. advokasi) dan tipe organisasinya (organisasi terpusat vs. jaringan).
  • Dalam beberapa hal, ‘snow-ball sampling’ diterapkan, yaitu dengan menindaklanjuti CSO yang dirujuk oleh narasumber.
  • Untuk pengalaman/kasus yang ‘menarik’, studi kasus akan dilakukan sebagai tindak lanjut untuk memberikan ‘kisah/cerita’ sebagai ilustrasi melalui observasi dan wawancara mendalam (yang lebih memungkinkan dibandingkan dengan studi etnografi).
  • Titik (‘node’) dalam pemetaan jaringan didapatkan dari hasil survey (bukan dari direktori) untuk memastikan adanya relasi (‘edge’)
  • Sebagian (besar) peserta lokakarya dan kelompok diskusi terarah adalah responden dalam survey dan informan dalam wawancara. Cara ini dipilih untuk mendapatkan pandangan, posisi, kesepakatan dan refleksi kolektif sebagai kelompok.

Studi ini didesain seperti ini karena dua alasan utama yang mendasar secara ontologis dan pragmatis. Secara ontologis, CSO belumlah secara konseptual terdefinisi dengan baik. Para akademisi masih meraba-raba hakikat ‘sektor ketiga’ ini seperti diindikasikan dalam handbook kanonikal Global Civil Society dan beragam gagasan lainnya (Anheier, 2003, Anheier, et al., 2005, Glasius, et al., 2002, Wainwright, 2005). Secara pragmatis, idealnya sampel ditentukan secara acak, namun hal ini tidak dimungkinkan karena tiadanya sensus CSO di Indonesia (bahkan di negara lain (Anheier, et al., 2005)). Karena itu, sulit mengukur ‘representativeness’, ‘reliability’ atau ‘power’.

Dari beberapa pengalaman skolar lain sebelumnya, studi mengenai CSO bisa (dan biasanya) dilakukan dengan cara:

  • studi kasus berdasarkan wawancara (mis. Hadiwinata, 2003)
  • studi etnografi (mis. Warren, 2005)
  • observasi partisipatoris dalam sebuah event besar (mis. Anheier and Katz, 2005)
  • studi kasus dan observasi (mis. Anheier, et al., 2005, Glasius, et al., 2002)

Namun demikian, dalam penelitian ini pilihan salah satu cara di atas tidak mencukupi dan karenanya dibutuhkan kombinasi.

Temuan sementara: Sekilas pengumpulan data
Melalui survey yang diikuti 268 organisasi dari 29 propinsi (s.d. 15 Januari 2006) dan wawancara dengan sekitar 35 informan, berhasil dikumpulkan data mengenai profil CSO, profil penggunaan teknologi informasi, peta area/bidang dimana teknologi komunikasi digunakan secara strategis serta profil keyakinan di masa depan akan penggunaan teknologi komunikasi ini bagi perubahan sosial. Selain itu, juga dilakukan pemetaan jaringan kerja CSO di Indonesia dengan mitra nasional dan mitra internasionalnya.

Profil responden. Responden adalah CSO yang berorientasi advokasi, developmentalis atau gabungan keduanya dan secara organisasi bersifat terpusat atau merupakan jaringan. Komposisi antara CSO yang mengambil orientasi sebagai think-tank seimbang dengan mereka yang melakukan pengorganisasian. Kebanyakan terdaftar secara resmi dan tidak mempunyai afiliasi agama tertentu.

Isu dan bidang garap yang diambil beragam dan merata, meliputi pemberdayaan masyarakat sipil, pendidikan, demokratisasi, hak asasi manusia, kesetaraan jender dan hak-hak perempuan, pembangunan, pengentasan kemiskinan, perdamaian dan keadilan, hak-hak ekosob, tata pemerintahan yang baik, isu-isu pedesaan, anak-anak, resolusi konflik, globalisasi, petani dan nelayan, perkotaan, buruh dan serikat pekerja, serta kelompok adat. Sebagian kecil bekerja di isu pluralisme dan keragaman, penyandang cacat dan pekerja profesional. Dalam hal aktivitas utama, CSO di Indonesia tidak begitu berbeda satu sama lain. Sebagian besar melakukan pelatihan, sebagian lainnya penelitian termasuk konsultansi dan pengembangan kapasitas, publikasi termasuk diseminasi, advokasi korban dan mobilisasi. Hanya sebagian kecil melakukan lobby.

Sebagian besar CSO responden berdiri antara 5-10 tahun yang lalu (37%) dan sebagian lainnya lebih dari 10 tahun yang lalu (34.35%). Hanya sebagian kecil dari CSO responden berusia kurang dari 5 tahun (27%). Mereka sebagian besar mempunyai staf full-time kurang dari 10 orang (65%) dan hanya sedikit yang mempekerjakan lebih dari 25 staf purna waktu (11.01%). Pola yang mirip juga ditemui dalam jumlah staff part-time yang bekerja di CSO tersebut. Sekitar separuh dari CSO responden ini mengelola dana di bawah Rp 500 juta rupiah per tahun, sementara sepertiga dari CSO responden mengelola antara Rp 500 juta – Rp 2 milyar rupiah per tahun. Perlu dicatat bahwa sekitar seperlima responden menolak untuk memberikan informasi ini. Dana ini sebagian berasal dari donor internasional, sebagian dari pembiayaan sendiri dan sebagian dari aktivitas yang menghasilkan dana. Hanya sebagian kecil yang mendapatkan dananya sepenuhnya dari pemerintah atau sepenuhnya donor atau sepenuhnya pembiayaan sendiri.

profil

Profil penggunaan teknologi komunikasi. Hampir semua (94.69%) CSO responden menggunakan komputer sejak berdirinya dan sebagian besar dari mereka (83.18%) menggunakan internet relatif sejak teknologi ini diperkenalkan. Sebagai prosentase dari dana yang dikelola per tahunnya, kebanyakan CSO (70.71%) membelanjakan kurang dari 25%. Sebagian lain (25.76%) membelanjakan 25%-250% dari dana yang dikelola untuk teknologi komunikasi. Secara nominal, sebagian besar CSO (79.58%) membelanjakan Rp 50 juta atau kurang dan sebagian lain (13.61%) membelanjakan antara Rp 50 – 100 juta per tahun untuk teknologi komunikasi.

ITspending

Apa alasan internal menggunakan teknologi komunikasi? Lima alasan internal utama adalah intensitas informasi, alasan manajerial, peningkatan kapasitas dan keperluan identitas. Alasan lainnya adalah finansial, teknologis, bottom-up, dan top-down. Sedangkan alasan eksternalnya terutama karena meningkatnya intensitas kerjasama, perspektif, jaringan, isu dan bidang garap serta intermediasi. Alasan eksternal lainnya adalah alasan pemberdayaan, alasan lingkungan, meningkatnya intensitas pengaruh, alasan sosial, budaya, kekuasaan dan intensitas kompetisi.

Pengaruh teknologi komunikasi. Mayoritas CSO responden mengalami bahwa teknologi komunikasi telah memfasilitasi kinerja internal manajemen mereka secara sangat signifikan (46.98%) dan signifikan (40%). Demikian juga dengan ekspansi jaringan, dimana karena pengaruh penggunaan teknologi komunikasi, jaringan CSO responden berkembang pesat (67.42%) atau setidaknya sedikit berkembang (21.27%). Hanya sebagian kecil (11.31%) melihat pengaruh ini netral. Penggunaan teknologi komunikasi juga mempengaruhi tujuan dan aktivitas organisasi: tujuan dan aktivitas organisasi menjadi terfokus (44.04%) atau jauh lebih terfokus (32.57%) setelah digunakannya teknologi komunikasi. Dalam hal wawasan/perspektif, teknologi informasi membantu CSO untuk meluaskan perspektif hingga ke tinggkat global (64.15%), setidaknya sampai di tingkat nasional (18.4%), setidaknya sampai tingkat regional (8.49%) dan setidaknya lebih dari tinggkat lokal (5.19%). Sebagian kecil (3.77%) melihat penggunaan teknologi komunikasi ini tidak mempengaruhi perspektif/wawasan mereka. Kebanyakan CSO responden mengalami bahwa penggunaan teknologi informasi telah memberi manfaat secara signifikan untuk mencapai misi dan tujuan organisasi secara sangat positif (47.95%) atau secara positif (44.75%).

ITsignif

Pilihan teknologi komunikasi. Email, mailing list dan WWW menjadi subset teknologi komunikasi yang paling banyak digunakan selain file transfer. Fitur lain dari teknologi komunikasi seperti online chat, online forum, VoIP, weblog, video/audio streaming relatif lebih sedikit dimanfaatkan. Hal yang sama berlaku untuk fitur teknologi yang disediakan: email, mailing list dan WWW. Selain itu: link dengan organisasi lain dan publikasi online. Fitur lain praktis hanya sedikit disediakan oleh CSO: newsgroup, online forum, perpustakaan online, weblog dan streaming. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh akses terhadap interent. Sebagian besar (48.2%) CSO menggunakan koneksi dial-up dan hanya sebagian kecil (19.37%) menikmati koneksi pitalebar (broadband). Lainnya mengakses internet melalui warnet atau menumpang di organisasi lain. Namun demikian dalam hal partisipasi, kebanyakan CSO (49.51%) melihat diri mereka seimbang dalam mengankses dan memberikan informasi melalui teknologi komunikasi. Dalam jumlah signifikan (37.87%) CSO lebih banyak atau jauh lebih banyak mengakses informasi dan hanya sedikit (16.62%) yang lebih banyak atau jauh lebih banyak memberikan informasi.

Dalam mengevaluasi penggunaan teknologi komunikasi mereka, CSO responden mendapati bahwa teknologi komunikasi digunakan dalam sejumlah aspek penting (41.23%) atau di hampir semua aspek (27.49%) dalam aktivitas mereka. Sekitar seperempat dari responden menggunakannya hanya di beberapa aspek dalam aktivitas mereka. Sebagian besar CSO (35.27%) tidak bisa atau tidak tahu membandingkan penggunaan teknologi komunikasi di organisasi mereka dengan organisasi lain dalam jaringan mereka. Sebagian kecil (9.10%) yakin dirinya berada dalam lima persen teratas dan sebagian lain yakin berada dalam kelompok seperlima teratas (19.32%) atau setengah teratas (16.43%). Sejumlah CSO merasa penggunaan teknologi komunikasi mereka ada di bawah setengah terbawah (7.73%) atau bahkan ada di sepersepuluh paling bawah (12.08%). Namun demikian, sebagai proses belajar, sebagian besar CSO (51.96%) melihat bahwa kebanyakan staff mereka dan sejumlah lain (28.43%) melihat sejumlah staff mereka ingin meningkatkan ketrampilan teknologi komunikasi mereka. Sejumlah kecil (17.65%) CSO melihat hanya beberapa staff yang ingin meningkatkan ketrampilan tersebut. Dari segi manfaat bagi kelompok dampingan, CSO melihat bahwa penggunaan teknologi komunikasi membantu kelompok dampingan mereka untuk mendapatkan wawasan lebih luas, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap isu tertentu dan membantu mereka mengorganisir dirinya sendiri. Sebagian kecil mengalami kelompok dampingannya mendapatkan manfaat berupa akses langsung terhadap penggunaan perangkat lunak, aplikasi, internet, dll. dan juga perangkat keras. Bidang-bidang strategis dimana teknologi komunikasi bisa digunakan oleh CSO adalah kerja sama dan berkolaborasi, penyampaian gagasan secara lebih efektif ke organisasi lain dan kepada publik, dan untuk membangun jaringan serta melakukan kampanye.

Sebagai pengguna, CSO responden juga melakukan modifikasi/penyesuaian teknologi komunikasi dengan kebutuhan mereka, terutama dalam membangun jaringan dengan organisasi lain, kerjasama dengan organisasi lain, publikasi/komunikasi gagasan kepada publik, manajemen internal organisasi, fundraising dan kampanye. Sebagian kecil melakukan modifikasi untuk keperluan keuangan/akuntansi. Penyesuaian itu dilakukan sebagian besar dengan cara membeli sistem/aplikasi komersial dan sebagian lagi dengan menyalin/meng-copy sistem/aplikasi dari organisasi lain. Hanya seperlima dari CSO responden yang mengembangkan sistem/aplikasi sendiri. Alasan penyesuaian ini dilakukan sebagian besar adalah untuk memperluas jaringan/hubungan dengan organisasi lain, meningkatkan kinerja manajemen organisasi yang lebih baik, untuk memperluas perspektif/wawasan terhadap isu dan bidang garap.

kesulitan.JPG

Sedangkan hal negatif yang diakibatkan dari penggunaan teknologi komunikasi sebagian besar berupa gangguan (virus, SPAM) selain hal-hal seperti pengeluaran organisasi justru meningkat, pemborosan pulsa/biaya komunikasi, kerepotan mengurusi jaringan dan fokus kerja staf yang berkurang. Sebagian kecil melihat implikasi negatif biasnya isu dan bidang garap.

Secara keseluruhan, dalam melihat prospek masa depan, mayoritas CSO memproyeksikan akan membelanjakan lebih banyak dana (dari saat ini) untuk penggunaan teknologi komunikasi dengan kemungkinan yang cukup besar (45.27%) atau sangat besar (19.9%). Sebagian besar CSO yakin (49.02%) atau sangat yakin (41.67%) akan terjadinya peningkatan kinerja manajemen; mereka yakin (52.48%) atau sangat yakin (42.57%) bahwa jaringan organisasi akan meluas; mereka punya keyakinan yang sama (60.2% dan 29.95%) bahwa pencapaian misi dan tujuan organisasi akan menjadi lebih baik dan karenanya memupuk keyakinan yang serupa (58.79% dan 29.15%) bahwa dengan demikian akan membantu mendorong terjadinya transformasi sosial yang dicita-citakan organisasi dalam 5-10 tahun ke depan dengan tingkat penggunaan dan kemajuan teknologi komunikasi saat ini.

Hasil wawancara dan pemetaan jaringan diintegrasikan dalam pemaknaan di bawah ini.

Pemaknaan sementara
Dari data yang dikumpulkan melalui survey dan wawancara, serta melalui peta jaringan, studi ini mencoba memberikan catatan atas pemaknaan terhadap data tersebut sebagai titik pijak refleksi kolektif.

Pertama, batas yang kabur antara developmentalis dan advokasi
Studi ini menemukan ada indikasi batas yang makin kabur dalam klasifikasi CSO di Indonesia, yaitu antara mereka yang berorientasi advokasi dan mereka yang berorientasi developmentalis. Makin banyak kelompok developmentalis yang melakukan kerja-kerja advokasi dan sebaliknya. Maka, sementara di satu sisi pemilahan ini berguna setidaknya di level analitis, dalam level praktis nampaknya perlu cara yang baru agar pergeseran ini bisa direkam dan dimaknai.

Pertanyaan yang mungkin berguna sebagai refleksi:
Mengapa batas ini menjadi kabur? Apa maknanya bagi gerakan sosial di Indonesia? Hal-hal apa yang terkait dengan kaburnya batas ini: ekonomi, sosial, politik? Apakah kaburnya batas ini juga dipengaruhi oleh penggunaan teknologi komunikasi dengan internet –karena perspektif meluas, karena kolaborasi menjadi lebih mungkin, karena gagasan-gagasan global makin dipahami, dll.? Faktor lain apa yang mungkin berpengaruh? Tarikan antara “employment” dan “commitment”?

Kedua, kelompok masyarakat sipil menjadi makin global dan kosmopolit
Temuan sementara ini mengindikasikan berbagai CSO di Indonesia nampaknya makin akrab dengan ide-ide kosmopolitan dan terlibat dalam berbagai isu-isu global, baik dalam tingkat gagasan maupun aktivitas. Makin mudahnya membangun jaringan dan kolaborasi kelompok masyarakat sipil antar negara juga mempermudah terciptanya kepedulian dan keprihatinan bersama. Beberapa pertanyaan mengemuka seputar persoalan identitas CSO: seperti apakah wajah CSO di Indonesia saat ini? Apa yang sungguh membedakan CSO dari aparatus negara dan aparatus bisnis?

Pertanyaan yang mungkin berguna sebagai refleksi:
Faktor apa yang mempengaruhi hal ini secara internal (misal. informasi yang makin tersedia luas, dll.)? Faktor eksternal apa yang mempengaruhi (misal. jaringan dengan donor, partner internasional, dll)? Apakah ada faktor lain yang mempengaruhi?

Ketiga, inovasi dalam gerakan sosial – penggunaan teknologi komunikasi yang sederhana namun strategis
Hampir seluruh CSO yang menjadi responden (97.83%) kini mampu mengakses internet dengan berbagai cara. Mereka juga menyadari pentingnya pengaruh teknologi ini bagi kinerja organisasi. Walau keterbatasan infrastruktur menjadi kendala utama, berbagai CSO di Indonesia mampu memanfaatkan teknologi komunikasi melalui internet ini secara efektif meski terbatas pada jenis-jenis layanan dasar. Studi ini menemukan bahwa e-mail, mailing list dan WWW bisa menjadi alat ampuh untuk mendorong kinerja organisasi/kelompok dan jaringan. Selain itu, sebagai ‘partisipan’ dalam masyarakat informasi, walau terbatas secara infrastruktur, CSO di Indonesia adalah pengguna aktif – mereka tidak hanya mengakses informasi, namun aktif memberikan informasi bagi pihak lain.

Akibatnya, berbagai CSO di Indonesia mampu menggunakan teknologi komunikasi via internet ini untuk bekerja sama dan berkolaborasi, menyampaikan gagasan lebih efektif ke organisasi lain dan kepada publik, membangun jaringan lebih kuat, melakukan kampanye – yang semuanya ini dipandang sebagai penggunaan teknologi yang sederhana, namun strategis bagi perubahan sosial. Beberapa studi kasus yang menarik mencontohkan bagaimana kerja bersama bisa digalang secara efektif melalui komunikasi email yang aktif dalam mailing list yang akhirnya bisa menghasilkan stratagi bersama untuk mendesakkan perubahan pada pengambil keputusan publik (pemerintah), misalnya di bidang pertanian organik, kebebasan informasi, buruh migran, dlsb.

Pertanyaan yang mungkin berguna sebagai refleksi:
Bagaimana penggunaan komunikasi internet di berbagai area strategis ini dimulai? Adakah hal yang baru di sana yang dulunya (sebelum menggunakan komunikasi internet) tidak ada? Apa sumber inspirasinya? Apa kesulitannya? Adakah stratifikasi dalam penggunaan teknologi komunikasi oleh CSO sebagai bagian dari masyarakat informasi?

Keempat, dinamika jaringan – antara persepsi, klaim dan temuan lapangan
Temuan sementara menegaskan bahwa penggunaan teknologi komunikasi mempunyai hubungan erat dengan berkembangnya jaringan CSO, baik jaringan antar CSO di Indonesia, maupun dengan mitra-mitra jaringan/organisasi/ lembaga-lembaga internasional (CSO global).

Dalam berjejaring dengan mitra nasional dan global, nampak jelas bagamana jaringan antar CSO di Indonesia tumbuh dengan pesat dalam empat periode politik di bawah ini.

indocso-net

Sekilas nampaknya yang terlihat adalah tumbuh-berkembangnya jaringan CSO di Indonesia dengan subur, baik di tingkat nasional maupun inernasional. Namun studi ini mendindikasikan bahwa pertumbuhan ini punya makna berbeda, khususnya dalam jaringan internasional dan pemahaman akan peran CSO global dalam transisi demokrasi. Temuan studi ini memberi makna lain secara empirik –setidaknya dalam cakupan jaringan responden—terhadap klaim atau pemahaman yang berkembang secara umum selama ini tentang keterlibatan CSO global dalam transisi demokrasi, yakni bahwa mereka mengambil peran sentral dan penting dalam setiap fasenya.

Secara jelas temuan ini memang menunjukkan adanya peran CSO global, namun peran itu berbeda secara signifikan dari waktu-ke-waktu dalam periode transisi tersebut. Jelasnya, peran CSO global lebih ‘kurang signifikan’ dalam periode dimana rejim otoritarian masih berkuasa (pra-1995) dan dalam periode kaotik dimana perlawanan dibangun dan diwujudkan di lapangan secara intensif dan bahkan berdarah-darah dan tinggi risiko politiknya (1995-1998). Peran itu menjadi ‘lebih signifikan’ ketika rejim otoritarian sudah tidak berkuasa lagi atau dalam periode yang walaupun kaotik dan euforik namun tidak berdarah-darah dan berisiko secara politik (setelah 1998). Tentu klaim ini masih amat dini dan perlu mendapatkan pemaknaan lebih dalam melalui diskusi dalam lokakarya ini.

Pertanyaan yang mungkin berguna sebagai refleksi:
Faktor apa yang menyebabkan jaringan-jaringan itu berkembang? Apa saja hal yang menentukan satu CSO untuk berjaringan atau untuk tidak berjaringan dengan CSO lain: dengan CSO lain di Indonesia, dengan donor, dengan global CSO? Bagaimana jaringan ini terbentuk? Apa peran jaringan ini (baik nasional maupun global) dalam perubahan sosial? Apa implikasi jaringan ini?

Penutup
Studi ini telah mencoba mengumpulkan data empirik dan mengidentifikasi sejauh mana CSO di Indonesia telah menggunakan teknologi informasi. Selain itu, studi ini juga menggali bidang-bidang apa saja, saat ini dan di masa depan, dimana teknologi komunikasi melalui internet bisa dimanfaatkan secara kreatif, cerdik dan strategis untuk membawa agenda perubahan dan perbaikan sosial di Indonesia. Pertemuan ini, dalam kerangka studi ini, mempunyai dua tujuan utama. Pertama, sebagai sarana untuk melakukan validasi –catatan, komentar, koreksi, tambahan, pengurangan, dan lain-lain—atas temuan-temuan dan analisis-analisis yang sudah dikumpulkan sementara ini. Kedua, sebagai ruang untuk melakukan refleksi kolektif terhadap temuan dan validasi tersebut. Jika hal ini tercapai, mungkin inilah sumbangan paling bermakna dari penelitian ini bagi perkembangan sektor masyarakat sipil di Indonesia.

Manchester, awal Pebruari 2006.
Yanuar Nugroho
Peneliti

Referensi

  • Anheier, H. (2003) ‘Measuring Global Civil Society’, in H. Anheier, M. Kaldor and M. Glasius (eds) Global Civil Society Yearbook 2003, pp. 221-30. London: SAGE
  • Anheier, H., M. Glasius, M. Kaldor and F. Holland (2005) Global Civil Society Yearbook 2004-2005. London: SAGE Publications Ltd.
  • Anheier, H. and Katz (2005) ‘Network Approach to Global Civil Society’, in H. Anheier, M. Glasius and M. Kaldor (eds) Global Civil Society Yearbook 2004/5, pp. 206-20. London: SAGE
  • Bird, J. (1999) ‘Indonesia in 1998. The Pot Boils over – A Survey of Asia in 1998′, Asian Survey 39 (1): 27-37
  • Glasius, M., M. Kaldor and H. Anheier (2002) Global Civil Society Yearbook 2002. London: London School of Economics
  • Hadiwinata, B. S. (2003) The Politics of NGOs in Indonesia. Developing Democracy and Managing a Movement. London: Routledge Curzon
  • Ibrahim, R., A. Suryaningati and T. Malik (2003) ‘Indonesia – Background Paper’, paper presented at Asia Pacific Philanthropy Conference (APPC), (5-7 September 2003)
  • Sey, A. and M. Castells (2004) ‘From Media Politics to Networked Politics: The Internet and the Political Process’, in M. Castells (eds) The Network Society: A cross-Cultural Perspective, pp. 363-81. Cheltenham: Edward Elgar
  • Thurlow, C., L. Lengel and A. Tomic (2004) Computer mediated communication: Social interaction and the Internet. London: Sage
  • Uhlin, A. (2000) ‘Towards an Integration of Domestic and Transnational Dimensions of Democratisation. Regime Transition in Indonesia’, paper presented at ECPR Joint Sessions, Workshop 4: Democracy and Development: Theoretical gains and challenges, Copenhagen, Denmark (14-19 April 2000)
  • Wainwright, H. (2005) ‘Civil society, Democracy and Power. Global Connections’, in H. Anheier, M. Glasius and M. Kaldor (eds) Global Civil Society Yearbook 2004/5, pp. 94-121. London: SAGE
  • Warren, C. (2005) ‘Mapping Common Futures: Customary Communities, NGOs and the State in Indonesia’s Reform Era’, Development and Change 36 (1): 49-73.
About these ads
  1. ricky PANAI
    Friday, 9 February 2007 at 4:44 am | #1

    salam kenal, saya dari gorontalo dan tertarik dengan artikel ini, saya sangat-sangat menghargai dan menjujung tinggi atas anda telah menuangkan ide-ide yang kreatif. saya memang mempunyai suatu kelompok informasi, saya mohon petunjuk dari bapak, kira2 saya bisa mendapatkan referensi ini bagaimana? mohon bantuannya.

  2. Friday, 9 February 2007 at 10:07 am | #2

    bung ricky,
    salam kenal juga.

    bisakah diperjelas apa maksud anda dengan “mendapatkan referensi ini”? apakah yang anda maksudkan adalah (1) mendapatkan versi PDF tulisan saya ini, atau (2) mendapatkan semua list referensinya? kalau yang nomor (1), bisa saja. silakan email saya. kalau nomor (2) hampir tidak mungkin. karena itu semua bentuknya buku dan versi cetak jurnal – untuk memfotokopi dan mengirimkannya ke indonesia akan butuh waktu dan uang tidak sedikit. saya menyarankan anda mengeksplorasi via internet. sebagian jurnal-jurnal ini tersedia bebas di sana. selamat berkarya bersama kawan-kawan di gorontalo.

    salam,
    y

  3. Joan Berlin Damanik
    Sunday, 18 February 2007 at 10:20 am | #3

    Kepada Yth:
    Bapak/IbU,
    Dengan Hormat,
    saya sudah membaca tulisan anda, saya ingin menjadikanya jadi sebuah referensi, karena saya sedang melakukan ppenelitian tentang pemahaman nmasyarakant terhada IT. jadi saya saat mengharapkan tuk\lisan ini bapak kirimkan ke email saya.
    Hormat Saya

    Joan Berlin Damanik

  4. hana
    Tuesday, 27 February 2007 at 5:56 am | #4

    yth bpk/ibu,
    Saya Hanna dari jurusan ilmu komunikasi UNHAS Makassar.
    saya sudah membaca tulisan anda,,dan tulisan anda sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas2 saya di mata kuliah Teknologi Komunikasi. Dan itu adalah salah satu mata kuliah yang paling saya sukai, karena dengan adanya mata kuliah ini, banyak hal yang dari tidak tau, saya menjadi banyak tau. Seperti hal nya tulisan ini, saya membacanyA karena tugas saya di mata kuliah saya. Akan tetapi, setelah membaca nya, saya semakin tertarik dgn hal ini.
    mohon bimbingannya ke depan.

    Hormat saya,

    Hanna Juli Adeh Ningrum

  5. Yopie Pribadi
    Saturday, 17 March 2007 at 4:56 am | #5

    Yth. Bpk. Yanuar
    Saya Yopie.. Staf bid. Kependudukan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kota Pontianak. Sebelumnya pernah ditempatkan di Kantor Infokom. Punya interesting yang lumayan banyak terhadap pekembangan TI dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Tulisan bapak, membuka cakrawala pandang saya terhadap implikasi TI. Bagus. Apalagi ke depan, bidang kependudukan dihadapkan dengan permasalahan yang tidak sedikit. Sekarang, bidang kami tengah mempersiapkan penggunaan SIAK yang online, sehingga setiap pddk mempunyai 1 buah Single Identification Number. Terima kasih.

  6. Saturday, 17 March 2007 at 11:25 pm | #6

    mbak hanna

    silakan, dengan senang hati. silakan email ke saya kalau ada pertanyaan.

    salam,
    y

  7. Saturday, 17 March 2007 at 11:27 pm | #7

    pak yopie,

    saya salut atas inisiatif pemda pontianak (kebetulan istri saya orang pontianak dan saya menikah di sana!). jika menurut anda ada yang bisa saya bantu dalam mempersiapkan SIAK ini (tentu dalam keterbatasan waktu dan jarak), silakan menghubungi saya.

    selamat berkarya,
    y

  8. susilastuti
    Friday, 30 March 2007 at 6:33 pm | #8

    saya tertarik dengan tulisan anda. Satu hal yang kayaknya kurang dieksplor dan ini menjadi keprihatinan saya, sejauhmana kemanfaatan riil dari penggunaan teknologi komunikasi bagi pengembangan organisasi? Pernahkah ada evaluasi?
    salam

  9. Tuesday, 10 April 2007 at 12:50 pm | #9

    mbak susilastuti,

    sebenarnya sudah ada banyak sekali kajian tentang kemanfaatan riil penggunaan teknologi komunikasi di (dan bagi pengembangan) organisasi. kalau anda masukkan kata kunci tersebut di http://www.scholar.google.com, akan ada banyak tulisan mengenai hal ini. memang, sayangnya, bukan dalam konteks indonesia.

  10. Friday, 11 May 2007 at 6:35 am | #10

    saya sedang mencari partner kerjsama di bidang internet di seluruh provinsi maupun kabupaten di seluruh indonesia.
    terima Kasih

  11. sukarjono
    Friday, 24 August 2007 at 1:20 am | #11

    Salam, pak saya seorang pustakawan tinggal di Yogyakarta. Saya senang membaca segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi informasi. Setelah membaca tulisan Bapak, semakin mempertebal keyakinan saya bahwa teknologi informasi mempunyai dampak yang sangat kuat terhadap kehidupan masyarakat. Sukses untuk Bapak. Salam

  12. pandhusujarwo
    Tuesday, 4 September 2007 at 10:02 pm | #12

    Salam kenal pak,

    Bagi saya teknologi apapun bukanlah dewa dan segalanya. “Man behind the tools” adalah yang menentukan, apakan teknologi bisa memberikan kemanfaatan atau sebaliknya. Persoalan yang dihadapi oleh CSO Indonesia di era reformasi sekarang ini lebih pada bagaimana membangun sistem akuntabilitas dan transparansi terutama kepada publik sbg target group(bukan kepada donor atau pemerintah). Dan untuk mewujudkan ini tentunya tidak hanya diperlukan tools saja, tetapi juga diperlukan perubahan mindset orang-orang yang ada dalam CSO itu sendiri. Nah dalam kaitan ini, pertanyaan saya adalah apakah penelitian ini juga berusaha menjawab persoalan ini dan bagaimana hasilnya? sejauhmana utilisasi TI bisa menjadi faktor pendorong perubahan mindset ini? sekaligus bagaimana prospeknya dalam membangun sistem akuntabilitas dan transparansi CSO kepada publik menjadi lebih baik ?

    Salam

  13. Tuesday, 4 September 2007 at 10:13 pm | #13

    mas sumantri,

    tkasih atas ‘iklan’-nya. saya tidak tahu banyak partner komersial (meski saya yakin jumlahnya banyak). tetapi untuk partner non komersial dari kalangan masyarakat sipil dan universitas, saya kira banyak sekali.

    yang sebaiknya dipikirkan: orientasi pengembangan teknologi. apakah dengan platform tertutup (proprietary) atau terbuka (open source). dan saya pribadi memilih yang kedua.

    salam,
    y

  14. Tuesday, 4 September 2007 at 10:14 pm | #14

    pak sukarjono,

    sami-sami .. :-)

    atur taklim,
    y

  15. Tuesday, 4 September 2007 at 10:24 pm | #15

    mas pandhu sujarwo,

    saya setuju sepenuhnya dengan anda. teknologi memang bukan (dan tak akan menjadi) dewa. apalagi bagi CSO :-)

    perubahan mindset memang mendasar. dan tak hanya di pemerintah atau bisnis, di CSO pun perubahan mindset ini menjadi makin mendesak — karena soal akuntabilitas dan transparansi (seperti yang anda sampaikan). jika dan hanya jika CSO akuntabel pada konstituennya (masyarakat/kelompok dampingan), dia punya alasan untuk ada.

    dalam riset, pusat kajian saya adalah bagaimana teknologi mempengaruhi kinerja CSO dalam rangka demokratisasi dan perluasan partisipasi publik. namun pengaruh penggunaan teknologi informasi dalam kinerja internal juga terlihat. ada beberapa data menarik (saya akan publikasikan di blog ini begitu thesis saya di-submit) tentang hal ini. misalnya, ternyata budaya organisasi CSO sering tidak ‘kompatibel’ dengan budaya keterbukaan/transparansi yang dibawa teknologi. ini kan ironis. banyak lagi yang lain. tanpa mencoba mengobral janji, nanti saya coba ceritakan. kini saya mau kembali “bertapa” — mengejar deadline penyusunan thesis saya .. :-)

    senang berkenalan dengan anda,
    y

  16. pandhu sujarwo
    Friday, 14 September 2007 at 1:55 pm | #16

    Salam pak,
    Terus terang saya punya minat untuk meneliti lebih lanjut tentang budaya organisasi kaitannya dengan utilisasi IT khususnya yang berkaitan dengan pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat (entah itu e-government atau ICT CSO).

    Tesis saya adalah ada kesenjangan antara budaya organisasi dengan kharakteristik IT sehingga menyebabkan utilisasi IT tidak maksimal. Kesenjangan itu dijelaskan dengan munculnya fenomena budaya organisasi, kalau boleh saya sebut sebagai “inertia birokrasi” atau “inertia CSO” terhadap utilisasi IT. Kharakteristik IT sebagaimana kita ketahui menghendaki transparansi, trust, akuntabilitas, on-time yang tinggi. Disisi lain budaya organisasi untuk bersikap terbuka, menjaga trust, akuntabel, dan on-time belum terlembagakan. Ini membuat pelaku-pelaku dalam birokrasi atau CSO phobi atau mengidap inertia untuk menggunakan IT untuk kepentingan2 membangun keterbukaan, trust, akuntabilitas dan memberikan layanan yang terbaik. Akibatnya, ranah utilisasi IT untuk kepentingan ini jarang tersentuh oleh institusi pemerintah maupun CSO. Alhasil, pendalaman utilisasi IT untuk kepentingan social movement menjadi masih sangat dangkal. Ini misalnya ditunjukkan dari utilisasi IT (e-government maupun CSO di beberapa wilayah di Indonesia) yang masih hanya sebatas untuk browsing, email, promosi, etc.

    Ini masih sekedar tesis saya lho pak. Nah, karena pak Yan sudah melakukan riset (dalam skala luas lagi), maka yang ingin saya tanyakan adalah apakah dari hasil penelitiannya pak Yan menemukan informasi yang mirip dengan tesisi saya ini ?

    Senang berdiskusi dengan bapak,

    Salam

  17. linkqi
    Sunday, 23 September 2007 at 3:07 pm | #17

    Yth.Bpk.Yanuar
    Saya salah satu mahasiswi di Jurusan Ilmu Politik UGM. saat ini saya sangat tertarik untuk menulis “Pengaruh dari tekhnologi Informasi dalam perubahan sosial-politik” (masih dalam judul besar ),mungkin bisa dibantu untuk lebih mengerucutkanya agar menjadi sesuatu yang tidak ‘basi’ bagi orang lain ( pembaca ). siapa tahu ini bisa m’jadi inspirasi judul tesis saya nanti. Kalau referensi bahasa indonesia yg bisa diandalkan,kira2 bukunya siapa ya?
    Trimakasih yg tak t’hingga atas ilmunya..

  18. Saturday, 10 November 2007 at 1:25 am | #18

    mas pandhu sujarwo, maaf sangat terlambat membalas karena saya baru “cuti” menulis .. :-)

    iya. saya juga menemukan temuan yang serupa seperti yang ada (hipo)tesiskan. mungkinkah ini cuma di indonesia? saya ingin melihat di negara lain juga .. :)

    salam,
    y

  19. Saturday, 10 November 2007 at 1:28 am | #19

    mbak linkqi,
    salam kenal dan terima kasih membaca posting ini.

    apa anda kesulitan memahami referensi bahasa inggris? atau kebutuhan bahasa indonesia ini untuk memberikan konteks? saya belum menemukan buku yang berbahasa indonesia (kecuali ada yang mau menterjemahkan thesis saya!). tapi coba email saya dalam 1-2 bulan dan saya akan coba lihat apakah ada perkembangan/informasi baru ..

    salam,
    y

  20. Rahayu Widi
    Tuesday, 22 January 2008 at 9:17 am | #20

    Halo bpk Yanuar salam kenal yah, saya ayu yang sedang kuliah di jurusan FIKOM PR. Saya sudah membaca tulisan bapak dan saat ini saya sedang mengerjakan tugas dengan judul “Pengaruh Internet di Indonesia dalam bidang sosial politik, ekonomi dan budaya. Bisakah tulisan bapak ini saya jadikan referensi?

  21. JT
    Friday, 25 January 2008 at 2:25 pm | #21

    Wah…menarik tulisan ini nih….kapan2 kalo ada waktu tolong kunjungi Komunitas Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia (www.fasilitator-masyarakat.org)……..

    Tks

  22. soekartawi
    Friday, 8 February 2008 at 10:04 pm | #22

    KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENUJU TERWUJUDNYA KNOWLEDGE BASED SOCIETY*

    Oleh: Soekartawi**
    (soekartawi@yahoo.com)

    ABSTRAK

    Pemerintah telah bertekat untuk mensukeskan pembangunan nasionalnya agar pada tahun 2025 nanti masyarakat Indonesia tergolong sebagai masyarakat yang berbasis pengetahuan (knowledge based-society atau KBS). Masyarakat yang demikian dicirikan oleh masyarakat yang menyadari akan kegunaan dan manfaat informasi. Dalam KBS masyarakat telah memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengakses dan memanfaatkan informasi serta menjadikan informasi sebagai nilai tambah dalam peningkatan kualitas kehidupan’.
    KBS semakin diperlukan karena hal-hal sbb: (a). Semakin besarnya permintaan tenaga kerja terdidik (skill workers) yang menuntut adanya pendidikan sepanjang hayat. (b). Semakin besarnya pemanfaatan ICT yang berdampak pada proses produksi (proses produksi yang cepat, biaya produksi yang murah, diperlukan skill workers yang ICT-literate). (c). Semakin besarnya tuntutan wawasan global untuk mengetahui perkembangan ekonomi dunia (perdagangan, investasi asing, knowledge transfer). (d). Semakin besarnya kerjasama internasional dan karenanya sangat dibutuhkan network yang berskala internasional, dan (e). Semakin pentingnya R&D dan kegiatan lain yang melahirkan inovasi.
    Peran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam ikut mewujudkan KBS telah dicanangkan dalam Visi dan Rencana Strategis (Renstra) Pendidikan Nasional dengan program yang dinamakan tiga pilar pembangunan pendidikan nasional. Visi Depdiknas adalah ’terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah’. Sementara tiga pilar pembangunan pendidikan nasional adalah (a). Pemerataan dan perluasan akses pendidikan; (b). Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing keluaran pendidikan; dan (c). Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan.
    Bila cita-cita menuju KBS ini dapat diwujudkan, maka tujuan pembangunan seperti yang diamanatkan dalam UUD-1945 yaitu ’mencerdaskan bangsa’ akan semakin dapat dicapai. Karena itulah maka kebijakan menuju KBS ini adalah (a). Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (b). Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (c). Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; (d). Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan (e). Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Namun demikian masih banyak kendala yang harus diperhatikan dan diselesaikan dalam menuju KBS ini yaitu, antara lain kendala yang berkaitan dengan (a). Konektivitas, dimana tidak semua daerah Indonesia terkoneksi dengan audio, video, komputer dan web-based technology; (b).Tersedianya SDM menguasai teknologi tersebut, (c). Isi pembelajaran yang digunakan, dan (d). Tersedianya kebijakan yang mendukung upaya-upaya menuju KBS.

    Kata Kunci: Kebijakan Pemerintah, ICT dan Knowledge Based Society.
    —————————————

    *Makalah Undangan (Invited Paper) disampaikan pada Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) 2008 yang diseleggarakan oleh Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tanggal 14-15 Januari 2008.
    **Guru Besar Universitas Brawijaya Malang yang kini ditugaskan di Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

  23. kiki
    Thursday, 28 February 2008 at 5:09 am | #23

    Salam Pak,
    Pak saya kiki, saya mahasiswi pasca yg sedang proses pengajuan tesis. saya tertarik ttg pengaruh ICT terhadap dunia pendidikan. saya sudah membaca artikel bapak. dan apabila berkenan bpk dapat mengirimkan artikel lengkap nya untuk digunakan sebagai refrensi. atau mungkin bpk juga dapat memberi saya ide tentang topik untuk penulisan saya. terimakasih

  24. rales sukma
    Thursday, 8 May 2008 at 4:32 am | #24

    aslkm pak yanuar.

    kemaren saya telah mengirimkan email kepada bapak tentang keinginan saya untuk mendapatkan tulisan bapak ini versi pdf.

    apa yang harus saya lakukan lagi pak?

    rales sukma
    mhs msi ilmu ekonomi manajemen
    ugm jogja
    bimbingan tesis pak hargo utomo

  25. Thursday, 8 May 2008 at 8:02 am | #25

    rales sukma,
    1. saya tidak menerima email anda. anda kirim kemana? gunakan email alternatif saya yanuar_DOT_nugroho_AT_gmail_DOT_com
    2. download PDF? lihat di bagian judul artikel di atas.
    salam,
    y

  26. Thursday, 8 May 2008 at 8:04 am | #26

    kiki,
    coba lihat di bagian publikasi (pub) saya. ada beberapa artikel di situ. mungkin ada yang menarik anda?
    y

  27. wulan
    Wednesday, 11 June 2008 at 8:19 am | #27

    tulisanmnya sangat menarik, jadi mohon maaf saya terpaksa mengutipnya untuk keperluar tugas mata kuliah saya terima kasih.

  28. Saturday, 16 January 2010 at 9:49 am | #28

    Terimakasih tulisan dan informasinya. Kunjungi juga semua tentang Pakpak di GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  29. Henri Sinurat
    Monday, 25 January 2010 at 7:20 am | #29

    Saya Henri mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Komputer Indonesia Bandung. Terimakasih karya nya Pak, tulisan ini membukakan pintu pola pikir saya terhadap konsep E-Goverment di Indonesia.Semoga ini dapat melebarkan wacana saya.

    walau jauh, senang berkawan dengan Anda.

  30. Tommy Wijaya
    Tuesday, 16 March 2010 at 10:17 am | #30

    saya sangat bersyukur bisa membaca artikel ini.
    sebagai mahasiswa S1 jurusan Teknologi Informasi, hal ini merupakan hal yang lebih dari sekedar menarik untuk dijadikan penjabaran tema dari Skripsi saya.
    tapi tema saya berbeda,yaitu solusi kemiskinan Indonesia dilihat dari sudut pandang TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

    tp sebelumnya bisa minta email bapak?
    sehingga kalau ada hal yang kurang jelas, bisa ditanyakan lebih lanjut.
    atau saya membutuhkan cara pandang yang berbeda bapak Yanuar berkenan untuk membantu menjelaskan.
    Saya ucapkan banyak terima kasih.

  31. Tuesday, 5 October 2010 at 5:31 am | #31

    terima kasih artikel nya…
    kunjungi juga blog saya blog myun

  32. Wednesday, 25 January 2012 at 2:37 pm | #32

    niche for share gan , terima kasih

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: